Kualifikasi dan Kompetensi Guru di Jakarta

DKI Jakarta, ibu kota negara yang seperti kejatuhan pulung. Kota besar ini memiliki banyak tuntutan untuk menjadi kota yang serba sempurna. Harus menjadi kota yang lebih lengkap fasilitas umumnya, menjadi kota yang layak dikunjungi oleh tamu-tamu negara, termasuk tuntutan urusan kualitas pendidikan. Jakarta juga dikehendaki sebagai barometer sistem pendidikan di Indonesia. Mampukah Jakarta mengemban tuntutan ini?

Karena berdasarkan catatan data dari Depdiknas, sebagian guru SD dan SMP di DKI Jakarta masih belum berijazah S-1. Dari 23.938 guru SD (PNS) di DKI Jakarta, yang berijazah S-1 baru 4.568 orang, tak lebih dari 20%. Sedangkan dari 10.442 guru SMP (PNS), hanya 6.912 orang bergelar sarjana. Sementara itu, menurut Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kualifikasi guru di Indonesia minimal mengantongi ijazah sarjana.

Lulus sarjana juga menjadi prasyarat bagi perolehan sertifikasi profesi guru yang sedianya akan diberikan pada tahun 2007 ini. Prasyarat sertifikasi guru dan dosen memberikan implikasi yang menasional. Tak sedikit dari para guru mendaftar ke perguruan-perguruan tinggi. Tapi tak banyak dari mereka yang mampu merogoh koceknya sendiri untuk biaya kuliah. Pemda pun tak tinggal diam. Program-program bantuan diluncurkan untuk mendongkrak mutu pendidikan di daerahnya masing-masing.

Pemerintah DKI Jakarta melalui dana APBD telah mengucurkan Tunjangan Peningkatan Penghasilan (TPP) bagi guru sebesar Rp 2,5 juta per orang setiap bulannya mulai Januari 2007. TPP ini didedikasikan kepada para guru PNS se-DKI Jakarta. Dan demi kelancaran operasional di sekolah, DKI Jakarta juga memberikan Bantuan Operasional Pendidikan kepada seluruh sekolah se-DKI Jakarta. Salah satunya adalah bantuan yang diberikan kepada para siswa sekolah senilai Rp 50.000,- per orang setiap bulannya. Dana ini diasumsikan berasal dari nilai APBD DKI Jakarta. Untuk tahun 2007, APBD DKI Jakarta bertambah menjadi 21 triliun. Sejumlah 22,2 persennya atau sekitar 4,6 triliun dialokasikan untuk peningkatan kualitas pendidikan. Jumlah ini melampaui kriteria kontribusi daerah yang telah ditetapkan sebesar 20% dari APBD nya. Dari data tersebut, DKI Jakarta telah mampu memberikan kontribusi terbaiknya untuk pengembangan bidang pendidikan.

 

Potret Sebuah Sekolah Favorit di Jakarta: Model Kemandirian Peningkatan Mutu Guru

Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil tahun 2007, DKI Jakarta berpenduduk sekitar 9 juta jiwa. Masyarakat yang hidup di dalamnya juga terdiri dari berbagai golongan ekonomi. Keberagaman ini juga mendukung makin senjangnya kualitas pendidikan bagi kalangan menengah keatas, dibandingkan dengan kalangan menengah ke bawah. Pendidikan yang terbaik, biasanya juga membutuhkan biaya yang juga tidak murah.

Tercatat ada 2.558 sekolah TK, SDN, dan SMPN di DKI Jakarta. Tidak sampai 10% nya merupakan sekolah-sekolah favorit. Salah satu diantaranya adalah SDN Menteng 01 Pagi atau yang lebih dikenal dengan sebutan SDN Besuki 01 Pagi. Mengingat sekolah ini memang terletak di Jalan Besuki No.4 Menteng, Jakarta Pusat.

Sekolah ini menempati gedung tua yang didirikan Belanda tahun 1934. Namun kemudian, Belanda menyerahkan bangunan ini kepada pemerintah RI pada tahun 1962. Kondisi bangunannya hingga kini masih terawat dengan sangat baik. Gedung dengan luas bangunan 1900m² ini, berdiri diatas tanah seluas 2300m². Keasliannya masih dipertahankan karena bangunan ini termasuk sebagai salah satu peninggalan bersejarah yang dilindungi pemda DKI Jakarta.

Sejak bangunan ini didirikan 73 tahun yang lalu hingga sekarang, fungsinya masih sama. Tetap digunakan sebagai gedung sekolah. “Berdasarkan kisah-kisah yang kami terima, sekolah ini dulunya adalah sekolah bagi anak-anak Belanda. Kalaupun pada jaman itu ada bangsa pribumi yang bersekolah di sini, mereka pasti keturunan bangsawan,” ungkap Kuwadiyanto, Kepala Sekolah SDN Menteng 01 Pagi.

Kini, kegiatan belajar mengajar juga masih berjalan di tempat yang sama. Sejak tanggal 9 Agustus 2000, berdasarkan SK Gubernur Jakarta No. 2073/2000, sekolah ini ditetapkan sebagai SDN Percontohan di DKI Jakarta. Dari sisi prestasi, sekolah ini juga patut diacungkan jempol. Menurut data yang kami peroleh dari tahun 2002 hingga 2007 sekarang, tak kurang dari 100 event perlombaan akademik dan non akademik yang berhasil dijuarai sekolah ini. Murid-muridnya kerap meraih prestasi sebagai juara Lomba Mata Pelajaran mulai dari tingkat kecamatan, kotamadya, provinsi DKI Jakarta, hingga ke tingkat nasional.

Dunia internasional melalui kacamata SEAMEO (South East Asia Ministry of Education Organization) juga melirik potensi sekolah ini. Sejak tahun 2002, SDN Menteng 01 Pagi dipilih menjadi SD Koalisi Regional oleh SEAMEO. Keputusan ini adalah realisasi program dari salah satu kesepakatan yang dihasilkan dari pertemuan 12 menteri se- Asia Tenggara di Bangkok, Thailand. Disebutkan bahwa setiap anggota SEAMEO diminta utk mendirikan sekolah koalisi. Sekolah ini akan bergabung dengan sekolah lainnya yang setara di negara-negara anggota SEAMEO.

Lahirnya Sekolah Koalisi Regional, dilatarbelakangi komitmen SEAMEO yang tinggi untuk meningkatkan mutu dan persamaan perlakuan terhadap akses maupun pelayanan pendidikan. Hal ini sangat berkaitan erat dengan pelaksanaan program wajib belajar 9 tahun.

Sebagai sekolah koalisi regional, SDN Menteng 01 Pagi jadi punya nama yang cukup populer di Asia Tenggara. Sekolah koalisi sedianya memang akan dikembangkan menjadi sekolah yang bertaraf internasional. Kredibilitas SDN Menteng 01 Pagi sebagai sekolah favorit pun menjadi makin tak terhindarkan.

Sebagai Sekolah Koalisi regional, ada beban tersendiri yang diemban para guru yang mengajar di sekolah ini. “Memang tak ada standar baku dan target-target yang dipatok oleh pihak SEAMEO kepada sekolah ini sebagai sekolah koalisi regional. Namun, kami cukup paham dan selalu berusaha untuk tingkatkan mutu para guru dan metode pembelajaran disini. Kami sering kontak dengan Regional Centre of Education for Science And Mathematics (RECSAM) di Pulau Pinang, Malaysia. Dan juga sudah mengirimkan guru kami untuk mengikuti pembinaan di sana,” ungkap Kuwadiyanto.

SEAMEO memang menyediakan pembinaan untuk guru-guru khusus sekolah koalisi regional dari negara-negara anggotanya. Bertempat di RECSAM, Malaysia para guru memperdalam metode pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Bahasa pengantarnya pun menggunakan bahasa Inggris. Agar kelak, metode pembelajaran ini pun dapat diterapkan dengan menggunakan bahasa Inggris di sekolah-sekolah koalisi regional.

Sejauh ini, SDN Menteng 01 Pagi yang kini memiliki murid sebanyak 474 orang, telah menerapkan sistem pembelajaran bilingual untuk beberapa mata pelajarannya. Dari penuturan Kuwadiyanto, sistem pembelajaran bilingual khusus untuk mata pelajaran IPA dan Matematika telah diberikan kepada murid kelas IV, V, dan VI. Sementara itu tahap pengenalannya, juga telah mulai diberikan kepada murid-murid kelas I, II, dan III. Agar sistem pembelajaran lebih lancar, maka sejak tahun 2005 lalu, SDN Menteng 01 Pagi telah menyelenggarakan pengenalan bahasa Inggris mulai kelas I s/d kelas IV. “Beberapa tahun yang lalu, di sekolah ini malah pernah punya English Day,” ucap Ahmad Solikhin, Wakil Kepala Sekolah SDN Menteng 01 Pagi.

Berupaya menjadi garda depan di soal kualitas, membuat sekolah ini senantiasa memahami kekuatan sumber dayanya sendiri. Sekolah favorit ini mendorong kerja maksimal para tenaga pengajar dan karyawannya yang seluruhnya berjumlah 34 orang. “Membangun etos kerja, itu lebih penting. Kerja di sini, bukan hanya mengikuti instruksi atasan,” ujar Ahmad Solikhin dengan tegas.

Menyandang popularitas sebagai sekolah berkualitas terbaik di Jakarta Pusat ternyata menuntut banyak kesiapan. Baik dari segi materi, mental, maupun mutu program pembelajaran. Secara internal, pembinaan dan evaluasi terus menerus dilakukan. Sekolah ini melaksanakan program peningkatan mutu untuk tenaga pendidiknya. Program ini dilakukan berdasarkan data kebutuhan yang didapat dari hasil evaluasi pembelajaran dalam rapat bulanan sekolah.

Kuwadiyanto yang pernah meraih prestasi sebagai Juara I Guru Teladan se-DKI Jakarta dan se-Kotamadya Jakarta Pusat tahun 1996 dan 1999, menyatakan, “Program up grading teacher ini diselenggarakan setiap hari Jumat untuk tiap minggunya. Di dalamnya ada sesi Belajar (untuk) Mengajar. Walaupun sudah 15 tahun menjadi guru, tapi kami di sini tetap harus belajar untuk bisa mengajar dengan baik dan benar. Kami juga pernah mengundang nara sumber berkompeten untuk datang dan memberi materi ajarnya kepada para guru di sini.”

Berdasarkan data yang diperoleh, didapati bahwa beberapa di antara tenaga pendidiknya yang kini berjumlah 26 orang telah mengikuti beberapa program peningkatan mutu. Baik yang diadakan se-Jabodetabek, tingkat provinsi, nasional, sampai pada tingkat regional (se-Asia Tenggara). Terhitung telah ada 39 acara seminar, lokakarya, pelatihan, workshop, dan pembinaan yang diikuti sepanjang tahun 2005 hingga sekarang.

Pembinaan sumber daya pendidikan, dilakukan terhadap kepala sekolah dan para guru. Sayangnya, keterlibatan Kelompok Kerja Guru (KKG) di Kecamatan Menteng dianggap “jalan ditempat” oleh Ahmad Solikhin. “Tampaknya tidak terlalu terprogram. Bahkan yang terakhir, kegiatan KKG dilaksanakan pada bulan November 2006 lalu,” aku Solikhin. Pemberdayaan KKG di daerahnya belum maksimal. Padahal menurut tupoksinya, KKG berperan dalam peningkatan mutu para guru dalam wilayah per kecamatan. Jika kondisi KKG menjadi sangat memprihatinkan, maka mau tak mau pihak sekolah harus segera cari jalan keluar untuk selesaikan masalahnya. SDN Menteng 01 Pagi pun tak jarang melakukan upaya-upaya mandiri.

Di sisi lain, sesungguhnya Dinas Pendidikan Dasar (Dikdas) DKI Jakarta juga turun tangan dalam pembinaan sekolah-sekolah percontohan. Terminnya rutin 2 bulan satu kali. Biasanya dilakukan dalam bentuk workshop/seminar. Pematerinya adalah petugas dari Dikdas DKI Jakarta, atau salah satu guru/kepala sekolah yang memang punya kompetensi dan wawasan baru untuk menularkannya kepada peserta lain.

Dikdas DKI Jakarta juga meluncurkan salah satu program pembinaan guru SD melalui Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Program ini adalah program yang ditujukan kepada para guru, dan merupakan hasil kerja sama Dikdas DKI Jakarta dengan Universitas Negeri Jakarta.

PMRI merupakan sebuah teori pembelajaran matematika realistik yang diadaptasi dari teori Realistic Mathematics Education (RME) yang dikembangkan di Belanda oleh Hans Freudental sejak awal tahun 1970-an. Program ini hanya diperuntukkan bagi guru-guru sekolah-sekolah dasar. Di Indonesia, RME dikembangkan pada sebuah unit kerja yang disebut Institut Pengembangan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (IP-PMRI). Teori pembelajaran ini, menambah daftar keluasan wawasan pengetahuan dan kompetensi para guru di SDN Menteng 01 pagi.

Mengenai kompetensi pendidik, bisa dikatakan untuk menjadi tenaga pendidik di sekolah ini harus termasuk sebagai orang-orang yang lulus seleksi. Kuwadiyanto mengungkapkan, “Kecuali untuk guru-guru status PNS, seleksinya sudah dari pemerintah. Tapi kalau datangnya dari kebutuhan sekolah ini sendiri, maka kami akan merekrut tenaga pengajar dan menyeleksinya secara internal.”

Kualifikasi calon pendidik yang direkrut adalah tenaga pendidik yang lulus dari program sarjana kependidikan dan telah memiliki pengalaman mengajar. Walaupun begitu, selepas lulus seleksi internal, para guru yang berstatus Pegawai Tidak Tetap (PTT) dan guru honorer ini tetap diberikan program pendampingan selama 3 bulan. Dalam kurun waktu 3 bulan itu, kinerjanya akan diamati dan dievaluasi. Jika telah terbukti mampu mengatasi berbagai studi kasus dalam pembelajaran, maka calon guru ini diterima sebagai guru di SDN menteng 01 Pagi.

Secara keseluruhan, guru-guru di sekolah ini telah berupaya maksimal untuk memperoleh tingkat kualifikasi sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam UU Sisdiknas No. 14, tentang kualifikasi minimal bagi tenaga pendidik. Terbukti dari 26 orang guru disana, telah ada 8 orang guru yang lulus jenjang pendidikan S1, 3 orang yang lulus S2, 1 orang lulusan S3, dan seluruh sisanya sedang dalam proses perkuliahan untuk peroleh gelar sarjana (S1). Diharapkan, melalui guru-guru yang berkualitas ini, akan lahir mutu-mutu lulusan yang juga unggul. Tercatat untuk tahun akademik 1998/1999 hingga tahun akademik 2005/2006, nilai rata-rata NEM para lulusannya berkisar antara 7,15 sampai dengan 8, 33.

Keunggulan sekolah, tak hanya dari prestasi murid dan kualitas guru-gurunya. Ada peranan yang juga unggul di dalamnya. Keterlibatan Komite Sekolah di SDN Menteng 01 Pagi dipandang telah memberi kontribusi yang cukup signifikan bagi perkembangan mutu pendidikan di sekolah yang bersangkutan. Selain karena pendapatan para orangtua muridnya yang berada pada golongan ekonomi menengah ke atas, kemajuan-kemajuan sekolah juga didukung oleh latar belakang pendidikan para orang tua murid.

Menurut data sekolah, kondisi pendapatan orang tua murid perbulannya dimulai dari rentangan angka di bawah Rp 2,5 juta sampai dengan di atas Rp 15 juta. Dengan presentase terbanyak berada dalam kisaran angka Rp 2,5 juta s/d Rp 5 juta. “Profesi para orang tua murid disini, kebanyakan sebagai pengusaha dan pekerja swasta,”tutur kuwadiyanto.

Ia pun menyatakan bahwa dengan profesi tersebut, banyak di kalangan orang tua muridnya berlatar belakang pendidikan di perguruan tinggi. Terdata, pada tahun ini ada 99, 25% atau sebanyak 449 orang tua murid yang berada di golongan tersebut. “Ini membawa pengaruh yang juga positif untuk sekolah kami. Kami sangat beruntung memiliki para pengurus Komite Sekolah yang sangat memahami dunia pendidikan,” ucapnya seraya berterima kasih.

Sekolah ini memang termasuk sebagai salah satu dari 13 SDN unggulan se-DKI Jakarta, yang masih dapat memungut iuran dari masyarakat maupun dari wali murid.

“Di sekolah ini, cuma ada Sumbangan Rutin Bulanan. Itu pun sifatnya subsidi silang,” kata Solikhin. Kontribusi Sumbangan Rutin Bulanan terhadap sekolah ini juga tak sedikit. Walaupun jumlahnya perbulan dimulai dari jumlah sebesar Rp 145.000,- namun banyak kegiatan-kegiatan akademik dan non akademik yang menerima manfaatnya.

Para orang tua murid pun tidak banyak mempersoalkan karena laporan-laporan pertanggungjawaban keuangan di sekolah ini cukup transparan. Efek paling positifnya yaitu kegiatan akademik dan non akademiknya juga banyak didukung oleh Komite Sekolah. Bahkan pada bulan April 2007 lalu, sekolah ini dapat memberangkatkan 14 orang muridnya dan 2 orang gurunya ke Perth, Australia. Semua biayanya ditanggung secara mandiri oleh para orang tua murid yang bersangkutan serta bantuan dana dari Komite Sekolah. Selama di Perth, Australia mereka melakukan kegiatan studi banding. Yakni, berkunjung ke sebuah sekolah dasar selama 10 hari. Murid-murid SDN Menteng 01 pagi mengikuti kegiatan belajar di kelas, sedangkan para gurunya juga banyak mengamati sistem pembelajaran disana. Tak ada hambatan yang cukup berarti selama mereka menjalankan kegiatan tersebut.

Dari gambaran di atas, tampaknya mereka mampu memperlihatkan bahwa kendala bisa teratasi jika semua pihak dapat memberi dukungan yang sangat berarti untuk kemajuan sekolah. Maka, wajar jika banyak orang tua yang memilih SDN Menteng 01 Pagi sebagai sekolah bagi anak-anaknya. “Karena kami melihat, sekolah ini punya banyak prestasi. Metode belajarnya juga lebih unggul daripada SD negeri yang regular. Guru-gurunya berkualitas. Dan yang paling penting, anak saya mendapatkan kemajuan belajarnya di sini,” tutur Novi, salah seorang orang tua murid sekolah ini.

Ini hanya sekedar potret. Kemandirian sekolah ini dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di sekolahnya, layak jadi contoh. Walau potretnya terlihat “bagus”, namun bukan untuk menutupi segala macam kendala. Karena masih ada sekolah-sekolah lain di Jakarta yang kondisinya tak sebaik SDN Menteng 01 Pagi.

Peningkatan Mutu Guru di Jakarta

Menciptakan mutu pendidikan yang lebih baik, nampaknya tak dipandang sebagai jalan yang mudah untuk ditempuh. Butuh banyak pengorbanan dan keterlibatan berbagai pihak. Para murid dan orang tua murid, guru dan kepala sekolah, pemerintah daerah dan pusat, keterlibatan pihak donator, serta sumbang saran dari para pakar pendidikan di Indonesia. Karena bagaimana pun, pendidikan di Indonesia adalah desain besar bangsa. Akibatnya, para guru tertuntut untuk melahirkan generasi yang bermutu. Hingga akhirnya, peta peningkatan mutu pendidikan pun tertuju pada guru.

Berdasarkan Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Bab IV Kualifikasi dan Kompetensi, Pasal 6 menyebutkan bahwa guru dan dosen wajib memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran yang sehat jasmani dan rohani, memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, serta memiliki sertifikat profesi. Persyaratan keikutsertaan untuk memperoleh sertifikasi profesi, dijelaskan lebih jauh dalam Pasal 7 ayat (1) yang berbunyi: Kualifikasi akademik guru diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana (S1) atau program diploma empat (D4).

Indonesia punya 2.783.321 orang guru yang menantikan perolehan sertifikasi profesi. Untuk wilayah DKI Jakarta sendiri, ada sekitar 35.000 orang guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) di tingkat pendidikan dasar. Dari jumlah itu, berdasarkan data Dikdas DKI Jakarta untuk kualifikasi guru per Desember 2004, didapati sebanyak 22.929 orang guru yang memiliki latar belakang pendidikan non sarjana. Hal ini cukup memprihatinkan.

Terhadap keadaan tersebut, Dikdas DKI Jakarta telah menyatakan salah satu komitmen kerjanya, yaitu memelihara kualitas pendidikan dasar dengan memprioritaskan program peningkatan pendidikan guru SD dan SMP. Kondisi ini pula yang mendorong Dinas Pendidikan Dasar DKI Jakarta untuk segera melakukan peningkatan kualifikasi guru di wilayahnya. Dengan dukungan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Universitas Terbuka (UT), program peningkatan kualifikasi ini mulai dijalankan.

“Kami menjalin kerjasama dengan UNJ dan UT. Karena di UNJ jelas banyak pakar pendidikan di sana. Kami harapkan para guru lulusan dari sana bisa menghasilkan kompetensi yang terbaik. Kerjasama kami dengan UT, menggunakan sistem buy one get one. Membiayai kuliah 1 orang guru, bisa untuk menyekolahkan 2 orang guru. Program ini sudah berjalan 2 tahun,” ungkap Hj. Sylviana Murni, SH. Msi, Kepala Dinas Pendidikan Dasar Provinsi DKI Jakarta.

Sejak Tahun Anggaran 2005 yang lalu, Pemda DKI Jakarta melalui Dinas Dikdas DKI Jakarta mengadakan program peningkatan kualifikasi D2 ke S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) untuk 360 orang guru. Dengan perincian sumber anggaran : 240 orang guru didanai APBD murni dan 120 orang guru didanai APBN. Program ini juga diberikan kepada 160 orang guru SMP dengan kualifikasi D3 untuk S1 bidang studi.

Tahun Anggaran 2006, kembali dilakukan program peningkatan kualifikasi guru. Jumlah sasaran bertambah menjadi 600 orang guru SD dengan perincian sumber dana: 360 orang guru didanai APBD, dan 240 orang guru didanai APBN. Sama halnya dengan jumlah sasaran untuk guru SMP, juga bertambah menjadi 600 orang guru.

Pada tahun yang sama, disalurkan pula bantuan dana peningkatan kualifikasi bagi 3.366 orang guru guru yang sedang mengikuti perkuliahan. Jumlahnya sebesar Rp 2.000.000,- perorang.

“Untuk peningkatan kualifikasi guru tahun 2007, terdiri dari kuota tahun 2006 lalu ditambah dengan 300 orang guru SMP bidang studi IPS,” tutur Drs H. Virgana, Kepala sub dinas Tenaga pendidik Dinas Dikdas DKI Jakarta.

Sepanjang dua tahun proses peningkatan kualifikasi guru di bawah kepemimpinan Sylviana Murni, didapati sekitar 1400 dari 36.471 orang guru SD dan SMP se-DKI Jakarta yang telah memperoleh bantuan program peningkatan kualifikasi.

Seiring dengan dijalankannya program-program peningkatan kualifikasi, Dikdas DKI Jakarta juga menyeimbangkan program peningkatan mutu para gurunya dengan melaksanakan program peningkatan kompetensi guru. Sesungguhnya, program peningkatan kompetensi telah mulai dipetakan melalui Uji Kompetensi Guru (UKG).

Banyak guru yang cemas. Jika tak lulus UKG, maka akan dipecat dari profesinya. Sylviana Murni memahami benar kekhawatiran para guru pada waktu UKG pertama kali dilaksanakan di Jakarta. Namun sesungguhnya, hasil UKG ini bukan mempermasalahkan lulus atau tidak. Yang diutamakan adalah pemetaan kualitas dan pembinaan guru di Jakarta.

Program pemetaan ini mulai dilaksanakan tahun 2004 sesuai dengan Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 100 tahun 2004 tentang Uji Kompetensi dan Guru. Program ini merupakan konsep program yang berkelanjutan. Hasil UKG dikategorikan dalam kualitas nilai A, B , atau C. Masing-masing kelompok nilai tersebut, memiliki program arahan berupa diklat lanjutan.

Berdasarkan data dari Sub dinas Tenaga Pendidik Dikdas DKI Jakarta, jumlah peserta UKG SD dan SMP tahun 2004 mencapai 10. 150 orang, tahun 2005 sejumlah 5.000 orang, dan pada tahun 2006 bertambah 500 orang dibanding jumlah peserta tahun 2005. Artinya, pemetaan kompetensi baru mengena pada 20. 650 orang guru SD dan SMP.

Dalam pelaksanaan sistem UKG, peserta yang tidak lulus dalam kesempatan pertama dapat mengikuti UKG pada kesempatan berikutnya. Jika sampai 3 kali tidak dapat dinyatakan lulus, maka peserta ini didiskualifikasi dan dinyatakan tidak cocok menjadi guru. Pekerjaannya pun akan dialihkan ke wilayah administrasi, pustakawan, tenaga Unit Kesehatan Sekolah (UKS), Bimbingan Konseling (BK), atau bidang pekerjaan lainnya kecuali mengajar di kelas.

Bisa dibilang, UKG adalah sebuah pengantar bagi para guru menjelang uji sertifikasi profesi 2007. Materi UKG ini disusun oleh tim perumus standar kompetensi guru DKI Jakarta (kerjasama Dikdas DKI Jakarta dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) se-Jakarta). Materi yang diujikan dalam UKG, antara lain penguasaan bidang studi/akademik. Didalamnya termasuk penguasaan kurikulum, penguasaan materi pelajaran, penguasaan tehnik/metode pembelajaran, dan penguasaan tehnik evaluasi. Selain itu, juga tentang pengelolaan pembelajaran melalui test Kegiatan Belajar Mengajar serta penilaian sikap kerja dan kepribadian melalui psikotest.

Sebenarnya, materi-materi ujinya tak jauh beda dengan apa yang tertera dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Pada BAB IV Kualifikasi dan Kompetensi, Pasal 7 ayat (2), berbunyi: Kompetensi guru sebagai agen pembelajaran meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi guru.

Lebih jauh tentang kompetensi guru, Dikdas DKI Jakarta memberikan kerangka definisinya. Kompetensi paedagogik adalah memahami peserta didik, mampu merancang pembelajaran, melaksanakan, mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran, serta mengembangkan pendidikan baik itu akademik maupun non akademik.

Kompetensi kepribadian, yaitu bahwa guru hendaknya memiliki kepribadian yang mantap dan stabil, dewasa, arif, berwibawa, dan berakhlaq mulia. Didalamnya juga diharapkan tumbuhnya kemandirian guru dalam menjalankan tugas serta senantiasa terbiasa membangun etos kerja. Hingga semua sifat ini memberikan pengaruh positif terhadap kehidupan guru dalam kesehariannya.

Kemampuan guru dalam bersosialisasi, juga termasuk dalam kerangka karakter kompetensi sosial. Guru hendaknya mampu berkomunikasi dan bergaul dengan peserta didik, kolega, dan masyarakat. Melalui kompetensi sosial diharapkan guru dapat meraih simpati, empati, dan keterlibatan masyarakat untuk mendukung dan memajukan pendidikan di wilayah tempatnya mengajar.

Kompetensi yang paling utama adalah kemampuan mengajar dan mendidik, yang juga disebut sebagai kompetensi profesional. Guru sebagai profesi atau bidang pekerjaan yang dijalani, tak dapat hanya menyorot sisi kompensasi material semata. Ada hal-hal yang sepantasnya dipenuhi oleh profesi guru. Diantaranya menguasai bidang studi yang diajarkan, memahami materi, struktur, dan konsep, serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Guru dapat dinilai profesional ketika dia melakukan pengembangan wawasan dan ilmu, mampu menelaah secara kritis, serta kreatif dan inovatif dalam menyampaikan materi ajarnya.

Peningkatan kualitas sumber daya guru di DKI Jakarta adalah salah satu konsekuensi yang diemban kota ini. Dikdas DKI Jakarta pun berjibaku membangun citra guru. Berbagai program peningkatan mutu diluncurkan sesuai dengan misinya untuk meningkatkan profesionalisme sumber daya pendidikan melalui peningkatan kompetensinya. Berbagai pelatihan, diklat, workshop, dan seminar-seminar, telah dilakukan.

Sepanjang kepemimpinan Sylviana Murni (sejak tahun 2004 hingga sekarang), Dikdas DKI Jakarta juga melaksanakan beberapa program kerjasama yang cukup signifikan untuk peningkatan kompetensi guru. Program-program hasil kerjasama tersebut, antara lain:

1. Program pembinaan guru SD melalui Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Program ini adalah program yang ditujukan kepada para guru sekolah dasar dan merupakan hasil kerja sama Dikdas DKI Jakarta dengan Universitas Negeri Jakarta. Program ini bertujuan meningkatkan kompetensi bidang studi matematika bagi para guru sekolah dasar se-Jakarta.

2. Program Pengelolaan Pembelajaran untuk 1000 orang guru, terdiri dari 750 guru SD dan 250 guru SMP. Program ini adalah hasil kerjasama Sampoerna Foundation dengan Dikdas DKI Jakarta. Program rutin tahunan ini bertujuan untuk membina kompetensi guru sebagai pemimpin di kelas, dan kompetensi dalam melakukan supervisi kelas. Tahun 2007 ini, sasaran yang dicapai baru separuh dari total target 22 angkatan. Satu angkatan ada 30 kelompok guru.

3. Program Sensitivity Training. Program ini adalah hasil kerjasama Dikdas DKI Jakarta dengan Departemen Kesehatan. Materi-materi yang diberikan adalah tentang penggalian potensi diri dan penggalian kedewasaan diri. Dan dalam dua tahun penyelenggaraannya sejak tahun 2005, program ini telah diikuti oleh 200 orang guru SD dan SMP se-Jakarta.

4. Program peningkatan kompetensi kepribadian melalui program yang disebut ESQ (Emotional Spiritual Quotient) Leadership Centre atau ESQ PP (Peduli Pendidikan). Dikdas DKI Jakarta bekerja sama dengan Ari Ginanjar (pimpinan ESQ Leadership Centre) dan Sampoerna Foundation. Ada 1000 orang guru SMP yang difasilitasi Dikdas DKI Jakarta untuk mengikuti acara ini. Materi-materi yang diberikan adalah mentally action. Di dalamnya termasuk tentang semangat-semangat religi, bagaimana guru mampu menjaga kestabilan emosi, dan keseimbangan antara emosi dengan rasio.

Sebenarnya, tak semua program kerjasama bisa “lolos” ke meja Dikdas DKI Jakarta. Sylviana Murni sebagai sosok pimpinan, mempunyai beban tanggung jawab terhadap proses dan hasil program-program peningkatan mutu pendidikan. Keterlibatannya dalam penentuan program, tak jarang memposisikan dirinya sebagai peneliti dan tim perumus materi. Sylviana Murni berbagi cerita tentang pengalamannya menangani program kerjasama. Ia tidak mau terima begitu saja tawaran-tawaran kerjasama itu.

“Karena saya pikir, saya harus tahu benar model pendidikan seperti apa yang akan diberikan kepada guru-guru di sini. Jangan-jangan, ada kultur atau budaya lain yang diterapkan tetapi tidak terasa. Sementara itu, guru adalah narasumber pertama dan utama bagi anak-anak. Kalau dari awal sudah disisipi budaya barat misalnya, kemudian ditangkap dan disimpan dalam memori guru, kemudian guru mentransfernya kepada siswa, ini bisa bahaya. Kami harus perhatikan betul-betul bagaimana isi materi mereka. Ternyata saya simpulkan bahwa harus segera dibentuk tim karena saya tahu betul apa yang dibutuhkan guru di DKI Jakarta. Ada classroom supervision, leadership, enjoy full learning, ini yang dibutuhkan oleh guru kita. Setelah tim kecil terbentuk, maka mulai dari jadwal, kriteria peserta, sampai materi-materi dan pematerinya kami periksa. Setelah beres, baru dilaksanakan,” paparnya panjang lebar.

Hasilnya, tak mengecewakan. Berbagai program peningkatan mutu tersebut telah mampu menaikkan citra dan kualitas profesi guru di DKI Jakarta. Secara tak langsung, kesuksesan program peningkatan mutu ini dapat dilihat dari beberapa prestasi akademik yang diraih oleh sekolah-sekolah di DKI Jakarta. Salah satunya, sebut saja nama Dipta Rama dan Stefanny Senna. Siswa SMPN 235 Jakarta dan siswi IPK Penabur Jakarta ini menjuarai International Junior Science Olympiade (IJSO) tahun 2005 dengan predikat The Winner Absolute.

Selain itu, DKI Jakarta pun berhasil meningkatkan jumlah SD dan SMP yang mempunyai kualifikasi sebagai sekolah Percontohan, Sekolah Plus, maupun sekolah Koalisi. Terakhir, yang paling membanggakan DKI Jakarta memperoleh nilai tertinggi pada Ujian Nasional dengan presentase 99,83% untuk tahun pelajaran 2005/2006.

Tulisan ini dimuat sebagai salah satu sub bab dalam buku yang berjudul Kartini Pendidikan dari Betawi, tahun 2007 di Jakarta.

Penulis: Ayu N. Andini

~ oleh one1thousand100education pada Januari 31, 2008.

6 Tanggapan to “Kualifikasi dan Kompetensi Guru di Jakarta”

  1. Artikel sangat menarik, salut dengan kemampuan ibu guru menulis artikel yang berbobot.
    Selamat juga buat Jakarta yang behasil meningkatkan mutu pendidikannya semoga di contoh oleh wilayah-wilayah lain.

    http://www.belgia83.com

  2. terima kasih, pak adhi wirawan..
    Profesi saya sebagai wartawan dan ketertarikan saya terhadap dunia pendidikan, juga mendukung “lahirnya” tulisan ini.
    (saya selalu kagum pada profesi guru. namun, saya belum sehebat itu, pak. maka nya, sekarang saya jadi wartawan yang menulis juga tentang mereka ini.. :) )

  3. Terimakasih infonya. sekalian mohon ijin untuk bahan referensi penulisan tesis tentang pendidikan.
    Yoh, Marsudi (Fridho) Palembang

  4. Silahkan, pak Yoh Marsudi (Pak Fridho) di Palembang. Akan sangat bahagianya saya jika referensi ini juga bapak sertakan dalam tesis yang sedang bapak tulis. Mohon dicantumkan juga judul artikel beserta nama saya sebagai penulis untuk narasumber data dalam tesis tersebut.Terima kasih Mr. Frido. Good Luck… :)

  5. Saya sangat termotivasi tuk melakukan yang terbaik di dunia pendidikan.Apakah saya bisa dibantu untuk mendapatkan contoh-contoh soal Uji Kompetensi Guru tersebut.Karena saya juga ingin mengajak rekan2 guru swasta yang ada di lingkungan yayasan tempat saya bekerja.Terima kasih,God Bless.Rina,Jakarta.

  6. Sangat bagus. Saya (seorang guru) jadi termotivasi untuk tetap mencerdaskan anak bangsa dengan selalu mengembangkan diri (karena satu kelemahan guru di Indonesia tak pernah mau mengupgrade dirinya setelah/seiring diterimanya NIP). Gaji kecil memang sebuah kendala, tapi sepanjang ada kemauan, pasti ada jalan. Mohon izin, artikelnya saya print dan jadi referensi tulisan saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: