Dua Hari Melihat Tumpukan Harapan di Konferensi Guru Indonesia 2006

Masih belum tepat jam setengah delapan pagi, di lantai dasar Gedung Pusat Niaga (Jakarta International Expo) Kemayoran, sudah tampak antrian pada bagian registrasi peserta. Hari itu, tanggal 27 November 2006. Hari pertama Konferensi Guru Indonesia digelar di sana.
Dari target yang diperkirakan sebanyak 700 orang peserta, Senin pagi itu cukup banyak yang memenuhi area gedung. Di luar dugaan, peserta konferensi yang datang mencapai lebih dari 800 orang guru. Sebuah angka yang tidak sedikit untuk konferensi guru seindonesia yang pertama kalinya diadakan oleh Sampoerna Foundation bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional, serta Provisi Education dan PT. Focus sebagai “duet” tim organizer kegiatan pelaksanaan. Acara ini tak hanya menggelar konferensi dan seminar, tapi juga pameran beberapa lembaga pendidikan, pameran alat-alat laboratorium/alat bantu mengajar, beberapa penerbit buku ternama di Indonesia, dan lembaga-lembaga khusus untuk peningkatan kompetensi tenaga pengajar.
“Ini luar biasa, lebih dari 800 guru berkumpul bukan untuk berbicara tentang gaji atau kesejahteraan guru yang tidak diperhatikan. Disini, semuanya akan bicara tentang kualitas mengajar dalam kelas, bagaimana caranya memanfaatkan sarana yang ada untuk pembelajaran dan hal-hal lain yang bisa mereka manfaatkan untuk meningkatkan kemampuan mereka mengajar,” ucap Sapto H. Sakti, Direktur Komunikasi Sampoerna Foundation setelah acara pembukaan KGI pagi itu (27/11).
Konferensi Guru Indonesia 2006 dengan tema Menuju Pendidikan Bermutu ini meraih banyak respon dari pesertanya, yang tak lain adalah para guru dan kepala sekolah “terbaik” seindonesia. Datang dari berbagai penjuru, antara lain dari Aceh, Padang, Medan, Poso, Banjarmasin, Flores, Papua, Bandung, Surabaya, dan Jakarta. Semangat-semangat lokal yang dibawa oleh masing-masing peserta lebur menjadi satu suara yang berbunyi: Pikirkanlah kesejahteraan guru dan mutu pendidikan di Indonesia. Setidaknya ada banyak harapan-harapan yang menumpuk dibahu mereka. Harapan mereka untuk dapat terus menerus tingkatkan mutu pendidikan Indonesia menjadi lebih baik lagi, memang butuh banyak dukungan dari berbagai pihak.

Dalam beberapa kesempatan seminar, ada banyak keluh kesah yang mereka sampaikan kepada pihak pemateri, ataupun kepada pihak Departemen Pendidikan Nasional. Dari mulai masalah lambatnya proses kenaikan pangkat golongan IV bagi para guru, sampai dengan keberagaman reaksi para guru terhadap masalah Ujian Nasional.
Salah satu yang menarik, ketika seorang guru dari Kalimantan mengatakan, “Pendidikan kita sistemnya sebenarnya sudah bagus. Sudah pastilah bermutu. Saya pikir, judul tema ini harus ditambah sedikit menjadi : Menuju Pendidikan Lebih Bermutu.”
Kenneth J. Cock, Direktur Sampoerna Foundation Teachers Institute sekaligus ketua penyelenggara KGI 2006, juga berpendapat “Guru-guru di Indonesia memiliki potensi dan inovasi yang sangat tinggi, hanya saja peran strategis mereka sering dipandang sebelah mata. Karena itu kami bersepakat untuk menyelenggarakan konferensi yang bisa digunakan para guru untuk berbagi pengalaman dalam menjalani peran strategis mereka sebagai guru.” 
Menurut catatan Depdiknas, jumlah guru yang layak mengajar hanya 64,1% untuk tingkat SMP dan 67,1% untuk tingkat SMA. Riset yang dilakukan oleh UNDP pada tahun 2000 menyimpulkan bahwa daya saing Sumber Daya Manusia di Indonesia hanya menduduki urutan ke-109 dari 174 negara. Catatan angka-angka ini telah menampilkan fakta kondisi pendidikan di Indonesia yang memprihatinkan. Hal ini menjadi latar belakang  bagi Sampoerna Foundation untuk mengadakan KGI yang pertama.
Acara yang diselengarakan pada tanggal 27 s/d 28 November 2006, sekaligus untuk memperingati Hari Guru Nasional yang jatuh tepat pada tanggal 25 November lalu.
Dalam KGI diadakan tiga model konferensi. Pertama, seminar yang akan membahas sistem pembelajaran secara umum, dan model yang kedua adalah kelas-kelas yang membahas tentang cara-cara untuk meningkatkan kualitas metode pembelajaran, sedangkan yang ketiga adalah kelas-kelas lokakarya.
Salah satu tema yang diangkat dalam seminar adalah “Kurikulum 2006: Anugerah atau Musibah”. Dwi Sunu W. Pebrianto, guru dari Sekolah Ciputra-Surabaya sebagai pematerinya. Kedua, adalah model kelas-kelas paralel yang membahas tentang cara-cara untuk meningkatkan kualitas metode pembelajaran mereka. Diantara 10 pembicara dalam kelas paralel, Sunaryo Kartadinata, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia-Bandung, menyajikan makalah dengan tema  “ Meningkatkan Kualitas Guru”.
Sedangkan untuk kelas-kelas lokakarya, yang paling banyak diikuti peserta pada waktu itu adalah kelas yang mengangkat makalah tentang “Peranan Seni Tari dalam Menumbuhkembangkan Kreativitas Siswa”. Materinya disajikan menarik oleh Melina Surya Dewi, dosen Institut Kesenian Jakarta.
Dengan jumlah peserta konferensi yang membludak, ada beberapa insiden kecil yang sempat singgah di sebagian peserta Konferensi Guru Indonesia. Tak kebagian konsumsi, tak menyurutkan semangat para peserta untuk terus mengikuti acara ini sejak pagi hari hingga sore menjelang.
 Dirjen PMTK Depniknas, Fasli Jalal, berharap agar KGI menjadi kegiatan rutin setiap tahun dan menjadi wadah guru-guru yang berprestasi untuk dapat berlomba-lomba menjadi pembicara. Harapan-harapan ini juga dimiliki oleh Sania, seorang guru dari  SMPN 1 Banda Aceh, “Semoga tahun depan kegiatan ini diselenggarakan lagi dan saya berharap agar sesi tanya jawab lebih diperpanjang. Kemudian untuk para guru seluruh Indonesia, semoga apa yang kita dapat disini, dapat kita implementasikan.”

Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah pendidikan (edisi Januari 2007) yang berkantor di Jakarta.

Writer: Ayu N. Andini
 

~ oleh one1thousand100education pada Juli 7, 2007.

2 Tanggapan to “Dua Hari Melihat Tumpukan Harapan di Konferensi Guru Indonesia 2006”

  1. Saya juga punya harapan besar dengan adanya KGI , semoga saya beruntung berkesempatan menjadi satu dari 1000 peserta KGI 2007 November nanti. Bravo Pendidikan Indonesia!

  2. Semoga ada banyak materi bahasan yang menarik di acara KGI 2007 nanti. Sampai ketemu. Bravo juga untuk para pendidik di Indonesia..termasuk mba’ diena ya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: