SMART di Musi Banyu Asin

Murid di SDN 1 Teluk, Kecamatan Lais, Kabupaten MUBA, Sumatera Selatan

Perjalanan untuk melihat yang smart di Kabupaten Musi Banyu Asin, maskudnya melihat kepiawaian daerah ini dalam mencapai target penyelesaian rekonstruksi sekolah yang ditentukan hingga akhir tahun 2007 ini. Apa saja yang menjadi skala prioritas daerah ini hingga berhasil meraih penghargaan sebagai daerah yang  dinilai sukses melaksanakan wajib belajar sembilan tahun dengan program sekolah gratisnya? 


 Menuju ke Musi Banyu Asin (MUBA), yang berjarak 2 jam perjalanan dari pusat kota Palembang, kita akan melewati lahan-lahan kebun kelapa sawit dan deretan pohon-pohon karet yang telah menjadi penghidupan masyarakat asli di sana selama puluhan tahun. Udaranya lebih bersih dan lebih hangat daripada kota Jakarta. 

Kabupaten ini dihuni oleh  penduduknya yang berjumlah 473.795 jiwa di wilayahnya seluas 14. 265,96 KM2. “Keadaan topografi di Kabupaten MUBA ini memang kurang menguntungkan. Karena hampir 69% itu adalah daerah dataran rendah. Mengakibatkan cost nya juga jadi lebih tinggi dibandingkan dengan daerah-daerah lain yang dataran tinggi,” ungkap Yusri Efendi, Sekda Kabupaten MUBA.
 Sejak dilantiknya Bupati MUBA, Alex Nurdin pada bulan Januari yang lalu, MUBA sibuk berbenah diri. Beberapa skala prioritas programnya adalah meningkatkan kualitas pendidikan berwawasan kebangsaan dan berkualitas global yang terjangkau bagi masyarakat serta menyiapkan generasi muda yang siap menghadapi tantangan kemajuan zaman, meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang terjangkau bagi masyarakat, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat miskin, serta misi-misi prioritas lainnya. Dan SMART (Sejahtera, Mandiri, Adil, Religius, dan Terdepan), adalah visi dan misi program pembangunannya untuk Kabupaten MUBA hingga tahun 2012 mendatang.

Investasi Jangka Panjang MUBA untuk Bidang Pendidikan
Program pembangunan selalu berangkat dari berbagai potensi daerah yang dimiliki. Begitu pula halnya dengan Kabupaten MUBA yang berada di Sumatera Selatan. Sebuah daerah bersumber daya alam dengan potensi energi primernya yang merupakan daya tarik kuat bagi masuknya penanaman modal/investasi untuk meningkatkan perekonomian daerah. Kabupaten MUBA hanyalah sebagian kecil yang juga memiliki cadangan sumber daya alam minyak bumi, gas alam, dan batu bara. Sungguh sebuah bentuk dukungan yang sangat berarti untuk anggaran pendapatan daerah ini.
 “Dana yang sebagian besar di MUBA ini adalah dari bagi hasil minyak bumi dan gas. Kami menyadari bahwa minyak dan gas ini adalah sumber daya yang tidak terbarukan, artinya pada suatu saat nanti pasti akan habis. Ini yang selalu menjadi problem bagi daerah-daerah penghasil sumber daya alam ini. Bagaimana seandainya kalau sudah tidak menghasilkan lagi? Pada waktu itu kami pikirkan, maka tidak ada pilihan lain bahwa kami harus menginvestasikan dalam bidang sumber daya manusianya. Maka, bagaimanapun juga, prioritas pertamanya adalah bidang pendidikan. Tapi investasi ini memang memerlukan dana yang cukup besar. Sementara hasilnya akan bisa kita lihat dalam jangka waktu yang cukup panjang,” papar Yusri yang saat itu tampil sebagai wakil dari pihak Kabupaten MUBA, menyambut kedatangan pihak Direktorat Dikdasmen dan beberapa wartawan dari berbagai media massa dalam rangka kunjungan ke daerah. 
Menurut data dari Pemerintah Daerah Kabupaten Musi Banyu Asin, tercatat bahwa sejak tahun 2002, dari APBD sejumlah Rp 655.329.246.350,00 telah dialokasikan sebanyak 20,01% untuk Anggaran Sektor Pendidikan. Sebuah permulaan yang sangat inovatif manakala pada saat itu belum disepakati secara resmi bahwa paling tidak, sejumlah 20% dari APBD diperuntukkan bagi pembangunan kualitas pendidikan. Kemudian, pada tahun 2006, prosentasenya meningkat menjadi 26%, yakni sebanyak Rp 327.259.336.000,00. Terakhir, untuk tahun 2007 ini, MUBA menganggarkan sebanyak Rp 341.936.501.000,00 (masih berupa dana induk) untuk sektor pendidikan, dari APBD nya yang berjumlah Rp 1.500.606.700.000,00.
Mengenai seberapa jauh, dukungan pemeritah pusat melalui Depdiknas terhadap pembangunan kualitas pendidikan di Kabupaten MUBA, Drs. Mudjito M. Pd, Direktur Direktorat Dikdasmen menyatakan, “Bahwa terus terang, ada  pekerjaan-pekerjaan yang luar biasa untuk Depdiknas. Kalau berkaitan dengan Sekolah Dasar, khususnya adalah keprihatinan kami terhadap sekolah-sekolah yang kondisinya rusak berat. Karena itu Mendiknas membuat MOU dengan seluruh gubernur dan bupati di seluruh indonesia. Antara lain, juga untuk Sumatera Selatan. Kemudian saya harus menindaklanjuti MOU tersebut, yang bentuknya antara lain adalah menyediakan dana Rp 193 miliar utk  perbaikan sekolah, terdiri dari 46 miliar yang disalurkan lewat provinsi dan disebut sebagai dana dekonsentrasi,  ditambah dengan Rp 147 miliar, yaitu dana yang disalurkan lewat kabupaten dan kota melalui Dana Alokasi Khusus. Kabupaten Musi Banyu Asin, tahun kemarin mendapatkan sekitar Rp 2,5 miliar dan sekarang naik enam kali lipat, menjadi Rp 14 miliar untuk Musi Banyu Asin.”
“Dari dana Rp 341,9 miliar yang dialokasikan untuk APBD dalam kaitannya dengan perbaikan  dengan pengembangan infra struktur yang diperlukan pada sektor pendidikan, itu akan menghabiskan  sekitar Rp 98 miliar khusus untuk fisik, di dalamnya sudah tercover juga Rp 14 miliar dari pusat. Ini adalah untuk 201 lokal dari dana yang didampingi oleh APBD  dengan perincian peruntukkan rehab gedung sekolah sebanyak 149 lokal untuk SD, dan 30 lokal untuk SMP. Jadi, kalau tadi share nya 10% atau 20% barangkali, kami ini sudah mencapai lebih dari fifty-fifty,” ucap Ade Karyana, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten MUBA. 

Kunjungan ke Sekolah Gratis
Dengan catatan anggaran sektor pendidikan yang sedemikian besar, beberapa hal berhasil diatasi. Menurut penuturan Yusri, sejak tahun 2002 Kabupaten MUBA sudah memprogramkan sekolah gratis dari tingkat SD sampai SMA. Pada tahun 2005, program ini baru menyentuh sekolah-sekolah  negeri. Dan tahun 2007 sekarang, seluruh murid-murid sekolah-sekolah swasta dan sekolah-sekolah agama juga merasakan manfaat program sekolah gratis. Maka, jadilah Sekolah gratis, sebagai salah satu wujud bentuk investasi jangka panjang MUBA terhadap sumber daya manusia di daerahnya.
Pada acara kunjungan ini, rombongan yang terdiri dari Direktorat Dikdasmen, Dinas Pendidikan Kabupaten MUBA, beserta para wartawan, mendatangi beberapa sekolah dasar di sana. SDN I Desa Lais yang bermurid 191 orang, menjadi sekolah pertama yang kami kunjungi. Sekolah ini tampak sedang merenovasi ruang-ruang kelasnya. Dari penuturan Nazirin, Kepala Sekolah SDN I Desa Lais, gedung tersebut adalah bangunan tahun 1975 dan baru tahun 2007 ini diperbaiki karena keadaannya yang sudah sangat rusak. Biaya renovasi diperoleh dari Dana Alokasi Khusus yang seluruhnya berjumlah Rp 220 juta. “Untuk rehab gedung ini, dialokasikan Rp 120 juta, sisanya kami alokasikan untuk alat-alat peraga dan buku-buku penunjang. Tapi, sesungguhnya, biaya rehab ini kami rasakan masih kurang ideal,” ujar Nazirin. Untuk sementara waktu, ruang kelas pun dipakai bergantian.
Lain halnya dengan SDN I Teluk. Bangunan sekolahnya yang berdinding kayu ini sudah berdiri sejak tahun 1954, dan telah mengalami kerusakan di 4 ruang kelasnya. Bocor sana-sini, tak menyurutkan semangat belajar mereka. Sayangnya, sekolah yang bermurid 89 orang anak ini, belum sama sekali tersentuh dana bantuan khusus untuk rehab gedungnya.
Penerima bantuan dana APBD murni dari Kabupaten MUBA adalah SDN Talang Mandu Kecamatan Sungai Keruh. Sekolah di desa terpencil ini, dibuatkan unit lokal yang baru, di lokasi sekolah yang sama. Tentang jumlah dana dan alokasinya terhadap rehab gedung, diserahkan kepada pihak PU melalui CV. Cipta Karya. Sekolah ini tak tahu menahu tentang berapa jumlah dana bantuan rehab sekolah yang mereka terima. “Kami hanya menerima kunci ruangan gedung yang sudah jadi dan siap pakai,” ucap Kepala Sekolahnya.

Ade Karyana menegaskan, bahwa target perbaikan sarana fisik sekolah di Kabupaten MUBA akan diselesaikan pada tahun 2007 ini. Dan sekarang, masih tersisa 30% sekolah-sekolah di Kabupaten MUBA yang masih memerlukan perbaikan sarana fisik.

Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah pendidikan (edisi Februari 2007) yang berkantor di Jakarta. 

Writer : Ayu N. Andini

~ oleh one1thousand100education pada Juli 7, 2007.

Satu Tanggapan to “SMART di Musi Banyu Asin”

  1. sekolah gratis? enaknya bisa sekolah gratis…………… tp saya kurang mendengar siswa-siswi dari MUBA berprestasi!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: