Membangun Citra Baru Untukmu, Guru

Kompetensi dan kualifikasi guru sedang banyak disorot. Baik oleh pemerintah, maupun oleh masyarakat. Maklum, Indonesia sedang menjelang proses sertifikasi profesi guru. Segala lini harus diberdayakan untuk menunjang kompetensi dan kualifikasi guru. Sejauh mana peranan lembaga-lembaga peningkatan mutu guru seperti Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) didalamnya?

Pernyataan bahwa guru menjadi ujung tombak kualitas pendidikan negara, ternyata meninggalkan banyak PR bagi Depdiknas dan masyarakat. Tuntutan-tuntutan untuk terus memperbaiki kualitas, kompetensi, serta membangun citra-citra terbaik bagi guru pun mengalir terus menerus. Semua perbaikan patut dilakukan walaupun kendala-kendala selalu muncul di tiap periode. Mulai dari masalah kesejahteraan hingga ke masalah kebijakan kurikulum yang kerap berganti-ganti. Kurikulum 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi, hingga Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Ini juga mempengaruhi gerak maju pendidikan di Indonesia.

Tentang seberapa jauh tingkat kemajuan pendidikan yang dicapai, penelitian-penelitian telah dilakukan terhadap kualitas pendidikan di Indonesia.
“Contoh kecil saja, ada 169 jam belajar Matematika per tahun untuk murid sekolah dasar di Indonesia. Sementara itu, di Malaysia hanya 120 jam. Namun hasilnya, Indonesia masih berada di peringkat terendah,” ucap Fasli Jalal, Direktur dari Direktorat Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) pada salah satu acara sosialisasi program Depdiknas di sebuah hotel di Jakarta, akhir Februari lalu.

Keprihatinan ini mendorong Depdiknas giat memacu kinerjanya untuk membangun citra-citra baru bagi mutu tenaga pendidik di Indonesia. Salah satunya adalah melalui pemberdayaan lembaga-lembaga peningkatan mutu guru, yakni Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Cikal Bakal Pembinaan Profesi Guru
 MGMP telah muncul sejak tahun 1980-an. Lembaga ini memang didirikan dengan tujuan mengembangkan Sistem Pembinaan Profesional (SPP) guru di Indonesia. Sebelum MGMP ini didirikan, dulunya ada wadah yang dikenal dengan sebutan Pemantapan Kerja Guru (PKG).  Sebuah wadah yang dikembangkan oleh Direktorat Pendidikan Menengah Umum (Dikmenum) pada tahun 1979 dengan asas “dari guru, oleh guru, untuk guru.” Di dalamnya dikembangkan sebuah sistem pembinaan profesi guru SLTP dan SLTA. Sistem ini dirancang ketika Direktur Dikmenum dijabat oleh Prof. Dr. Benny Suprapto Brotosiswoyo (1976-1988).

PKG ini didirikan diluar struktur organisasi lembaga Diklat Ditjen Dikdasmen, yaitu diluar Pusat Pengembangan Penataran Guru (PPPG) dan Balai Pendidikan Guru (BPG). Pada tahun-tahun pertama, pelatihan guru dilakukan secara langsung di ibukota-ibukota provinsi. Pematerinya disebut instruktur provinsi. Kemudian, pelatihan mulai dikembangkan dan dilaksanakan di kabupaten/kota. Di tingkat ini, pematerinya adalah para guru inti dan tempatnya pun dinamakan Sanggar PKG. Pengembangan ini dilakukan mengingat ada banyak guru-guru di pelosok daerah yang juga membutuhkan pembinaan profesi.   

 Mulai tahun 1979, PKG melakukan pembinaan untuk bidang studi IPA. Kemudian tahun 1982, PKG Matematika juga digelar. Empat tahun berikutnya, PKG melaksanakan pembinaannya untuk bidang studi Bahasa Inggris. Pada saat yang bersamaan, pembinaan profesi guru untuk bidang studi Bahasa Indonesia juga dilakukan. Yang termuda dari semuanya, adalah PKG IPS-Geografi. Kegiatan ini mulai dilakukan pada tahun 1990. Dalam perkembangannya, di tahun 1994 tercatat bahwa PKG ada di 27 provinsi dengan 290 Sanggar PKG yang tersebar di kabupaten/kota. 
 
 Kegiatan pembinaannya cukup efektif juga karena kucuran dana bantuan untuk operasional pembinaan ini, mengucur dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) dan United Nations Development Program (UNDP). Tak ketinggalan, Bank Dunia pun turun tangan untuk meminjamkan dananya kepada PKG untuk membiayai pembinaan profesi guru untuk kurun waktu 10 tahun (1984 s/d 1994). Jumlah total dana pinjamannya mencapai USD 83.241 juta atau senilai Rp 145.671.000 (menurut hitungan berdasarkan kurs mata uang tahun 1989). Namun kegiatan pembinaan ini menjadi mandeg ketika masa program bantuan dananya berakhir.

 Di sisi lain, peningkatan mutu guru juga mulai bergerak masuk ke tingkat pendidikan dasar. Dilandasi oleh jumlah sekolah dasar yang mencapai ratusan ribu dan tersebar hingga ke pelosok daerah, maka Dirjen Dikdasmen melalui Keputusan No. 079/Kep/I/1993 tanggal 7 April 1993 menetapkan Pedoman Pelaksanaan Sistem Pembinaan Profesional Guru melalui pembentukan gugus sekolah di sekolah-sekolah dasar sebagai wahana peningkatan profesionalisme guru-guru SD.

 Suatu gugus dalam satu kecamatan terdiri dari 3 s/d 8 SD , Kelompok Kerja Guru (KKG), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS), Pusat Kegiatan Guru (PKG), Guru Pemandu, dan Tutor. Di tingkat pendidikan dasar inilah, KKG dapat banyak berperan. Salah satunya, KKG menjadi wadah pembinaan profesional guru-guru yang tergabung dalam satu gugus. Secara operasional, KKG dapat dibagi lagi menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil. Yaitu kelompok guru-guru kelas, dan kelompok guru-guru mata pelajaran. Pembinaannya dilakukan langsung oleh kepala sekolah, pengawas sekolah, guru pemandu mata pelajaran, dan tutor.

 Perkembangan KKG hingga sekarang, juga masih belum optimal. Hadangan-hadangan kesibukan para guru dan kekurangan dana, turut menghambat kemajuan organisasi ini.   

Perjalanan MGMP
Selang setahun PKG berdiri, MGMP muncul. Selain Ikatan Pengajar Sains dan Matematika (IPSM) di Jakarta, Kelompok Kerja Pendidikan Biologi di Semarang (KKPBS), MGMP pun salah satu lembaga peningkat mutu guru pada saat itu. MGMP adalah organisasi non struktural di lingkungan Depdikbud (kini disebut Depdiknas). MGMP adalah sebuah forum atau wadah kegiatan profesional guru-guru mata pelajaran sejenis di Sanggar (tingkat kebupaten/kota). Anggota MGMP adalah semua guru mata pelajaran sejenis baik negeri maupun swasta (untuk tingkat satuan pendidikan SMP dan SMA). Melalui wadah ini, para guru dapat berkomunikasi, berkonsultasi, serta saling bertukar informasi serta pengalaman.

Dengan cara ini, diharapkan, dapat menumbuhkan kegairahan guru untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan dalam mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan belajar mengajar di kelas. Dengan makin luasnya wawasan, diharapkan, dapat berimbas terhadap kualitas anak-anak didiknya.   

Namun dalam perkembangannya, MGMP mengalami pasang surut. Organisasi ini memang dibangun oleh inisiatif para anggotanya yang notabene para guru. Masih sedikit guru yang “melirik” wadah ini sebagai penunjang peningkatan mutu profesinya. Karena MGMP relatif tak terlalu eksis, di tengah riuh rendah kesibukan guru mengajar di kelas-kelas mereka.
Dana operasionalnya banyak bersumber dari APBD dan APBN. MGMP jadi tidak punya posisi tawar yang cukup menguntungkan. Karena frame kerja MGMP pada kurun waktu 1980 s/d  1999-an, tak seluruhnya mengenai pemenuhan kebutuhan mutu guru. Tapi malah memenuhi kepuasan para “atasan” yang ada di tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan tingkat pusat.
Tak pelak, fungsinya pun tak disadari sebagai potensi peningkatan mutu guru. Bahkan di tingkat pengurusnya sendiri, mengelola MGMP masih dianggap sebagai kegiatan yang tidak diprioritaskan di atas kewajibannya mengajar di sekolah. Pengelolaannya pun menjadi tidak optimal. Alhasil, MGMP jadi kurang diminati oleh para guru. 

Latar belakang lesunya MGMP yang paling klasik adalah masalah biaya. Lesunya MGMP, kemudian berusaha direvitalisasikan pada tahun 2000-an dibawah periode Prof. Dr. Zamroni (yang menjabat sebagai Direktur Dikmenum). Mulai periode ini, MGMP menjadi lebih khusus mencakup pada guru-guru SMA. Perubahan-perubahan paradigma mulai dilakukan. Untuk revitalisasi MGMP, guru dituntut untuk melakukan reformasi dalam pembelajaran (class reform). Konsep ini menekankan perubahan orientasi pembelajaran dari teaching ke learning. Jika dulunya, guru merasa paling pintar di kelas dan sebagian dari mereka akan merasa hebat dan senang bila anak didiknya mengalami kesulitan dalam memahami materi, maka semua paradigma ini harus di reformasi. Sejak paradigma ini diubah, guru harus banyak berperan sebagai pengarah. Inisiatif dan kreatifitasnya dalam menyampaikan materi-materi di kelas dituntut lebih berpihak pada kebutuhan anak didik.  Caranya? Dengan memfungsikan kembali MGMP sebagai wadah yang potensial bagi para guru untuk menambah wawasan metode pembelajaran.

Kabar gembira pun datang. Tahun 2006 lalu, Depdiknas mengucurkan dana block grant bagi 6 MGMP untuk setiap kabupaten/kota di Indonesia. Tercatat, telah ada 2.646 MGMP yang telah menerima manfaat block grant ini. Dan tahun 2008 mendatang, Depdiknas melalui Program Better Education trough Reformed Management and Universal Teacher Upgrading (BERMUTU) yang diluncurkan Dirjen PMPTK, Direktorat Pembinaan Diklat kembali akan mengucurkan block grant bagi KKG dan MGMP di seluruh kecamatan dan kabupaten/kota di Indonesia. Program terbaru ini, adalah kerjasama pemerintah Indonesia dengan pemerintah Belanda dan bantuan pinjaman dari Bank Dunia. Nilai dananya mencapai US$ 200 juta.  Program ini diharapkan dapat mendorong inovasi guru dalam proses pembelajaran serta memajukan kualitas pendidikan di negeri kita.

Tentu saja, harapan tak hanya digantungkan pada lembaga-lembaga ini saja, tetapi juga pada niatan hati dan kemauan keras dari para guru untuk senantiasa berpihak pada kualitas pendidikan di Indonesia. 

Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah pendidikan (edisi Mei-Juni 2007) yang berkantor di Jakarta.

Writer : Ayu N. Andini
   

~ oleh one1thousand100education pada Juli 12, 2007.

Satu Tanggapan to “Membangun Citra Baru Untukmu, Guru”

  1. sebagai seorang pendidik saya juga merasakan bagaimana kurangnya perhatian terhadap guru. sejauh ini yang saya lihat kepala sekolah jauh lebih dihargai dari seorang guru yang masuk kelas. setiap sebentar kepala sekolah mengadakan kunjungan atau studi banding keluar daerah. sementara guru terus berkutat dengan persoalan siswa. oleh sebab itu sudah sepantasnya bantuan yang terus digulirkan untuk perkembangan dunia pendidikan benar-benar ditujukan untuk mutu guru. saya guru di pondok pesantren m. nasir kab solok sangat menrasakan bagaimana perlakukan terhadap kami yang dari swasta juga berbeda.beberapa waktu silam diadakan lomba bidang studi untuk tingakat smp di kab solok. kami dengan bersemangat mengikutsertakan 2 orang anak. namun apa daya ketika sampai disana kami ditolak dengan alasan lomba ini khusus untuk smp, tidak MTs. ini adalah sebuah tindakan deskriminatif yang sangat kami sesalkan.Kadang saya tidak yakin dengan kebijakan pemerintah yang katanya menyamakan negeri dan swasta. tapi dilapangan kenyataannya berbeda jauh. mohon hal ini lebih diperhatikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: