Penanganan Golden Age di Indonesia

Golden age, merupakan masa-masa penting bagi tumbuh kembang anak-anak. Para ahli psikologi dan pendidikan, sepakat tentang hal ini. Dr. Maria Montessori, ahli pendidikan anak dari Itali (1870-1952), pernah mengatakan “Working with children older than 3 years is too late to have the most beneficial effect on their life”.

Penanganan golden age di Indonesia diakomodir oleh pemerintah melalui jalur nonformal. Sejak dicantumkan di dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang sisdiknas, pendidikan untuk anak usia dini mulai disosialisasikan oleh Depdiknas bersama masyarakat. Secara nyata, dapar terlihat dari meningkatnya jumlah berbagai penyelenggaraan pendidikan anak usia dini (PAUD) di berbagai daerah. Menurut data yang tercatat tahun 2006 lalu, ada sekitar 71,2 % anak usia 0-6 tahun di tanah air yang sebagian darinya menjadi target rangkulan program PAUD.

Keruwetan antara PAUD dan TK
Pendidikan untuk anak usia dini adalah salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik anak (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini (2 s/d 4 tahun).

 Masalah klasik yang kerap muncul di setiap diskusi tentang PAUD, yaitu masalah pembatasan pendidikan formal dan nonformal antara PGTK dan PAUD, yang pada prakteknya hingga kini masih dianggap tidak memiliki pembatasan yang jelas. TK (pendidikan formal), mencakup usia 4 s/d 6 tahun. Sedangkan PAUD (pendidikan nonformal) pun menyediakan konsepnya untuk anak usia 2 s/d 6 tahun.

Masalah ini kembali mengemuka di sesi dialog interaktif dalam acara Pelatihan Capacity Building dan Rakor HIMPAUDI (Himpunan pendidik  dan  Tenaga Kependidikan Indonesia) tanggal 26 s/d 28 Januari 2007, yang dihadiri tak kurang dari 30 orang pimpinan cabang HIMPAUDI dari berbagai daerah di Indonesia. Antara lain dari Yogya, Jakarta, Bandung, Banten, hingga Flores.

Direktur PTK-PNF, Erman Syamsudin memberikan tanggapannya atas masalah tersebut. Ada beberapa ide yang bisa ditempuh untuk menyelesaikan keruwetan ini. Ia memaparkan, akan sangat menyepakati ide-ide untuk berbagi lahan. Misalkan saja, untuk perkotaan menjadi cakupan lahan bagi TK, dan PAUD “mengisi” lahannya di pedesaan. PAUD pun bisa mengatasinya jika di daerah tersebut tidak tersedia Taman Kanak-kanak. Untuk TK dan PAUD yang berada dalam satu atap, maka disarankan olehnya untuk berbagi usia peserta didik. PAUD mengambil calon murid yang berusia 2 s/d 4 tahun, sedangkan TK mencakup anak-anak yang berusia 4 s/d 6 tahun. Namun menurut penuturannya, sampai sekarang memang belum semua pemahaman bisa sama, belum semuanya bisa disepakati dan dijalankan di lapangan karena sejauh ini ide-ide berbagi lahan dan berbagi usia peserta didik belum menjadi sebuah kebijakan di tingkat diknas sendiri.

Kualitas Pendidik PAUD
Menurut data yang cukup sering dipaparkan Direktorat PTK-PNF (Dittentis tahun 2004), didapati kekurangan jumlah tenaga pendidik PAUD sebesar 311.028 orang dari jumlah ideal yang seharusnya dipenuhi yaitu sebanyak 359.235 orang. Kini, tercatat ada 48.000 lebih tenaga pendidik PAUD yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia.

Dari beberapa masalah yang disampaikan pada acara Pelatihan Capacity Building dan Rakor HIMPAUDI pada akhir Januari lalu, antara lain adalah masalah tentang mutu tenaga pendidik PAUD yang masih disangsikan. Masih banyak tenaga pendidik yang dianggap ‘jadi-jadian’ karena back ground pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan PAUD. Walaupun banyak sarjana yang menjadi tenaga pendidiknya, tetapi PAUD terkesan menjadi tempat “batu loncatan” bagi para lulusan perguruan tinggi. Dengan kata lain, mereka sama sekali tidak menguasai paedagogi dan andragogi.

Diungkapkan pula beberapa kerisihan terhadap konsep dan model-model pendirian PAUD yang ada sekarang. Terhadap masalah ini, diharapkan agar PAUD memliki standarisasi konsep dan sistem pengelolaan yang sama untuk semua PAUD di seluruh Indonesia.

Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah khusus nonformal (edisi Maret 2007) yang berkantor di Jakarta.

Writer : Ayu N. Andini
 

~ oleh one1thousand100education pada Juli 12, 2007.

3 Tanggapan to “Penanganan Golden Age di Indonesia”

  1. kami mengelola PKBM juga PAUD kami sangat membutuhkan format-format pelaporan diatas….to itu mohon bantuanya…trims.

  2. Betul..
    yang menjadi problem dalam pengelolaan PAUD adalah SDM.
    Sebagian besar tenaga-tenaga pengajarnya adalah tamatan SMA yang sudah “tua”.
    Tetapi Pemda Gorontalo telah mengantisipasi keadaan tersebut melakukan kerja sama dengan pihak Universitas Negeri Gorontalo membuka Jurusan S-1 PAUD.

  3. hi…saya sedang melakukan penelitian tentang program PAUD di papua…dan butuh data sekunder untuk gambaran progress program PAUD di indonesia…ada saran saya bisa cari dimana??
    anyway…saya setuju bahwa pendidikan di usia dini adalah hal yang sangat urgent baik di rural or urban area. Tujuan jangka panjang sebagai usaha untuk menciptakan generasi di masa depan. Saya juga konsen dengan model pendidikan yang kontekstual dengan menggunakan local knowledge or potensi budaya lokal. Selain resources nya ada di sekitar anak juga untuk menumbuhkan rasa bangsa sebagai anak yang mempunyai identitas sejak usia dini. Thank buat kesempatan ngasih komen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: