Strateginya Masih Dirintis

“Peningkatan mutu PTK-PNF gencar dikejar melalui berbagai strategi. Antara lain, standarisasi kompetensi dan kualifikasi. Termasuk di dalamnya, standarisasi penyelenggaraan diklat-diklat/Training of Trainer PTK-PNF.”

Bagi sekitar 53.000 orang sasaran Training of Trainer (TOT) PTK-PNF tahun 2007 sekarang, Depdiknas masih punya target lain di dalamnya. Demi meningkatkan kompetensi dan kualifikasi PTK-PNF, diberikan dalam berbagai bentuk bantuan. Untuk kelancaran dan akuntabilitas penyaluran bantuan peningkatan mutu, dibutuhkan suatu kesamaan persepsi tentang penyaluran bantuan beasiswa rintisan serta standarisasi TOT dan diklat-diklat di seluruh lini PTK-PNF.

Kebutuhan ini dimasukkan sebagai agenda penting dalam rapat Koordinasi dan Singkronisasi Peningkatan Mutu Pendidik Pendidikan Nonformal. Oleh karenanya, Direktorat PTK-PNF Subdit Pendidik memilih tema “Strategi Peningkatan Mutu Pendidik Pendidik Nonformal dalam Upaya mewujudkan pendidik dan Tenaga kependidikan pendidikan nonformal yang Profesional dan Bermartabat.”

Acara yang di gelar pada tanggal 22 s/d 24 Maret 2007, di Hotel Grand Cempaka, Jakarta, diikuti oleh 150 orang peserta. Turut hadir diantaranya, para wakil dari BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi), BSNP (Badan Standarisasi Nasional Pendidikan), BAN-PNF (Badan Akreditasi Nasional-Pendidikan Nonformal), 10 forum PTK-PNF, BPKB (Balai Pengembangan Kegiatan Belajar) yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dan para anggota tim akademisi pendidikan nonformal.

Standarisasi di Belantara PNF
Pendidikan nonformal masih jadi belantara yang belum banyak “tersentuh”. Pernyataan ini diungkap oleh Prof. Dr. Dewa Komang Tantra, salah satu anggota tim akademisi pendidikan nonformal yang turut hadir pada acara tersebut. Di tengah belantara ini, sedang dirintis upaya-upaya standarisasi demi meningkatkan mutu dan eksistensi lulusan, pendidik dan tenaga pendidik, dan lembaga-lembaga penyelenggara pendidikan nonformal, di tengah masyarakat luas.

Eksistensi para pendidik pendidikan nonformal mulai dinilai melalui berbagai standar. Untuk jaminan kompetensi tenaga kerja, dipegang oleh BNSP. Kerja-kerja BNSP sebagai lembaga independen, berkewajiban memberikan sertifikasi kompetensi terhadap tenaga kerja yang telah lulus pada level-level tertentu. Kompetensi seorang lulusannya, ditandai oleh selembar surat sertifikat dengan masa berlaku dalam kurun waktu tertentu.

Standarisasi lainnya juga melibatkan BSNP. Mengutip pidato paparan Dr. Suharsono MM., M.Pd di rakor PTK-PNF Februari lalu, dinyatakan bahwa hendaknya para pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal adalah orang-orang yang punya kompetensi dan juga berpendidikan. Sebagian besar dari para PTK-PNF juga berharap memperoleh kesejahteraan melalui pengangkatan CPNS. Di dalamnya terdapat aturan kualifikasi PNS yang mengharuskan para calonnya mengenyam tingkat pendidikan tertentu. “Yang perlu diingat adalah bahwa kompetensi dan kualifikasi sesungguhnya tak diukur dari ijazah sarjana,” tegas Dewa Komang.  

Bagaimana pun, pemerintah melalui Direktorat PTK-PNF telah memberi perhatiannya dalam bentuk program beasiswa rintisan gelar untuk jenjang S1, S2, dan S3. Bekerja sama dengan 17 perguruan tinggi negeri se-Indonesia, antara lain Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Mulawarman, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Negeri Gorontalo, dan Universitas Cendrawasih. Jurusan-jurusan yang disediakan, mayoritas jurusan Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, dan jurusan Pendidikan Luar Sekolah. Untuk jurusan pendidikan anak usia dini, hanya ada di UNJ. Sejauh ini, program beasiswa rintisan gelar untuk memenuhi kebutuhan belantara pendidikan nonformal yang di dalamnya terdapat sekitar 30.000 lembaga kursus, dan tak kurang dari 106 jenis pendidikan keterampilan, tampaknya masih jauh dari sempurna. Namun tetap diharapkan, tahun 2007 program ini dapat mencapai sasaran target sebanyak 231 orang PTK-PNF (untuk jenjang S1).

Standarisasi lainnya sedang dirintis melalui peningkatan kualitas Training Of Trainer (TOT) dan diklat-diklat PTK-PNF. Dalam hal ini, BAN PNF (Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal) terlibat didalamnya sebagai badan pemberi akreditasi di level  lembaga-lembaga dan program-program pendidikan nonformal. Termasuk beberapa komponen didalamnya, yaitu kurikulum dan pembelajarannya, peserta diklat, fasilitator diklat, penyelenggara diklat, sarana dan prasarana diklat, serta pembiayaan diklat.

“Untuk akreditasi ini, BAN PNF mendapatkan sumber referensi standarisasi dari beberapa sumber: BNSP, BSNP, dan Depnaker. Semuanya kita sinergikan, tanpa menghilangkan karakter pendidikan nonformal yang seharusnya tetap dipertahankan,” ungkap Dewa Komang yang juga menjabat sebagai Ketua BAN PNF.
 
Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah khusus pendidikan nonformal (edisi Maret 2007) yang berkantor di Jakarta.

Writer : Ayu N. Andini

~ oleh one1thousand100education pada Juli 12, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: