Dilarang Menduga-duga Uang di Kantung Orang Lain!

Masyhur Asyari S. Pd, pengawas sekolah berprestasi 2006

“Jangan hitung uang di kantung orang lain. Yang penting, tunjukkan kualitas kerja yang terbaik,” tagasnya.

 Terpilih sebagai pengawas sekolah berprestasi tingkat nasional tahun 2006, tak pernah jadi beban berat baginya dalam menjalankan tugasnya sebagai pengawas. Ayah dari 6 anak ini, punya perjalanan karir yang cukup panjang.

Semasa Menjadi Guru
H. Masyhur Asyari, S. Pd telah menjadi guru sejak usianya terbilang muda. Selulus dari SMPN 31 Jakarta tahun 1967, ia memutuskan untuk mengambil pendidikan di SGB Jakarta. Satu tahun kemudian ia sudah mengantongi ijazah Sekolah Guru Bawah (SGB). Sebuah lembaga pendidikan formal untuk guru SD (Sekolah Rakyat) yang sudah dihapus sejak tahun 1968.

 Perjalanan karirnya dimulai tahun 1968. Ia bekerja sebagai guru di SDN Duri Petang, Jakarta Barat. Di sekolah ini ia jadi guru kelas 3. “Saya mengajarkan semua mata pelajaran kecuali mata pelajaran agama dan pendidikan jasmani,” kenangnya. Di sekolah ini, ia diangkat menjadi guru hindria. Status guru hindria adalah untuk guru muda yang seusai SMP langsung mengenyam pendidikan SGB dan mengajar di sekolah-sekolah dasar. Pendapatannya waktu itu hanya Rp 356,- perbulan. “Iya, betul. Tapi sekarang, nilai sebesar itu udah tidak cukup untuk beli beras, ya?” selorohnya.

 Dari tahun ke tahun ia jalani hari-harinya mengajar di sana. Pukul tujuh pagi hingga siang hari, ia menuntut ilmu di Sekolah Pendidikan Guru Negeri (SPGN)  I Jakarta dan lulus dari sana tahun 1970.  “Jangan cuman ijazah SMP plus aja. Nanggung banget!” ucap pria asli Betawi ini.
 Dan 3 tahun setelah lulus, Masyhur memasuki babak baru dalam hidupnya. Ia menikah dengan Yuliati, kekasihnya yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Umur Masyhur masih 23 tahun saat itu. Tapi ia tak gentar dan tak ingin hengkang dari dunianya. Dunia pendidikan.

 Ia makin giat mengajar di SDN Duri Petang dan melanjutkan jenjang pendidikannya. Ia mengambil keputusan untuk berkuliah di Fakultas Hukum, Universitas Islam Jakarta. Kuliah berjalan lancar, namun juga tak diselesaikan hingga gelar sarjana penuh. “Skripsinya saja yang tidak saya selesaikan,” ucapnya.  Ia memutuskan untuk menyudahinya pada tahun 1981.

 Setahun setelah ia usai dari Universitas Islam Jakarta, karirnya sebagai guru SD pun menjadi semakin baik. Tahun 1981 ia dianugerahi sebagai pemenang ke-2, guru teladan se-kotamadya Jakarta Barat. “Ini takdir saya,” ungkapnya.  Ia tak punya kiat-kiat khusus untuk menjadi guru teladan. “Semuanya saya jalani dengan biasa-biasa saja, tidak terlalu ngoyo. Yang penting, disiplin,” katanya. Sejalan dengan itu tahun 1982 ia diajak oleh pihak BP3K (sekarang sudah berganti nama menjadi pusat kurikulum) untuk ikut terlibat dalam proses revisi kurikulum 1972.
 Ia menjalani hidupnya dan tetap setia pada profesinya sebagai guru SD yang bergaji pokok sebesar Rp 40.800,- perbulan. Tahun 1983, ia telah dikaruniai 4 orang anak. Dengan pendapatan sebesar itu, ia harus mencukupi kebutuhan anak-anak dan istri, termasuk dirinya sendiri.

Ditengah aktifitasnya sebagai guru teladan, keadaan telah menuntutnya untuk mencari pendapatan tambahan. Ia juga ikut menggerakkan roda usaha perusahaan keluarga istrinya. “Cuma usaha kecil saja, untuk tambahan. Jadi, alhamdulillah selama itu kami merasa tercukupi,” ujarnya.

Beruntung baginya, di wilayah Kebon Jeruk baru dibuka SMP baru. SMP PGRI 26 Kebon Jeruk. Ia melamar pekerjaan disana. Masyhur menceritakan, “Saya bekerja di sana pada petang hari. Itu kan SMP swasta. Tetapi pagi harinya saya tetap mengajar di SD negeri.” Bekerja di sana, ia langsung mendapat kepercayaan untuk memangku jabatan sebagai wakil kepala sekolah.

Di SMP inilah, untuk pertama kalinya ia berkenalan dengan profesi pengawas sekolah. Tak jarang ia mendapat banyak kritikan tajam dari pengawas karena pada beberapa kesempatan kunjungan, ada hal-hal yang dinilai tak sempurna. Antara lain, absensi guru, daftar nilai harian siswa, dan daftar kemajuan harian kelas. Namun dari pengalamannya inilah, ia banyak mengutip pelajaran.
Disela kesibukannya, Masyhur sudah mulai menguji kemampuannya dalam menyusun soal-soal ulangan umum tingkat sekolah dasar. Soal-soal ulangan umum ini ia buatkan untuk SD swasta. Akhirnya, setiap akan tiba jadual Evaluasi Hasil Belajar (EHB), dirinya makin sering terlibat dalam proses penyusunan soal. 

 Tahun berikutnya, ia diangkat sebagai Pelaksana Harian SDN Duri Kepa 06 Pagi. Jabatannya mengemban tugas yang tak jauh beda dengan tugas kepala sekolah waktu itu di tempatnya. Ini karena gelarnya yang bukan sarjana pendidikan dan pangkatnya yang belum memenuhi syarat. Persyaratan kualifikasinya belum terpenuhi. Tapi ia bukan orang yang mudah menyerah.
 Masyhur yang waktu itu juga mengajar di SMP PGRI 26 Kebon Jeruk, Jakarta Barat, mulai melirik PGSMTP (Pendidikan Guru Sekolah Menengah Pertama) untuk memantapkan profesionalitasnya. Pada tahun 1985, ia mengikuti pendidikan di PGSMTP Jakarta. Saat itu ia memilih untuk mendalami Bahasa Indonesia dan menyelesaikan studinya tahun 1986. Tak kenyang sampai di situ, ia lanjutkan pendidikannya ke Universitas Terbuka dan lulus Diploma I pada tahun 1990. Lagi-lagi, ia melakukan semuanya sambil terus mengajar di SDN Duri Kepa 06 pagi.

 Ditengah kesehariannya sebagai guru, ia juga aktif ikuti kegiatan Pramuka di lingkungan sekolahnya. Tak sia-sia, kesibukan ini pun membuahkan hasil. Tahun 1988, ia ditunjuk oleh Kwartir Nasional Gerakan Pramuka sebagai tim pelatih Pembina Pramuka di Timor Timur dalam rangka persiapan Musyawarah Nasional. “Dari aktifitas saya di Gerakan Pramuka inilah, saya banyak mendapatkan pelajaran dan rasa percaya diri. Sebenarnya saya ini pemalu, tak pandai bicara di depan orang banyak,” akunya tersipu-sipu. 

 Menginjak tahun 1991, tugasnya mengajar di SDN Duri Kepa 06 pagi dimutasikan ke SDN Kedoya 09, Jakarta Barat. Ternyata, ini adalah peluang yang terbaik. Kesempatan pindah tugasnya sekarang diberikan sesuai dengan kapasitas Masyhur. SDN Duri Kepa 06 Pagi bermurid 250 orang. Sedangkan SDN Kedoya 09 bermurid 500 orang. “Sebuah tantangan tersendiri untuk saya,” ujar Masyhur bangga.

Semangatnya untuk melanjutkan pendidikan, terus berkobar. 3 tahun berikutnya, ia melanjutkan studi Diploma II (DII) di Universitas Terbuka dan lulus tahun 1994. Ditengah masa studinya DII-nya, ada info tentang program kuliah sore dari IKIP Jakarta. Ia memberanikan diri untuk mendaftar ke sana, dengan biaya sendiri. Ternyata, ia hanya perlu menempuh 60 Sistem Kredit Semester (SKS) saja. Dan Masyhur merampungkannya dalam 4 semester. Tahun 1995, ia resmi menyandang gelar sarjana pendidikan di belakang namanya. 

Ia menjalani hari-harinya sebagai guru seperti biasanya. Dan pada bulan Juni 1996 ia resmi diangkat oleh Dikdas DKI Jakarta sebagai pengawas TK dan SD di wilayah Binaan I, Jakarta Barat. Masyhur Asyari, S.Pd menjalankan tugas sepenuhnya sebagai pengawas TK dan SD sejak bulan Januari 1997.

Dipilih Jadi Pengawas
Ia bekerja sebagai pengawas sekolah TK dan SD, di Wilayah Binaan I, Kelurahan Sukabumi Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat selama 4 tahun. Kemudian dipindahtugaskan ke Wilayah Binaan IV, Kelurahan Kebon Jeruk dan sekitarnya. Kini, ia menjadi pengawas di wilayah Binaan Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Ada 6 TK swasta dan 13 SD Negeri dan swasta yang berada di bawah pengawasannya. Tahun 2006 yang lalu, menjadi tahun gemilang untuk karirnya. Ia terpilih sebagai pengawas berprestasi se-DKI Jakarta.

 Pria bersahaja ini, berpikiran sederhana. Ia mengatakan tak punya kiat-kiat khusus untuk meraihnya. “Saya ini dipilih. Saya hanya menjalani tugas dengan sebaik-baiknya. Jadi, semua tentang saya, ada di mata orang lain. Begitu juga dengan baik dan buruknya,” ucapnya.
 Ia hanya berpegang teguh pada tugas utama pengawas yang jadi acuannya selama bekerja. Tugas utama pengawas adalah membina. Beberapa hal yang berkenaan dengan tugas ini, yaitu membina tugas-tugas guru dalam menyusun program pengajaran, teknik dan kegiatan pembelajaran, serta evaluasi hasil belajar anak didiknya. Sedangkan pembinaannya terhadap kepala sekolah, dilakukan sesuai dengan program Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Selain membina, pengawas juga wajib menilai hasil kerja dan kinerja guru, serta kinerja kepala sekolah. 
 Dahulu, Masyhur yang notabene berlatarbelakang guru SD ini merasa agak canggung ketika diserahi tugas untuk pertama kalinya jadi pengawas sekolah Taman Kanak-Kanak. Beruntung baginya, tak berapa lama diangkat menjadi pengawas, ia diberi kesempatan untuk mengikuti diklat yang diadakan oleh Direktorat Pembinaan TK dan SD waktu itu. Sejak itu, ia jadi lebih percaya diri ketika berkunjung ke TK.

 Setiap jadual kunjungannya ke sekolah-sekolah, dimaknai olehnya sebagai proses pembelajaran yang sangat berharga. Salah satunya adalah ketika ia berkunjung ke TK Parkit di kawasan Jakarta Barat 2 tahun yang lalu, ia mendapati sebuah sistem evaluasi dan pencatatan perencanaan pembelajaran yang cukup baik dan belum pernah ia temukan di tempat lain. Ini bisa menjadi model bagi sekolah-sekolah TK yang lain.

Menjadi pengawas tak lantas membuat dirinya berposisi lebih tinggi daripada guru dan kepala sekolah. “Jangan pernah malu untuk bertanya. Biarkan saja mereka tahu bahwa ada sesuatu yang tidak kita ketahui. Namanya juga pengawas, kan wajar kalau kita mendapati banyak hal baru ketika bekerja,” tegasnya.

Ia juga percaya bahwa profesi pengawas punya potensi daya jual yang baik. Ini adalah sebuah bandingan yang dibuatnya atas berbagai isu miring tentang “pengawas penerima amplop”. Menurutnya, dengan kualitas kerja yang dijalankan sebaik-baiknya sesuai dengan pedoman ditambah dengan kualitas wawasan penilaian yang baik, maka mustahil pengawas sekolah bisa dilecehkan. 

Kedudukannya sebagai koordinator pengawas untuk wilayah Jakarta Barat (sejak tahun 2002 hingga sekarang), membuatnya wajib untuk terus menanamkan paradigma terbaik bagi para pengawas lainnya. “Saya selalu berpesan kepada teman-teman saya sesama pengawas di sini. Jangan pernah menghitung uang di kantung orang lain. Tapi tunjukkan dulu, kualitas kerja kita yang terbaik,” ucapnya tegas.

Falsafah Air
Penggemar olahraga tenis meja ini masih terlihat bugar diusianya yang menjelang 57 tahun. “Sekarang sudah tak rajin lagi olahraga,” akunya. Tentang falsafah hidupnya, ia berbagi cerita tentang sebuah buku yang belum lama ini dibacanya. “Ini tentang falsafah air,” ujarnya. Ia menjelaskan, bahwa hidupnya seperti falsafah air. Mengalir begitu saja, membasahi dan mengairi daratan tepiannya serta memberikan manfaat bagi yang ada disekitarnya.
Mengenai suka dukanya menjadi pengawas sekolah, ia menjawab sangat diplomatis. “Jengkel, sedih, gembira, itu sangat manusiawi. Saya menjalani semua pekerjaan dengan perasaan enjoy. Supaya tak menjadi beban,” jelasnya.

Tugasnya lebih sering tak di dalam kantor. Kira-kira 70% kegiatannya dilakukan diluar kantor. Kunjungannya ke sekolah rutin ia lakukan 2 minggu sekali. Bahkan jika diperlukan pembinaan yang intensif, kunjungan dilakukan seminggu sekali untuk sekolah yang bersangkutan.
Sebagai pengawas berprestasi, H. Masyhur Asyari, S. Pd berharap pemilihan pengawas berprestasi ataupun pengawas berdedikasi yang dilakukan oleh Depdiknas, dapat menjadi salah satu motivasi bagi kinerja pengawas sekolah di Indonesia. 

Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah pendidikan (edisi Mei-Juni 2007) dan berkantor di Jakarta. 

Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini

 

~ oleh one1thousand100education pada Juli 16, 2007.

Satu Tanggapan to “Dilarang Menduga-duga Uang di Kantung Orang Lain!”

  1. Selamat untuk pak masyhur. semoga kiprahnya di bidang pendidikan tetap aksi. guru dan ks mengharapkan bimbinganmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: