Modalnya cuma Cinta

ibu-soedarini-02-photo-by-didi.jpg

“Melayani kebutuhan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, memang harus sabar. Hati kita tak boleh berkeluh kesah. Musti ikhlas. Karena mereka bisa membaca hati kita,” ucapnya.

Soedarini lebih sering dipanggil dengan sebutan “Bu Rini”. Ia telah mengabdi selama 35 tahun di pendidikan luar biasa. Profesinya sebagai guru sekolah luar biasa telah dimulai sejak usianya 21 tahun. Setahun yang lalu, ia baru saja menerima penghargaan sebagai kepala sekolah berdedikasi tingkat nasional.

Tak Sengaja, Jadi Jatuh Cinta
Soedarini dibesarkan di lingkungan ningrat. Ayahnya, R. Djiwo Soedarsono adalah seorang kepala sekolah. Ia menginginkan Soedarini muda mengikuti jejaknya sebagai guru. Sedangkan Ibunya, R. Ngt. Mujiyah, adalah seorang apoteker yang juga menginginkan Soedarini berkarir di dunia apoteker. Akhirnya Soedarini mengambil jalan tengah dan memilih meneruskan pendidikannya ke Sekolah Menengah Atas (SMA). Tahun 1969 ia menamatkan pendidikannya di SMA III IKIP Yogyakarta. 

Masa kecil dan remajanya ia habiskan di rumah orang tuanya, di desa Pakem Selatan, Yogyakarta. Waktu itu, mereka sekeluarga dikunjungi oleh salah satu sepupunya dari kota. Sang sepupu telah menjadi guru di sebuah TK yang menangani anak berkebutuhan khusus. Ia lalu menyarankan kepada orang tua Soedarini agar Soedarini muda, mau menjadi guru agar mudah diangkat menjadi pegawai negeri. “Jaman dulu, orang awam berpikir bahwa profesi guru adalah jalur mudah untuk menjadi pegawai negeri,” kenangnya.

Lalu Soedarini diajak berkunjung ke kota, melihat sekolah TK tempat sepupunya mengajar. Ada keterkejutan luar biasa dalam hati Soedarini. Anak-anak yang ada di dalam ruangan kelas, adalah anak-anak yang memiliki cacat mental. Tak terbayangkan di benaknya, bagaimana jika kelak ia menangani anak-anak yang berkondisi seperti itu.

Tapi ia tetap mendaftarkan dirinya ke Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB) Negeri Yogyakarta. Serangkaian test ia jalani. Tak disangka, ia lulus dan diterima berkuliah di sana. Ada banyak ilmu baru yang ia peroleh. Salah satunya, adalah mata kuliah ilmu kejiwaan. Ilmu yang sangat jauh berbeda dari ilmu-ilmu eksakta yang sangat ia gemari. Semuanya berjalan lancar. Ia menamatkan pendidikan SGPLB Negeri Yogyakarta pada akhir tahun 1971.

  Menginjak bulan Maret 1972, Soedarini mengajukan lamaran kerjanya ke Sekolah Luar Biasa (SLB) C Panti Asih Pakem, Yogyakarta. Ia diterima dan bekerja di sana dengan gaji pokok Rp 3.500,- perbulan. “Lumayan buat jajan dan kebutuhan sendiri. Saya belum menikah dan masih tinggal dengan orang tua waktu itu,” ucapnya.  

Sekolah ini berada di bawah pengelolaan Yayasan Panti Asih Pakem. Sebuah yayasan milik para misionaris. Di sekolah inilah, Soedarini mendapat banyak pelajaran dibawah bimbingan ketua Yayasan Panti Asih Pakem yang waktu itu dijabat oleh Pak Saragih.

Selama bekerja di sana, ia dididik untuk bisa menangani anak-anak tuna grahita (anak yang mengalami hambatan kecerdasan intelektual, emosi, sosial, dan fisik) kategori sedang, usia 6 tahun s/d 20 tahun. Materi yang diajarkannya khusus untuk pengaktifan pergerakan (motorik kasar dan motorik halus). Penanganan yang ia lakukan bersifat individual. Ia jadi makin dekat dengan murid-muridnya. Ada rasa cinta yang diam-diam tertanam dalam hatinya. Soedarini mulai mencintai dunia kerjanya. Ia mulai jatuh hati pada anak-anak berkebutuhan khusus ini. Hatinya tak bisa berpaling lagi.  

Dua tahun kemudian, ia hijrah ke Jakarta untuk mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Sumber Asih I, di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Menangani anak-anak tuna grahita kategori sedang, usia 7 tahun s/d 10 tahun, dan anak-anak hyperactive usia 6 tahun s/d 9 tahun. Selama 6 tahun, ia tercatat menjadi guru di sana.

Di tengah rutinitasnya mengajar di SLB Sumber Asih I, ia mendapat tawaran mengajar di SLB Luhur Asih (tahun 1987), Pulo Mas, Jakarta Timur. Sejak itu, ia menghabiskan waktu siang hingga petangnya di SLB Luhur Asih. Soedarini mendapatkan banyak pelajaran baru di sana. Karena untuk pertama kalinya, ia bekerja menangani anak-anak down syndrome (anak dengan kelainan kromosom) yang border line (angka IQ dibawah 79) berusia 1,5 tahun s/d 14 tahun.

Berjalan 2 tahun, karirnya mulai meningkat. Ia diangkat menjadi kepala sekolah di SLB Luhur Asih hingga tahun 1992.  Jabatan ini tak mengganggu rutinitasnya mengajar di SLB Sumber Asih I. Ini terbukti ketika tahun 1991, ia pun diangkat jadi wakil kepala sekolah di SLB Sumber Asih II hingga tahun 2000.  

Pada pertengahan jabatannya sebagai wakil kepala sekolah, tahun 1992 ia mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Sarjana di Universitas Nusantara (Uninus) Bandung, jurusan pendidikan luar biasa. Sejak tahun 1992, akhir pekannya (Sabtu dan Minggu) dipenuhi dengan jadual kuliah di Bandung hingga berhasil lulus di tahun 1996.

 Genap pada tahun 2000, Soedarini mendapat tawaran untuk menjadi kepala sekolah di SLB BC Cempaka Putih. Sekolah swasta ini, tak hanya menangani anak-anak tuna grahita, tetapi juga tuna rungu (anak dengan kelainan wicara dan pendengaran). Untuk hal yang terakhir, jadi bidang baru yang harus dipelajarinya. Selama 6 bulan Soedarini mengobservasi kebutuhan-kebutuhan anak-anak didiknya. Setelah itu, barulah ia diangkat secara resmi menjadi kepala sekolah di sana. “Proses adaptasinya tak hanya dengan ilmunya saja, tetapi juga dengan anak-anak didik, dan rekan-rekan guru disini,” kenang Bu Rini.

Sekolah ini berdiri di tengah lingkungan yang terbilang kumuh. Murid-muridnya pun mayoritas berdatangan dari golongan ekonomi menengah ke bawah. Selama periode kepemimpinannya di sekolah ini, SLB Cempaka Putih menerima bantuan. Bantuan dari Dinas Pendidikan Dasar  melalui program IMBAL Swadaya, merehab gedung sekolah (tahun 2003 s/d 2004) untuk 4 lokal, selain ruang belajar. Sekolah yang bermurid 63 orang ini, juga menerima bantuan langsung dari pemerintah Negara Chille pada tahun 2004 berupa alat tulis, dan pembangunan sumber air bersih di sekolah.

Banyak kemajuan yang tercatat di sana. Termasuk dalam metode pembelajarannya. Secara rutin dalam 2 minggu sekali, Bu Rini mengadakan pertemuan dengan para guru sekolahnya. “Kami membahas semua kegiatan pembelajaran yang telah dan akan dilakukan di sekolah kami. Supaya perkembangannya tercatat,” ucapnya tegas.

Kedekatannya dengan PLB
Ia  tak hanya sibuk di dalam sekolah saja. Kiprahnya untuk pendidikan luar biasa, disalurkan dalam berbagai keterlibatan dirinya dalam seminar-seminar, penataran guru SLB, dan diklat-diklat. Terhitung, ada 62 lembar surat keterangan penghargaan, sertifikat, dan piagam penghargaan yang ia terima sepanjang tahun 1974 hingga 2007 kini.

Kiprahnya yang cukup signifikan dimulai pada tahun 1990. Waktu itu Bu Rini terlibat dalam tim penulis penataan dan penyusunan Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Kurikulum SLB bagian C tingkat persiapan/lanjutan di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) . Kemampuannya diakui. Dua tahun berikutnya ia dilibatkan dalam tim penyempurnaan draft buku pedoman Sekolah Luar biasa, juga sebagai tim penyusunan/penilaian buku petunjuk teknis kurikulum TKLB, SDLB, SLTPLB, SMLB. 

Selain itu, usai mengikuti penataran dan penulisan soal EBTANAS SDLB tahun pelajaran 2000/2001. Bu Rini dilibatkan dalam proses penulisan soal Ebtanas SDLB tahun pelajaran yang sama. Sekarang, tak ada lagi Ebtanas. Tapi Bu Rini tetap terlibat sebagai tim penulis soal Ujian Akhir Nasional SLTPLB dan SMLB tahun pelajaran 2002/2003.

Ibu beranak 4 ini, tak kenal lelah. Kontribusinya terhadap pendidikan luar biasa tak sekedar surat-surat piagam. Dukungan terbesar pun datang dari lingkungan terdekat. Anak-anak, dan suaminya. Mereka tak pernah mengeluh jika murid Bu Rini kerap datang ke rumahnya langsung untuk belajar privat.

Semasa ia masih menjadi guru, tak sedikit orang tua murid yang memintanya untuk mengajar privat. “Anak-anak ini, pada umumnya berasal dari keluarga berada. Orang tuanya selalu ingin mendapatkan perhatian lebih dari para guru untuk kemajuan anak-anak mereka. Tapi bukan hal itu yang mendorong saya untuk mengajar privat,” tegasnya.

Ia mengakui, sesungguhnya ia rela mengorbankan banyak waktu dalam hidupnya untuk anak-anak penyandang cacat ini karena rasa cintanya pada anak-anak. “Mereka punya kebutuhan khusus yang harus kita perhatikan sungguh-sungguh secara individual,” ucap Bu Rini.   
Bu Rini punya pengalaman berkesan dengan salah satu muridnya di SLB Luhur Asih yang bernama Maria Katriona. Anak ini dididik di sekolah dan diajar privat di rumahnya. “Kedekatan saya dengannya sudah seperti ibu dan anak kandung. Hampir tiap hari saya mengasuh dan mengajar privat Maria. Sebab Maria tergolong dalam border line.  Tapi kemajuannya luar biasa. Yang tadinya dari SLB, sampai bisa berintegrasi dan bersekolah di TK dan SD untuk anak normal,” paparnya.

Ini hanya secuil cerita pengalamannya. Pengalaman-pengalamannya yang lain di dunia pendidikan luar biasa, mulai ia tuangkan dalam bentuk tulisan, dengan judul Menolong Diri Sendiri. Kumpulan tulisan yang berisi pengalamannya mengajar anak-anak berkebutuhan khusus. Kumpulan tulisannya ini direncanakan akan dibukukan. Sejak tahun 2001, naskah aslinya telah masuk ke Subdit Pendidikan Luar Biasa (sekarang disebut sebagai Direktorat Pendidikan Luar Biasa). Namun hingga kini naskah itu masih belum dicetak dan diperbanyak.

“Tapi salinannya masih selalu saya pakai untuk modul tutorial. Untuk jadi model saja. Supaya bisa menularkan pengalaman-pengalaman saya kepada para guru selama mengajar anak-anak tuna grahita,” ungkapnya.

Selain itu, Bu Rini juga menyusun makalah yang berjudul ‘Apakah Saya Bisa Mandiri’. Makalah yang berisi materi-materi Activity Day Living (ADL) ini disajikan pada acara penataran guru-guru dari seluruh Indonesia di Kupang (tahun 2003 dan 2006) serta di Banten (2002).
 Ada banyak buku teori tentang penangan anak-anak berkebutuhan khusus. Namun Bu Rini mengatakan, “Teori boleh banyak. Tapi kita harus punya modal cinta kasih yang benar-benar tulus kepada anak-anak ini. Karena mereka punya perasaan yang lebih peka daripada anak-anak normal. Mereka bisa merasakan jika hati kita tak tulus.”

Ketulusan inilah yang mengantarkannya pada prestasi gemilang. Bu Rini memang layak mendapatkan penghargaan sebagai Kepala Sekolah Berdedikasi tingkat nasional pada tahun 2006 silam. 

Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah pendidikan (edisi Mei-Juni 2007), dan berkantor di Jakarta. 

Writer : Ayu N. Andini

~ oleh one1thousand100education pada Juli 16, 2007.

3 Tanggapan to “Modalnya cuma Cinta”

  1. kalau panduan proposal disembunyikan oleh orang-orang dinas apa maksudnya coba?

  2. kasih masuk aja nanti di kompas biar seru

  3. aku ifah kul d PLB UNS smt2 yang saya tanya bagaimana strategi dan metode pembelajaran ATG. apa saja dan bagaimana hasilnya. apakah bisa di sosialisasikan? thanks. moga di jawab. buat tugas sih. he he

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: