PAUD di Tanah Tradisi Banten

Pelepasan 1000 orang anak lulusan PAUD, Serang, Banten, 2007. Photo by Ayu N. Andini

Banten memang punya warisan tradisi yang biasa disebut Banten Kolot. Memang tak mudah segala hal yang modern bisa masuk ke sini,” ungkap H. Nawawi A.F, Kepala Subdinas Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda, dan Olah Raga, di Provinsi Banten. Namun keadaan ini tak jadi penghalang. Banten malah menjadi daerah yang dipilih Depdiknas sebagai target proyek percontohan Bank Dunia untuk penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada tahun 1997 lalu.

Pemerintah Provinsi Banten sebagai provinsi yang ke-30 di Indonesia, dibentuk dengan Undang-undang No. 23 Tahun 2000 Tanggal 17 Oktober 2000 tentang Pembentukan Provinsi Banten dengan wilayah meliputi Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Cilegon dan Serang jadi ibukota provinsinya. Berdasarkan UU RI Nomor 23 tahun 2000 luas wilayah Banten adalah 8.651,20 Km2 . Secara wilayah pemerintahan Provinsi Banten terdiri dari 2 Kota, 4 Kabupaten, 140 Kecamatan, 262 Kelurahan, dan 1.242 Desa. Mayoritas penduduknya memiliki semangat religius ke-Islaman yang kuat dengan tingkat toleransi yang tinggi.  

Prioritas pemerintah Provinsi Banten terpancang pada dua hal, yakni pemberantasan buta huruf dan penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 tahun. Berdasarkan data Dinas Pendidikan Provinsi Banten tahun 2006, masih ada sekitar 203.000 orang penduduknya yang buta aksara. Sedikit banyak, hal ini memberi pengaruh yang cukup signifikan. “Dana APBD memang banyak tersedot ke program penuntasan Wajar Dikdas 9 tahun dan pemberantasan buta aksara. Khusus untuk Pendidikan Anak Usia Dini, memang masih menduduki prioritas yang kecil,” ucap Widodo Hadi, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten.
 
Penyelenggaraan PAUD di Banten
“Penyelenggaraan PAUD yang ideal, masih terbatas,” tutur H. Nawawi AF. APK nya di asumsikan masih terhitung rendah. Berdasarkan data tahun 2005 dari subdinas PLSPO Provinsi Banten, Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk usia PAUD (0 s/d 6 tahun) baru mencapai 15,66 % dari sekitar 400.000-an anak di Banten.

PAUD yang diselenggarakan di Banten, tak beda jauh dari konsep layanan yang ada di Jakarta. Yakni, melayani kebutuhan pendidikan bagi anak usia 0 s/d 6 tahun yang tak terlayani di taman kanak-kanak, karena berbagai alasan. Salah satunya karena biaya pendidikan di Taman Kanak-kanak yang relatif lebih mahal daripada PAUD. “50% PAUD di sini, adalah PAUD nonformal yang mandiri. Dan diatas 50% juga, sasaran muridnya adalah anak-anak dari golongan ekonomi lemah,” jelas H. Nawawi.

Diakuinya, bahwa animo masyarakat terhadap pentingnya PAUD di Banten, sangat tergantung pada kemampuan ekonomi dan latar belakang pendidikan. “Masih sedikit masyarakat Banten yang paham pentingnya PAUD,” ujar Drs. Sugeng Purnomo M. Pd, Ketua Forum PAUD Provinsi Banten.

Forum PAUD Provinsi Banten telah didirikan sejak 3 tahun yang lalu. Titik berat program kerjanya adalah sosialisasi PAUD dan program-program PAUD. “Sasarannya memang masyarakat umum dan para perangkat pemerintah daerah yang ada di dinas-dinas pendidikan kabupaten dan kota, serta PKK Provinsi,” ucap Sugeng Purnomo. Dipaparkan bahwa selama menjalankan sosialisasi ke kabupaten dan kota, forum PAUD  banyak bekerja sama dengan lintas instansi, yaitu PKK Provinsi, Dinas Pendidikan kabupaten dan kota, dan Himpaudi Provinsi Banten.

Rutinitasnya melakukan monitoring dan evaluasi, selama sebulan sekali hanya memusatkan perhatiannya pada PAUD yang bermutu rendah. “Kualitas penyelenggaraan PAUD di sini memang masih sangat variatif. Namun kendala terbesar yang dialami PAUD-PAUD ini adalah masih kurangnya dana penyelenggaraan,” ungkap Sugeng.
Dikhawatirkan ini juga berimplikasi terhadap kelengkapan sarana dan prasarana, Tambahnya, “Kebanyakan, PAUD yang kualitasnya masih rendah adalah PAUD yang tempatnya belum permanen dan belum punya Alat Permainan Edukatif (APE).”

Forum PAUD Banten yang beranggotakan 19 orang termasuk di dalamnya beberapa orang pengurus ini, terdiri dari para akademisi, praktisi PAUD, personil dari Dinas Pendidikan Provinsi Banten, personil PKK Provinsi Banten, BKKBN, Dinas Kesehatan, dan Departemen Agama. Dalam menjalankan tugasnya, Forum PAUD Banten juga mendapat sokongan biaya operasional. “Tahun 2006 lalu, Forum PAUD Provinsi Banten mendapat bantuan dana operasional sebanyak Rp 40 juta dari dana dekonsentrasi APBN,” ucap Sugeng yang kini masih aktif jadi dosen di Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. 

Dana operasional ini banyak digunakan untuk sosialisasi PAUD dan program-program PAUD sebanyak 2 kali dalam setahun. Selain itu,dana ini juga banyak mendukung kegiatan-kegiatan monitoring dan evaluasi yang dilakukan sebulan sekali di setiap PAUD yang membutuhkan.

Di samping lakukan monitoring dan evaluasi, Forum PAUD juga lakukan pembinaan terhadap PAUD-PAUD se-Banten. “Kami juga berikan pembinaan melalui kegiatan pelatihan untuk para tutor PAUD, tahun ini jumlah sasarannya mencapai jumlah 40 orang,” aku sugeng.

Upaya sosialisasi dan peningkatan tutor PAUD, banyak berpengaruh terhadap penyelenggaraan PAUD di Banten. “Tahun 2007 ini ada 400-an PAUD  yang telah terselenggara di Banten,” ucap Wahyudin, S. Pd, staf pengelola program PAUD Provinsi Banten. Jumlah ini terdiri dari 100-an PAUD yang ada dibawah pengelolaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), 40-an PAUD yang ada dibawah pengelolaan Yayasan, 12 PAUD sejenis (berbentuk Taman Penitipan Anak) di Kota Cilegon dan Kabupaten Tanggerang, serta sekitar 250-an berbentuk PAUD yang pengelolaannya terintegrasi dengan Bina Keluarga dan Balita (BKB).

“Bisa diasumsikan, pertumbuhan jumlah PAUD di Banten dalam tiap tahunnya bisa mencapai 10%,” ucap H. Nawawi. Percepatan pertumbuhan ini didukung oleh pengelolaan PAUD yang terintegrasi dengan BKB. Menurut Sugeng, “Untuk proses sosialisasi melalui personil PKK Provinsi Banten, jadi lebih efektif. Efeknya juga sangat terlihat. Buktinya, ada lebih dari 50% PAUD di Banten yang pengelolaannya terintegrasi dengan BKB.”

Terhadap pesatnya pertumbuhan PAUD yang berintegrasi dengan BKB ini, H. Nawawi menanggapi bahwa memang ada beberapa dampak yang muncul. “Sudah jelas, berefek positif, karena bisa meningkatkan angka partisipasi kasar. Namun, kadang kualitas para tutornya yang kami khawatirkan juga,” ujarnya. Mengingat PAUD yang berintegrasi dengan BKB, roda kegiatannya banyak “digerakkan” oleh ibu-ibu PKK daerah setempat yang kadang nota bene bukan tutor PAUD yang memiliki latar belakang pendidikan/keilmuan pendidikan khusus untuk anak usia dini.

Ia mengharapkan adanya pembinaan melalui kegiatan-kegiatan pelatihan bagi para tutor PAUD di Banten. “Kami juga banyak dibantu dan bekerjasama dengan Forum PAUD dan Himpaudi Provinsi Banten,” ujarnya.

Himpaudi Provinsi Banten, didirikan sejak tanggal 22 Agustus 2006 lalu. Umurnya memang sangat muda. “Kami baru satu tahun berkegiatan,” ujar Hj. Titin Prihatini M.Pd, Ketua Himpaudi Provinsi Banten. Ia juga menjelaskan bahwa titik berat program kegiatan Himpaudi adalah pada peningkatan mutu tenaga pendidik dan tenaga kependidikan PAUD di Banten.

Mengenai mutu para tutor PAUD se-Banten yang terintegrasi dengan BKB, Titin merespon dengan beberapa solusi praktis yang telah dilakukan. Yaitu melakukan pendekatan-pendekatan persuasif kepada kader-kader PKK yang ada di setiap POSYANDU. “Jika kesadaran tentang pentingnya PAUD ini bisa muncul dengan kuat, ini tidak akan banyak terpengaruh dengan berapa banyaknya dana yang dikeluarkan, tetapi akan lebih memperhatikan bagaimana model pembelajarannya,” tegas Titin yang kini sedang meneruskan jenjang pendidikan S3 Jurusan PAUD di Universitas Negeri Jakarta.  Oleh karenanya, penekanan program tentang perlunya peningkatan mutu pendidik PAUD dan pengelola PAUD, disosialisasikan di tingkat kabupaten hingga ke tingkat kelurahan.

Ia bersama tim pengurus dan para anggota di Himpaudi Provinsi Banten yang seluruhnya berjumlah 21 orang ini, telah menjalankan berbagai upayanya tanpa pamrih. “Kami ini hanya sekumpulan orang-orang yang solid saja. Yang mau bekerja tanpa gaji dan kompensasi,” aku Titin. Bersama-sama, mereka berupaya menyelenggarakan diklat, magang, seminar, workshop/pelatihan-pelatihan, dan mengupayakan pemberian sertifikat kepada para tutor PAUD yang latar belakang pendidikannya bukan dari PAUD maupun PGTK di Provinsi Banten.

Himpaudi Provinsi Banten, punya daftar kerja dan target yang cukup panjang untuk menggenjot mutu tenaga pendidik di sana. Pasalnya, dari 2000-an orang tenaga pendidik PAUD di Banten, baru sekitar 100 orang saja yang memenuhi kualifikasi atau yang memiliki ijazah PGTK dan ijazah S1 PAUD. Sejalan dengan kondisi ini, beberapa program diluncurkan.

Himpaudi Provinsi Banten punya program rutin yang disebut, Himpaudi Roadshow. Setiap satu bulan sekali, Himpaudi yang ada di setiap kabupaten, melakukan pelatihan singkat untuk para tutor PAUD. Minimal, di setiap kabupaten ada 5 orang tutor yang ikut pelatihan singkat setiap bulannya. Himpaudi yang paling rutin menjalankan Himpaudi Roadshow sebulan sekali, baru hanya Himpaudi Kabupaten Cilegon saja. Kegiatan ini sudah dimulai sejak tahun lalu hingga sekarang.

Selama perjalanan tugasnya pada tahun 2006 lalu, Sudin PLSPO Provinsi Banten juga telah mengikutsertakan para tutor PAUDnya sebanyak 40 orang dalam pelatihan BCCT, bekerjasama dengan Himpaudi Provinsi Banten. Selain itu, beberapa orang pengurus Himpaudi juga dikirim magang di YARSI pada bulan Mei 2007 lalu. Kegiatan magang dimaksudkan agar pengurus Himpaudi di tingkat Provinsi Banten, dapat mensosialisasikan wawasan dan ilmu pengetahuan yang ia peroleh di YARSI kepada seluruh pengurus Himpaudi di Kabupaten dan Kecamatan. “Termasuk tentang bagaimana pola pembelajaran  yang paling cocok untuk PAUD di Banten,” jelasnya. 

Dukungan untuk PAUD Provinsi Banten
Walaupun menduduki prioritas yang bukan utama, namun peningkatan mutu penyelenggaraan PAUD di Banten tetap dijalankan. Dukungan datang dari pemerintah pusat melalui dana APBN dan program Depdiknas melalui Direktorat PAUD dan Direktorat PTK-PNF (Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Nonformal).

“Tahun 2006 lalu, Banten telah menerima beasiswa untuk peningkatan mutu PAUD dari Direktorat PTK-PNF. Ada 100 orang tutor PAUD yang diajukan. Hasilnya, 42 orang yang akhirnya lolos seleksi dan menerima beasiswa S1,” tutur H. Nawawi.  Selain itu, program dana rintisan juga diluncurkan melalui Direktorat PAUD. Ia memaparkan bahwa ada 3 daerah yang menerima bantuan dana rintisan, meliputi Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, dan Kabupaten Tanggerang. Untuk masing-masing PAUD penerima, diberikan dana rintisan sebesar Rp 25 juta,-. Dalam prakteknya, dana ini dialokasikan untuk pembangunan sarana fisik, kebutuhan sarana alat permainan edukatif, dan operasional harian.

Pemerintah Provinsi Banten juga turun tangan. APBD provinsi Banten per tahun 2007 ini, mengalokasikan dananya untuk Subdin PLSPO sebanyak Rp 14 miliar,-. “Ini tak hanya untuk program PAUD saja. Ini untuk seluruh program PLS,” aku H. Nawawi AF.

Menurut penuturan Titin Prihatini dari kondisi di lapangan masih ada 50% PAUD yang kondisinya memprihatinkan. Upaya Provinsi Banten dalam peningkatan mutu PAUD dan mensejahterakan para tutor PAUD telah menemukan jalan keluar. “Selain insentif untuk para tenaga pendidik PAUD, bantuan yang datang dari Dinas PLSPO Provinsi Banten juga berupa Alat Permainan Edukatif (APE). Ini sangat membantu proses pembelajaran di sana,” ujar Titin.   

Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah pendidikan (edisi Juli-Agustus 2007) dan berkantor di Jakarta.

Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini 

      
 

~ oleh one1thousand100education pada Juli 21, 2007.

4 Tanggapan to “PAUD di Tanah Tradisi Banten”

  1. Asllm. saya senang dapat membaca tulisan anda, karena saya juga seorang pendidik PAUD yang kebenaran saya kelola sendiri saya di bantu oleh 2 orang tutor, saat ini Paud kami baru menerima bantuan dari pemerintah daerah berupa bantuan transport untuk tutor yang besarnya Rp.200.000,/ bulan/ paud, sementara untuk dana lain-lain kami tanggulangi sendiri. oh,, iya,, yang mau saya tanyakan bagaimana caranya mendapatkan beasiswa S1 dan dana Rintisan terima kasih (Etik,Ogan Ilir Sumsel)

  2. singkat aja yach pak…

    Instrumen Apapun bentuknya dalam rangka pendidikan bagi usia dini
    yang paling menentukan adalah kualitas terbina keluarganya (Good family). ini terkait pada rumus pemahaman bahwa keluarga merupakan ‘senjata inti’ (nuclear) bagi tercipatanya manusia bermasa depan baik, dan berbudaya sehat.

    Jika keluarganya (ayah dan Ibunya) miskin dan susah maka ‘si’ amin, udin, ucu, yang masih dini dipastikan lebih berpeluang menjadi orang susah. Sebab ketidak berdayaan ekonomi.

    Untuk PAUD Programme, lebih baik kaji dulu keadaan ekonomi dikalangan keluarga pseserta didik secara rinci, baru setelah itu bisa membedakan mana yang pantas di bantu dan mana yang pantas disinergikan dengan PAUD programme, supaya APBN dan APBD mencukupi. Ok Bos!…

  3. Seneng sekali PAUD BANTEN ada perhatian dari penulis Ayu. N Andini, Masih banyak hal-hal yang perlu diangkat agar PAUD BANTEN maju. (de PKBM PELITA SAKETI PANDEGLANG)
    Apa Kabar Mba ayu? Kapan Nulis Tentang PAUD dan PKBM Lagi?
    tolong alamat E-Mail nya dong

  4. Assalamualaikum, senang sekali bisa ikut bergabung. Saya adalah seorang pengelola dan tutor PAUD di wilayah Kota Tangerang. Beberapa waktu ini saya sempatkan untuk membuka situs ini khususnya untuk mencari tahu sejauh mana perkembangan PAUD di Banten, terutama di kota Tangerang. Saya cukup tertarik dengan liputan-liputan yang ada, hanya saja saya belum menemukan kabar PAUD dari kota Tangerang, padahal PAUD di kota Tangerang ada lho…dan berkembang dengan sangat pesat. Minat dan antusiasme masyarakat kota Tangerang untuk memajukan PAUD…Subhanallah…luar biasa sekali, terbukti dengan makin maraknya kegiatan HIMPAUDI Kota Tangerang yang tujuannya adalah untuk memajukan kualitas pendidik dan peserta didik PAUD di Kota Tangerang. Saya yakin majunya PAUD di Kota Tangerang adalah bagian dari majunya PAUD di Tanah Banten tercinta. Semoga insan-insan PAUD di Tanah Banten ini bisa bersama-sama menyatukan langkah untuk terciptanya generasi bangsa yang SEHAT, CERDAS, dan CERIA. Untuk mbak Ayu, salut untuk kepeduliannya dengan dunia pendidikan Indonesia, terutama pendidikan anak usia dini di Banten.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: