Pelangi PAUD dari Banten

Pelangi PAUD dari Banten

Kurang Sosialisasi PAUD di Kabupaten Pandeglang
Menyelenggaraan PAUD di sana, Kabupaten Pandeglang mendapatkan perhatian dan bantuan dana untuk sosialisasi dan advokasi tentang PAUD langsung dari UNICEF sejak tahun 2006 hingga 2007 sekarang. “Kami memperoleh bantuan ini, karena menurut penelitian yang UNICEF berikan, ternyata ada indikator yang menandakan bahwa Kabupaten Pandeglang tergolong kabupaten yang miskin dan tertinggal. Ini memang alasan yang agak memalukan,” ungkap Drs. Agus Rifai, Kasi PLS Kabupaten Pandeglang.  Pada tahun 2006, Kabupaten Pandeglang memperoleh dana bantuan dari UNICEF sebesar Rp 276 juta. Untuk tahun 2007, jumlahnya naik menjadi Rp 600juta. Dana bantuan ini diperuntukkan bagi kelancaran penyelenggaraan PAUD yang sifatnya terintegrasi. “Bentuk kegiatannya berupa pelatihan kader untuk tiga kecamatan penerima. Magang di antara lokasi binaan termasuk ke Yayasan Surya Kanti di Bandung. Dana ini juga banyak digunakan untuk melengkapi APE PAUD. Sasarannya adalah PAUD-PAUD terintegrasi dengan BKB yang berlokasi di Kecamatan Kroncong, Kecamatan Mekar Jaya, dan Kecamatan Cikedal”, ucap Ade Suparman S. Sos, Staf Dikmas Bidang Pendidikan Nonformal Kabupaten Lebak.

Berdasarkan data di Dinas Pendidikan Kabupaten Pandeglang, dari sekitar 2 juta penduduknya masih ada 52. 426 yang buta aksara.
Masyarakatnya yang tergolong miskin dan buta aksara, menjadi kendala bagi perkembangan pemahaman penduduknya terhadap Pendidikan Anak Usia Dini.

Idealnya, sasaran PAUD adalah anak-anak usia dini yang tidak terlayani di Taman kanak-kanak dan kebanyakan berada dalam golongan ekonomi rendah. Akibatnya, hingga kini PAUD yang berdiri disana, selalu disebut sebagai TK PAUD. “Ini karena mereka masih belum paham sama sekali tentang PAUD. Apalagi tentang PUSAT PAUD. Berulangkali kami memberikan penjelasan kepada masyarakat, tapi mereka hanya paham TK saja,” ungkap Ipah Maftuhah, salah satu pengelola PAUD  di Kabupaten Pandeglang.

Dari kondisi ini, terpahami bahwa sosialisasi “label” PAUD memang belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Pandeglang, terlebih lagi untuk lapisan masyarakat golongan ekonomi rendah sebagai sasaran utama PAUD. Padahal perkembangan PAUD hingga sejauh ini, bisa dilihat dari data tahun 2006 Bidang PAUD di Kabupaten Pandeglang. “Kini di sana telah ada 25 Pusat PAUD, 20 TK REHAB PAUD, 52 POS PAUD, 63 POSYANDU Tumbuh kembang Anak, dan 15 Lembaga POSYANDU BERKAH UNICEF. Sedangkan, data jumlah tenaga pendidiknya, tercatat dengan rincian: 102 orang untuk TK REHAB PAUD, 75 orang untuk Pusat PAUD, 315  orang kader POSYANDU Tumbuh Kembang Anak, dan 75 Kader POSPAUD Berkah UNICEF,” ungkap Agus Rusli, Kabid PAUD Kabupaten Pandeglang. Sudah pasti, kuantitas PAUD yang sebanyak ini sangat butuh teknik sosialisasi yang mampu menjangkau pemahaman seluruh masyarakat Pandeglang.

Di tengah berbagai kendala, Pusat PAUD As-Syifa yang telah berdiri sejak tahun 1999 ini, tetap berjalan. Pusat PAUD As-Syifa memberikan program pola asuh kepada para orangtua muridnya dan kegiatan posyandu yang rutin dilakukan setiap sebulan satu kali.   Di dalamnya diselenggarakan TK dan Kelompok Bermain (Kober) beriringan. Dengan luas area yang mencapai 400m², proses pembelajaran berjalan lancar untuk para muridnya sebanyak 37 orang yang tinggal tak jauh dari lokasi PAUD As-Syifa di Desa Sukasari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pandeglang. Tahun 2005 lalu Pusat PAUD As-Syifa menerima bantuan dana rintisan sebanyak Rp 25 juta,- dari Direktorat PAUD.

Nadrah Ama. Pd, perempuan muda usia 28 tahun ini adalah pengelola Pusat PAUD sekaligus tutor PAUD As-Syifa. Ia mengeluhkan, pemahaman masyarakat atas pentingnya PAUD masih sangat kurang. “Bahkan, para orangtua anak usia dini di lingkungan kami hanya memahami bahwa TK mengajarkan anak membaca, menulis, dan berhitung. Jadi, jika anak mereka lulus dari TK mereka menuntut agar anak-anak mereka sudah bisa calistung (membaca, menulis dan berhitung),” tutur Nadrah yang kini sedang menempuh jenjang pendidikan S1 jurusan PAUD di Universitas Negeri Jakarta. 
 
Untuk mendukung kegiatan operasional hariannya, Pusat PAUD As-Syifa menarik iuran partisipasi dari orangtua murid TK As-Syifa sebesar Rp 5.000,- per bulan. Sedangkan khusus untuk Kober As-Syifa, tak dipungut iuran sama sekali. Agak berbeda dengan Pusat PAUD As-Syifa, di PAUD Al-Fatach iuran partisipasi orangtua dipungut di TK dan Kober nya juga. Jumlahnya sama, perbulan sebesar Rp 5.000,-.

PAUD Al-Fatach telah berdiri sejak tahun 1999, di Desa Saninten Kecamatan Kaduhejo. PAUD yang bermurid 72 orang ini, dikelola oleh Ipah Maftuhah Ama. Pd, dan telah menerima bantuan dana rintisan PAUD sejumlah Rp 25 juta,- dari Bank Dunia melalui Direktorat PAUD pada tahun 2005. Dana ini banyak digunakan untuk merintis dan mengembangkan Kober Al-Fatach.

Ada 4 orang tenaga pendidik (tutor) PAUD yang mengajar di sana. Sebesar 80%  penerapan metode BCCT di sana, adalah untuk mengenalkan anak pada huruf-huruf. Hal ini sama seperti yang dilakukan di PAUD As-Syifa.  Demikian pula dengan masalah kesejahteraan para tutor PAUD nya. Melalui dua PAUD ini, didapati bahwa para tutornya telah mendapatkan insentif berupa honor sebesar Rp 400.000,- per bulan untuk setiap tutor sejak tahun 2006. “Namun, honor ini diterima tidak setiap bulan. Lebih sering dibayarkan dalam kurun waktu 3 bulan sekali. Kami mendapat honor ini dari Pemda Provinsi Banten,” ucap Ipah yang kini juga sedang menempuh perkuliahan untuk jenjang S1 PAUD di Universitas Negeri Jakarta.      

Tenaga Pendidik PAUD Kabupaten Lebak, Masih Honorer
Di daerah yang berluas 285.996 hektar ini, dunia PAUD mulai dikenal sejak tahun 2002. Sejak itu, PAUD berkembang dan kini telah ada 16 PAUD yang berdiri di Kabupaten Lebak. “Mulai tahun depan hingga tahun 2009, kami menargetkan agar setiap kecamatan punya 1 PAUD. Artinya, masih ada 12 PAUD yang harus didirikan di Kabupaten Lebak,” ujar Drs. Zaenal, Kasubdin PLS Kabupaten Lebak. Diakuinya, masalah yang masih mengganjal hingga kini adalah kurangnya tenaga guru (tutor) PAUD. Untuk 16 paud, baru ada 62 orang tutor. Itupun 80% nya adalah tenaga honorer.

Perhatian Pemda Provinsi Banten juga turun dalam bentuk pemberian honorarium, berupa uang tunai kepada tutor Kober sebesar Rp 200.000,- per bulan dan honor tutor PAUD sebanyak Rp 400.000,- per bulan per orang. Dengan pemberian bantuan ini, Kasi PLS Kabupaten Lebak tetap mengharapkan perhatian dari Depdiknas terhadap kemungkinan pengangkatan para tenaga honorer ini menjadi tenaga pengajar tetap. “Karena banyak di antara mereka yang masa kerjanya sudah 5 s/d 6 tahun,” ujar Zaenal.

Dinas PLS Kabupaten Lebak juga memberikan sokongan biaya operasional kepada PAUD-PAUD di daerahnya. “Kami memberikan bantuan biaya operasionalnya, paling tidak bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan ATK perbulannya. Besarannya Rp 200.000,- untuk tiap PAUD, dan dibayarkan dalam kurun waktu 3 bulan sekali,” papar Zaenal.

Sedangkan untuk peningkatan mutu para tenaga pendidiknya, Kabupaten Lebak tergolong beruntung. Pasalnya, tahun 2006 lalu, dari 16 PAUD ada 14 tutor yang lolos seleksi. Ke-14 orang ini mendapatkan beasiswa dari Direktorat PTK-PNF untuk lanjutkan pendidikan S1 di UNJ.  Tahun 2006 lalu, Ade Rakhayu  Ama. Pd, jadi satu orang di antara 14 penerima beasiswa S1 dari Direktorat PTK-PNF yang kini tengah menempuh pendidikan S1 PAUD di Universitas Negeri Jakarta. Ia adalah pengelola Pusat PAUD Harapan Mulya yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Himpaudi Kabupaten Lebak. 

Berdasarkan data yang diperoleh dari Forum PAUD Provinsi Banten, jika ditilik dari segi mutu PAUD secara keseluruhan, Kabupaten Lebak perlu mengejar banyak ketertinggalannya. Pendapat ini sejalan dengan laporan yang diperoleh dari Edi Julyadi, Penilik PLS Kecamatan Cikulur yang menyatakan, “Di Kabupaten Lebak khususnya di Kecamatan Cikulur, kami masih menemukan kendala dari masyarakat yang belum paham akan pentingnya PAUD.” Lagi-lagi, masih butuh sosialisasi.

Dari 16 PAUD yang ada di sana, satu diantaranya adalah Pusat PAUD Harapan Mulya yang memulai operasionalnya sejak tahun 2002 di Desa Taman Jaya, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak. “Ini Pusat PAUD yang pernah mendapat prestasi 10 besar terbaik dari 600 PAUD se-Indonesia menurut tinjauan dan penilaian dari Depdiknas tahun 2004,” ucap Edi Julyadi. Perkembangannya disokong oleh dana rintisan sebesar Rp 25 juta dari Bank Dunia pada tahun 2005 lalu. Dalam Pusat PAUD Harapan Mulya, juga terdapat Satuan Paud Sejenis, yakni TAPAS (Taman Pengasuhan Anak Soleh) yang kegiatannya diadakan 3 kali seminggu di setiap sore hari. Di tempat ini ada 25 orang anak-anak usia 4 s/d 6 tahun yang mulai dikenalkan kepada konsep ke-Islaman secara sederhana. Misalnya, belajar mengucap salam, membaca basmalah dan berdoa setiap akan memulai kegiatan. Murid-muridnya adalah beberapa murid TK/Kober yang berminat. 
 
Pusat PAUD Harapan Mulya menempati lokasi yang luasnya mencapai 3000m². Halaman dan arena bermain outdoor (luar ruangnya) cukup terawat rapi. Di desa yang berhawa sejuk ini, para murid yang seluruhnya berjumlah 39 orang mengikuti pembelajaran setiap hari dan terbagi dalam dua bagian besar, di TK dan di Kober. Semua proses pembelajaran berjalan, “dikawal” oleh 4 orang tenaga pendidiknya. 2 orang diantaranya telah mengenyam pendidikan di PGTK, dan 3 orang dari mereka telah mengikuti pelatihan BCCT di Cianjur dan Bandung pada tahun 2006 lalu. 

Pusat PAUD ini melayani anak-anak usia dini yang berasal dari keluarga bergolongan ekonomi lemah. “Orangtua mereka kebanyakan adalah para buruh tani dan tukang ojek,” ungkap Sri Aryanti, Ama. Pd, salah satu tutor Pusat PAUD Harapan Mulya. Selain meraih anak usia 3 s/d 6 tahun, secara rutin sebanyak 2 kali sebulan diadakan pula kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB) yang merangkul anak usia 0 s/d 2 tahun. 

Tingkat APK PAUD Kabupaten Tanggerang Hanya 7%
Berbatasan dengan Kota Jakarta, menjadikan Kabupaten Tangerang sebagai daerah limpahan aktivitas Kota Jakarta, antara lain industri, pemukiman perkantoran dan infrastruktur jalan serta kereta api. Hal tersebut ditunjang dengan sarana dan prasarana seperti Jalan Tol Jakarta – Merak, Jalan Kereta Api Jakarta – Rangkas, Bandara Soekarno Hatta dan kemudahan transportasi. Tanggerang menjadi bagian besar dari wilayah Banten bagian utara yang perkembangan ekonominya cukup maju daripada Kabupaten Lebak, Pandeglang, dan Serang. Tapi kota ini tak bisa mengelak dari catatan angka buta aksara sebesar 80.000 orang untuk usia 15 s/d 44 tahun.

Disisi lain, penyelenggaraan PAUD yang ada Tanggerang telah menampakkan dampak positif. Ini didukung pendapat H. Supyan S, yang menyatakan bahwa perkembangan kuantitasnya cukup pesat. “Di Kabupaten Tanggerang, kini telah ada 45 PAUD yang berdiri dan beroperasi. Terdiri dari PAUD murni dan yang terintegrasi BKB. 5 PAUD diantaranya adalah PAUD yang menjadi proyek percontohan Bank Dunia. Yaitu, kecamatan Rajeg, kecamatan Jambe, kecamatan Kronjo, kecamatan Cisoka, dan kecamatan Balaraja,” papar H. Supyan S, Kasi Kebudayaan dan PLS Kabupaten Tanggerang.

Satu di antara proyek percontohan ini, adalah Pusat PAUD Rajawali . Pusat PAUD ini memulai operasionalnya sejak tahun 1997 di Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tanggerang dan pengelolaannya berada di bawah tanggungjawab langsung Bidang PLS Kabupaten Tanggerang. “Setiap bulan, kami menyusun laporan pengelolaan Pusat PAUD Rajawali dan disampaikan ke Dinas PLS Kabupaten Tanggerang. Begitu juga dari pihak Dinas PLS Tanggerang, dalam satu bulan bisa 1 s/d 3 kali mereka datang menjenguk kami. Kami juga mendapat banyak ilmu dan wawasan baru tentang penyelenggaraan PAUD di sini,” papar Lilis Sumarni, Ama. Pd, salah satu pengelola harian sekaligus tutor Pusat PAUD Rajawali.

Pada awal berdiri, ada pengalaman unik yang dialami pengelolanya. “Waktu itu, kami benar-benar langsung terjun ke lapangan, dari pintu ke pintu mengundang para calon murid untuk mengikuti pembelajaran di Pusat PAUD Rajawali ini,” kenangnya.

Lalu, operasional Pusat PAUD Rajawali mulai berjalan dan orangtua murid tak dikenakan biaya apapun. Dulunya, Pusat PAUD Rajawali didirikan di daerah kumuh dan miskin. Yang hidup dan tinggal di lingkungan itu adalah masyarakat berekonomi menengah ke bawah. Dua tahun kemudian, di kecamatan ini didirikan perumahan. Murid-muridnya jadi lebih beragam. Setelah 5 tahun operasional, PAUD Rajawali mulai melibatkan partisipasi orangtua murid melalui iuran bulanan sebesar Rp 3.000,- per murid. Kini muridnya sudah berjumlah 108 orang, terdiri dari 90 orang murid TK, dan 18 orang murid PAUD. Kontribusi yang dibutuhkan juga makin tinggi. Sekarang pun, iuran perbulannya mencapai Rp 25.000,- per murid.

Karakteristik PAUD yang ada di Kabupaten Tanggerang, kebanyakan adalah PAUD yang mandiri. “Hanya 25% PAUD yang terintegrasi dan itu ada di kecamatan Pondok Aren, Pamulang, dan Ciputat,” jelas H. Supyan. Sasaran PAUDnya secara keseluruhan diutamakan untuk meraih anak-anak usia dini dari golongan ekonomi menengah ke bawah dan yang tak terlayani di Taman Kanak-kanak. Menurut penuturan H. Supyan, “Terdata, APK PAUD di Tanggerang kini mencapai 7% dari 400.000 anak usia dini.”

Untuk menunjang perkembangan PAUD di Tanggerang, Dukungan pun mengalir dari Depdiknas sejak tahun 2005 hingga sekarang, berupa bantuan APE. Bantuan lainnya adalah, dana rintisan sebesar Rp 25 juta yang diberikan sejak tahun 2001. Tahun lalu, tercatat ada 8 PAUD di Tanggerang yang menerima bantuan dari dana Bank Dunia ini. Pihak Provinsi Banten pun turut memberikan kontribusinya untuk peningkatan mutu tenaga pendidik PAUD dalam bentuk pelatihan untuk Training of Trainer (TOT) tutor PAUD. Sasarannya setiap tahun bisa lebih dari 10 orang tutor PAUD. Selain itu, program beasiswa S1 tahun 2007 juga datang dari Direktorat PAUD dan telah menyentuh 6 orang tutor PAUD di Tanggerang. Peningkatan mutu tenaga pendidiknya, juga ditunjang dengan dikucurkannya dana insentif  dari pemda Provinsi Banten untuk mereka. Dengan kisaran jumlah Rp250.000,- s/d Rp500.000,- perbulannya per orang.  Tahun lalu pun telah ada 7 PAUD di Tanggerang yang menerima bantuan dana operasional dari APBD melalui Dinas Pendidikan Provinsi Banten sejumlah Rp 6 juta untuk setiap PAUD.

PAUD Tumbuh Pesat di Kabupaten Serang
Tren penyelenggaraan PAUD mulai dikenal di Serang sejak tahun 1995. Kini, PAUD yang terselenggara di sana, telah berjumlah 325 PAUD. Terdiri dari 150 Kober, 121 Lembaga BKB Kesehatan Masyarakat, 2 Taman Penitipan Anak, dan 52 POSPAUD yang tersebar di 34 kecamatan. “APK PAUD di Serang kini sudah sekitar 25.000 anak usia dini dari target sebanyak 174.000 anak yang akan diraih dalam tahun 2007 s/d 2009,” ungkap Drs. Jajang KH, M. Pd, Kasi Bina Pendidikan Masyarakat Kabupaten Serang.

Mengenai peningkatan mutu PAUD, ia menjelaskan bahwa kebijakan dari Bupati Kabupaten Serang memang mengerucut pada program menyukseskan PAUD lewat sokongan APBD. “Tahun 2007 sudah ada alokasi dana untuk pengadaan buku-buku PAUD, rintisan PAUD, dan pengembangan PAUD. Jumlahnya Rp 310 juta. Sudah ada 112 PAUD yang menjadi penerima manfaatnya. Masing-masing mendapatkan bantuan dana sebesar Rp10juta,-” ucapnya. Dukungan lainnya, berupa pemberian insentif terhadap para tenaga pendidik dengan jumlah rata-rata Rp 200.000,- per bulan per orang. “Ini hanya sebagai pengganti biaya transportasi untuk mereka,” ucap Jajang KH.

Bupati Serang, H.A. Taufik Nuriman  mendukung penuh penyelenggaraan PAUD di daerahnya. “PAUD merupakan keharusan karena modal masa depan kita berasal dari para anak usia emas ini. Kabupaten Serang menargetkan, agar seluruh anak usia dini di sini menjadi anak yang sehat, cerdas, dan bertaqwa,” ucapnya tegas.

Ia juga menyatakan, di samping memprioritas pemberantasan buta aksara, Kabupaten Serang menjalankan semuanya secara bersinergi. Berdasarkan data sensus penduduk tahun 2006, Kabupaten Serang berpenduduk 1,8 juta jiwa. Dari jumlah penduduk sebesar ini, masih ada 49. 572 orang yang kini jadi prioritas program pemberantasan buta aksara di ibukota Provinsi Banten ini.  
                                                                          
Kabupaten Serang tampak menanggapi geliat PAUD di daerahnya dengan positif. Kini PAUD di sana terus bertambah. Satu di antaranya, adalah PAUD Garuda. PAUD ini berlokasi di area bekas mushola Komplek PDK (Pendidikan dan Kebudayaan) Blok B, Jl. Manokwari, Panancangan Baru Serang, Kecamatan Cipocok, Kabupaten Serang. PAUD Garuda baru berdiri 2 bulan yang lalu, tepatnya tanggal 2 Mei 2007.

Ada 40 orang murid usia 3 s/d 4 tahun dan 7 orang tenaga pendidik di PAUD Garuda. Kegiatan belajar mengajar di dalam ruang seluas 150m² ini berjalan lancar, walau tanpa sarana Alat Permainan Edukatif (APE). “Metode pembelajaran disini, terbagi dalam beberapa konsep. Mengenal diri, sosialisasi diri dan belajar doa,” papar Aat Suirat Abdul Wahid, pengelola PAUD Garuda. Di dinding ruang belajarnya memang banyak tempelan kertas warna warni dan tulisan-tulisan besar yang menyiratkan konsep ke-Islaman yang kental. Agar anak-anak muridnya terbiasa mengenal huruf Arab dan beberapa doa pendek. 

Mengenai tenaga pendidiknya, ia merekrut 3 tenaga pendidik tetap dan 4 orang tenaga magang. “Ada 2 orang tenaga pendidik tetap yang masih kuliah di PGTK dan 1 orang pensiunan Kepala Sekolah Dasar. Sedangkan untuk tenaga magang, mereka juga mahasiswi di S1 dan D2 PGTK Universitas Tirtayasa,” jelas ibu rumah tangga berusia 54 tahun ini. Ia pernah punya pengalaman menjadi koordinator Taman Kanak-kanak milik sebuah yayasan di Serang dan sekarang selain mengelola PAUD Garuda, ia juga aktif sebagai kader PKK. “Awalnya mendirikan PAUD Garuda karena selain menyenangi dan menyayangi anak-anak, tapi juga merupakan gerakan POKJA 2 Kabupaten. Lalu kami dari PKK RW 09 Kecamatan Cipocok menindaklanjuti program tersebut dengan mendirikan PAUD Garuda,” ucap Bu Aat.

Modal awal operasionalnya pun diambil dari uang kas PKK RW 09 dan dana pribadi. Hingga kini, PAUD Garuda belum tersentuh bantuan dana maupun pelatihan tenaga pendidiknya, baik dari pihak Depdiknas, Provinsi Banten, maupun Kabupaten Serang. Tapi nampaknya semangat Bu Aat dan rekan kerjanya ini tak dapat terbendung kendala apapun. Menurut penuturannya, mereka hanya berniat membantu mencerdaskan anak-anak di lingkungan mereka. Ia menyatakan, “Kebanyakan murid-muridnya berasal dari keluarga ekonomi rendah. Orangtua mereka kebanyakan bekerja sebagai buruh pabrik, pemulung, dan supir angkot. Oleh karenanya, PAUD Garuda ini gratis untuk anak-anak mereka.” 

Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah pendidikan (edisi Juli-Agustus 2007) dan berkantor di Jakarta.</em

Writer : Ayu N. Andini
Photo by Ayu N. Andini

 
  
 

~ oleh one1thousand100education pada Juli 24, 2007.

7 Tanggapan to “Pelangi PAUD dari Banten”

  1. Selamat siang Mbak Ayu, saya mampir lagi nih. Menarik sekali hasil investigasi soal PAUD di Banten dan lumayan membanggakan. Minta izin tulisannya saya print out untuk istri di rumah yang kebetulan “ketua” HIMPAUDI di tempat kami Kab. INHU Riau. Saya kasih tanda petik karena SK nya digantung oleh Diknas karena urusan “politis” :)). Beberapa hal yang menarik dari tulisan di atas, al. PAUD sebagai alternatif bagi anak2 “non TK”, besarnya perhatian dari PEMDA Prov dan Kabupaten baik itu untuk Lembaga PAUD nya maupun untuk para pengelolanya, juga dari masyarakat. Saya jadi tergelitik untuk menceritakan kondisi PAUD di sini. Boleh gak tulisan Mbak Ayu saya “ulas” di Blog saya? http://www.hidayat-soeryana.blogspot.com. Tks sebelumnya. BTW. Tulisannya kecil2 Mbak🙂 n backgroundnya itu, kasihan mata saya.

  2. Assalamu’Alaikum Bu Ayu,
    baru saja saya baca tulisan Ibu. Terimakasih telah memberi tambahan referensi bagi saya untuk peningkatan kualitas PAUD yang saya kelola. Saya pengelola PAUD Al Hidayah Kradenan Kaliwungu Semarang. Tolong kalau ada informasi baru tentang PAUD saya di kasih tahu juga ke ummi_ayha.co.id. Sebetulnya saya sedang mengusahakan bantuan untuk PAUD yang saya kelola tapi yang lewat jalur foundation swasta, ada nggak ya peluang untuk itu ? Ini blog swami saya.

  3. Untuk Mba Ayu, Tulisannya bagus sekali untuk menambah semangat para pendidik PAUD di Lapangan yang merupakan ujung Tombak sekaligus Ujung TOMBOK, di tahun 2008 ini saya telah membuat PAUD baru di Kota Serang, Tempat dan lahan sudah ada, Siswa banyak yang datang dari golongan menengah ke bawah, mba AYU mau Gabung? di Tunggu di LP2B (Lembaga Peduli pendidikan Banten) Masih INgat LOPANG indah? Bascam PAUD?

  4. Mbak tulisannya bagus.Boleh kan saya copy n dijadikan bahan acuan? Saya pengelola Paud Kemuning di Sukabumi n berdiri 28-10-2008, baru belajar nich.Gbu.

    • iya, mba tintin. silahkan di-copy. semoga memberi banyak manfaat ke semua orang di Sukabumi ya.
      sukses ya mba tintin.

  5. Dear All

    Dengan hormat

    Dengan rahmat Allah SWT, kami sampaikan salam sejahtera semoga dalam menjalankan aktifitas sehari – hari kita selalu berada dibawah lindungan-Nya, Aminn
    Membicarakan masalah peduli pendidikan anak, kami disini sedang merintis sebuah Yayasan Pendidikan Anak Usia Dini guna untuk ikut andil dalam pembangunan sumber daya manusia dan guna ikut berperan serta atas tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tertuang pada pembukaan Undang Undang Dasar 1945.
    Selama ini kegiatan pada yayasan yg kami rintis masih berjalan dengan sarana dan fasilitas yang amat sangat kurang memadai, karena memang kurangnya modal yang kami miliki.
    Kami masih sangat membutuhkan bantuan, dalam bentuk apapun guna untuk mewujudkan cita – cita ini
    Mungkin ada pihak – pihak yang terketuk pintu hatinya untuk membantu kami maka kami ucapkan banyak terima kasih

    Demikian sedikit atensi dari kami, dan marilah kita bersama – sama untuk peduli terhadap Pendidikan

    Salam
    Pengurus Yayasan Al-Karimah Rangkasbitung

    Sunarto
    Ketua Yayasan

  6. Dear All

    Dengan Hormat

    Untuk mengetahui lebih jelasnya tentang Yayasan Al-Karimah Rangkasbitung, silahkan contac ke e mail ini yp_alkarimah@yahoo.co.id

    Terima Kasih

    Salam
    NartO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s