Anak Indonesia Harus Lebih Dihargai

interview with Dr Seto Mulyadi _ didampingin Aris merdeka Sirait di Komnas Perlindungan Anak_2007–photo by Ayu N Andini

Indonesia memang belum sepi dari permasalahannya tentang hak anak. Atas berbagai kasus, pihak pemerintah pun telah sediakan beberapa wadah untuk penanganan masalah-masalah anak. Melalui Depdiknas, mereka berupaya meraih anak-anak yang putus sekolah dan anak-anak pedalaman yang tak dapat mengakses pendidikan lewat program-program kesetaraan. Lain urusannya dengan Departemen Sosial yang memang lebih konsentrasi pada penanganan masalah anak-anak miskin telantar melalui proyek percontohan Pusat Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Anak jalanan, (Crisis Centre) di Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur. Namun semuanya masih dianggap belum terintegrasi. Hasilnya, anak-anak seperti tak mendapatkan hak perlindungan yang layak.

Data yang tercatat di Komnas Perlindungan Anak memperlihatkan betapa memprihatinkannya keadaan anak-anak Indonesia. Tahun 2007 ini, sudah lebih dari 200.000 orang anak menggelandang dan hidup liar di Jakarta. Jumlah ini akan terus bertambah setiap tahunnya. Kondisi ini tak jauh beda dengan laporan-laporan kasus tindak kekerasan yang tercatat di Komnas Perlindungan Anak. Tahun 2006 tercatat ada 1124 kasus. Jumlah ini meningkat menjadi 1160 kasus pada  tahun 2007 kini. Kasus terakhir yang menggemparkan adalah mutilasi yang menimpa bocah 10 tahun di klender, Jakarta Timur pada awal Juli lalu. Mengapa hal  ini masih bisa terjadi? Apa yang menjadi penyebab paling dasar atas semua masalah ini? Apa saja upaya Komnas Perlindungan Anak dalam mengatasi semua masalah ini?

Untuk mengetahuinya lebih jauh, ikuti wawancara saya dengan Dr. Seto Mulyadi yang akrab dipanggil Kak Seto. Selaku Ketua Umum Komisi Perlindungan Anak, sekaligus pakar dan pemerhati permasalahan hak-hak anak di Indonesia.     

Mengapa Komnas Perlindungan Anak memilih untuk menangani masalah anak jalanan di Indonesia?
Seperti yang sudah kami kemukakan di berbagai media. Sebetulnya banyak permasalahan tentang anak di sini. Lebih dari 13 juta anak di Indonesia yang mengalami kurang gizi. Banyak anak-anak yang belum dapat akte kelahiran. Banyak anak-anak yang putus sekolah, anak yang diperdagangkan, anak-anak yang menjadi pekerja seks komersial, itu adalah potret program. Saat ini kami memfokuskan pada anak jalanan karena jumlahnya yang terus bertambah. Bagaimana upaya yang harus dilakukan? Janganlah kita bicara anak, hanya pada Hari Anak Nasional belaka.

Anak-anak yang masalahnya telah begitu mendesak, tidak kunjung dapat perhatian. Memang, telah ada deputi-deputi di dalam pemerintahan yang mengurusinya, tetapi sampai sekarang program-programnya tidak terintegrasi. Semuanya berjalan sendiri-sendiri.

Misalnya, ada anak jalanan, maka itu urusan Departemen Sosial.  Ada anak putus sekolah, maka jadi urusan Departemen Pendidikan Nasional. Ada pekerja anak, berarti itu urusan Departemen Tenaga Kerja. Kalau saja itu semua berada di bawah satu kementrian yang benar-benar khusus menangani semua masalah anak, dan lembaga ini juga betul-betul bisa mengedepankan yang terbaik untuk anak Indonesia serta memperioritaskan masalah anak sejajar dengan masalah politik, ekonomi dan sebagainya, mungkin berbagai kendala dan pelanggaran terhadap hak anak, tidak akan separah yang sekarang.

Kak Seto, jumlah anak jalanan di Jakarta sekarang kemungkinan besar akan terus bertambah. Apa saja persoalan mendasar yang jadi penyebab meningkatnya jumlah mereka ini?
Penyebab yang paling mendasar adalah kemiskinan yang terus melanda masyarakat kita. Mereka harus membantu orangtua mencari nafkah. Mereka harus bekerja, mereka harus putus sekolah, jadi tidak ada kegiatan hingga akhirnya mereka berkeliaran di jalanan.
Komnas Perlindungan Anak melihat hal ini sebagai masalah yang sangat penting dan merupakan masalah yang harus disiapkan menjadi program prioritas oleh para calon gubernur Jakarta. Karena jika tidak, ini akan menjadi suatu pelanggaran yang sangat parah dan sudah tidak bisa ditunda lagi.

Apa saja peranan Departemen Sosial dalam menyelesaikan masalah ini?
Memang seharusnya Departemen Sosial dapat memainkan peranan yang sangat penting dalam hal ini. Tentang masalah anak jalanan, musti terus menerus diselidiki. Bukan hanya oleh masyarakat sendiri, tapi juga oleh semua kalangan. Kami juga melihat bahwa kebijakan dan perhatian terhadap masalah anak jalanan itu masih sangat kurang dan mohon sekali lagi, agar hal ini tidak hanya diperhatikan pada saat Hari Anak Nasional saja. Tetapi dapat terus menerus mendapat perhatian dari pemerintah dan yang paling besar pengaruhnya adalah pemberdayaan ekonomi oleh masyarakat. Ini harus mendapat perhatian serius dari pemerintah, baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Bagaimana Kak Seto menanggapi tentang maraknya kasus tindak kekerasan dan kasus mutilasi terhadap anak-anak?
Kasus-kasus ini telah menunjukkan bahwa perhatian pemerintah dan masyarakat kita terhadap anak-anak, masih sangat kurang. Masih kurangnya perlindungan terhadap anak-anak, baik itu dilakukan oleh orangtua, masyarakat, maupun pemerintah sendiri. Kadang, kita melihat anak-anak yang dipukul oleh orangtuanya, tapi kita tidak berani menegur. Ini sudah termasuk sebagai contoh tindak kekerasan tahap awal. Sesungguhnya tetangga yang melihat kejadian ini juga punya hak mengadukannya. Tolong, agar hal ini bisa diingatkan kepada para tetangga yang melihat tetangga di dekatnya melakukan pelanggaran terhadap hak anak. Dan jika masih ada orangtua yang bilang bahwa ini adalah urusan keluarga mereka sendiri, mohon agar mereka bisa disadarkan. Karena  dengan memukul anak seperti itu, artinya mereka telah melanggar UU perlindungan terhadap anak.

Menurut Kak Seto, siapakah yang sebenarnya harus bertanggungjawab untuk permasalahan tersebut?
Kita semua harus berani untuk memikul tanggungjawab. Kita, para orang dewasa. Baik itu orangtua, guru, masyarakat umum, para tokoh masyarakat, sampai kepada pemimpin bangsa.

Menurut Kak Seto dan Komnas Perlindungan Anak, bagaimana penanganan yang tepat untuk masalah itu?
Hal pertama yang menjadi awal penanganannya adalah perhatian. Anak-anak yang dimutilasi ini adalah anak-anak yang biasanya terlupakan. Kalau misalnya di rumah dia ngambek, dia mungkin protes, atau mungkin ketika dia protes dan pergi, dia juga dibiarkan begitu saja. Mungkin ini bukan cuma masalah ekonomi yang jadi penyebabnya.
Tapi juga karena kurang adanya pemahaman paradigma bahwa anak adalah titipan Tuhan. Mohon agar ini diperhatikan betul-betul.

Khususnya adalah ketika murid tidak masuk sekolah. Apakah ada kepedulian dari gurunya untuk segera  mencari tau tentang kenapa muridnya tidak hadir? Sangat mungkin, anak-anak yang terlupakan ini adalah calon korban mutilasi ataupun tindak kekerasan yang lain. Ini terjadi cuma karena tidak ada kepedulian yang sangat tinggi dari lingkungannya.

Apakah ini bisa diartikan bahwa perlindungan dan keamanan bagi anak-anak Indonesia, masih belum jadi prioritas di negara kita?
Sekarang memang masih lebih memprioritaskan akses pendidikan. Kalau untuk perlindungan keamanan mereka, kami akan terus kampanyekan. Kami usahakan agar masalah perlindungan dan keamanan anak ini akan jadi prioritas program bagi siapa pun calon Gubernur Jakarta yang nanti akan terpilih.

Bagaimana halnya dengan perlindungan terhadap pekerja anak di Indonesia? Bagaimana menurut Kak Seto?
Mengenai pekerja anak di sektor formal, itu artinya secara resmi menjadi tanggung jawab perusahaan tempat mereka bekerja. Dan biasanya sudah ada ketentuan-ketentuannya.
Jadi, mereka harus cukup istirahat. Kemudian, ada batas waktu jam kerjanya. Sebetulnya, berdasarkan ketentuan, mereka tidak boleh kerja lebih dari 3 jam. Kebutuhan hak tumbuh dan berkembang mereka juga harus diperhatikan.

Sejauh ini, apakah aturan-aturan itu betul-betul sudah berjalan atau tidak?
Ada yang tidak dijalankan. Ada juga yang belum dijalankan.

Apakah karena pemantauannya sulit? Mungkinkah karena banyak perusahaan yang sulit “ditembus”?
Iya, memang keadaannya seperti itu.

Lalu apa upaya yang sejauh ini telah dilakukan oleh Komnas Perlindungan Anak?
Pertama, memang melalui sosialisasi. Lewat televisi, talk show, atau wawancara. Semuanya dilakukan agar seluruh masyarakat ikut berperan sebagai pemantau. Karena pemantauan ini tidak bisa hanya dikerjakan sendiri oleh Komnas Perlindungan Anak, atau lembaga-lembaga perlindungan anak lainnya juga. Jadi, masyarakat sendiri harus terlibat ikut memantau dan melaporkan kalau-kalau ada pelanggaran pekerja anak ataupun tindak kekerasan terhadap anak.

Bahkan dalam Undang-Undangnya juga disebutkan bahwa siapapun yang melihat tindak kekerasan terhadap anak dan tidak melaporkannya kepada yang berwenang, maka artinya orang tersebut juga dapat kena tindakan berupa hukuman penjara minimal 5 tahun. Inilah yang memperlihatkan bahwa pemantauan dapat dilakukan oleh semua orang.

Harus ada kepedulian dari lembaga-lembaga pemerintah sendiri. Para legislatif itu juga hendaknya peduli, para anggota DPR, atau DPD sebenarnya bisa datang untuk meninjau dan memantau.

Berarti, yang mana yang lebih didahulukan? Memenuhi kebutuhan perlindungan atas pekerja anak, memenuhi kebutuhan utk perlindungan keamanan terhadap anak, ataukah memenuhi kebutuhan mereka atas akses pendidikan?
Kali ini, kami lebih memprioritaskan untuk bisa membangun komunitas belajar bagi anak-anak. Maksudnya,  kami memenuhi kebutuhan mereka untuk akses belajar dulu. Mau kerja, mau bikin apa, mau jadi apa, dahulukan belajar dulu. Belajar jangan ditinggalkan. Karena belajar adalah bagian dari hak tumbuh dan berkembangnya anak-anak.

Kasus mal nutrisi atau kekurangan gizi pada anak Indonesia, masih sangat tinggi?
Iya. Betul.

Bagaimana pandangan Kak Seto terhadap kasus mal nutrisi yang ada di seluruh Indonesia dan bukan hanya di NTT saja, tetapi juga di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, dan kota-kota lainnya di seluruh Indonesia?
Saya lihat, ibu-ibu yang aktif, para wanita bekerja, wanita karir yang sarjana, misalnya. Mereka itu masih membiarkan putra putrinya makan makanan instant. Makan mie instant, makan jajanan ringan dengan takaran gizi yang rendah, makan junk food.
Ya..walaupun dia tahu itu harganya agak mahal, tapi mereka tidak memperhatikan nilai gizinya.

Memberi anak-anak makan makanan instant, itu sebenarnya membuat mereka jadi mal nutrisi juga?
Iya. Itu juga mal nutrisi. Menyebabkan anak-anak jadi kekurangan gizi. Apakah itu menunjukkan mereka peduli pada nilai gizinya? Itulah yang menunjukkan bahwa paradigma atau skala prioritasnya yang salah. Ini yang harus diubah.

Dari semua kasus dan permasalahan ini, apakah sudah bisa diperkirakan tentang hal-hal yang akan jadi prioritas sebagai bahan Kongres Anak tahun 2007 ini?
Sebetulnya, itu kembali kepada masing-masing anak. Kami tidak mau intervensi. Jadi, anak-anak sendirilah yang nanti akan merumuskan materinya dan hasilnya bisa langsung direkomendasikan ke Komnas Perlindungan Anak.

Bagaimana caranya agar anak-anak itu bisa sampaikan usul mereka ke Komnas Perlindungan Anak?
Selama ini, mereka semua datang ke kantor Komnas Perlindungan Anak di Jakarta. Anak-anak ini dikirim oleh pemda masing-masing. Lalu mereka akan berkongres selama 3 hari. Akan dibuat beberapa kelompok pembahasan. Tapi khusus untuk tahun 2007 ini diundur karena tidak ada biaya.

Diundur sampai kapan?
Sampai ada biaya, mungkin habis lebaran.

Kemajuan yang seperti apa yang Kak Seto inginkan untuk anak Indonesia?
Mereka bisa berkembang optimal sesuai dengan potensinya masing-masing. Jadi, bukan menjadi seperti robot-robot saja. Anak-anak yang memang pintar fisika, maka pilihlah sistem yang akan membuat mereka bisa berkembang di sana. Jadi, kalau mereka ingin menjadi seperti BJ. Habibie, ya bisa mereka juga bisa menjadi Rudi Habibie, atau Rudi Hartono, atau Rudi Choirudin, atau seperti Rudi Salam atau menjadi seperti Rudi Hadisuwarno. Mereka bisa pilih sesuai dengan potensi mereka masing-masing.
Sistem pendidikan di Indonesia seharusnya bisa membuka peluang seluas-luasnya untuk menciptakan anak-anak Indonesia seperti orang-orang ”besar” itu tadi. Bahkan jika mereka mau jadi Einstein, Pablo Picasso, atau Beethoven, atau jadi Muhammad Ali, terserah mereka masing-masing.  

Bagaimana usulan konkret dari Kak Seto untuk bisa wujudkan hal itu?
Artinya, harus ada portofolio di dalam penilaian terhadap anak-anak. Jadi, anak-anak yang kecil-kecil sudah pandai mengaji, dan itu bisa di ekspose lewat portofolio anak. Ada juga, anak-anak yang pintar bikin puisi, atau yang sudah bisa menulis buku.  Itu bisa menjadi portofolio yang bagus.
Tapi sekarang, paradigma orang-orang itu, masih menganggap bahwa anak-anak pintar menulis, menyanyi, atau pintar apapun, yang penting nilai matematikanya harus bagus. Itu mustinya tidak begitu. Sekarang , kemampuan anak-anak yang lebih dilihat dan diperhatikan itu hanya kemampuan Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia.

Artinya, ketika mereka mendaftarkan diri ke sekolah, portofolio itu bisa jadi pertimbangan penilaian dari sekolah bagi mereka?
Iya. Bisa begitu. Khusus untuk para orangtua, jikalau nantinya anak mereka harus ikut program homeschooling, ya tidak apa-apa. Yang penting, anak-anak bisa dan mau belajar. Bukan lagi yang penting, anak mau sekolah. Wong banyak anak sekolah yang tidak mau belajar, kok.

Apakah akses pendidikan yang kini sedang gencar dikampanyekan oleh Kak Seto akan menjadi cara terbaik bagi kondisi anak Indonesia yang sekarang dan untuk yang akan datang?
Ini adalah bagian dari upaya pemenuhan hak anak untuk belajar. Bahwa belajar tak hanya di sekolah formal. Pengertian homeschooling sekarang ini memang diprioritaskan sebanyak 90% untuk anak-anak yang terpinggirkan. Terutama anak-anak jalanan, anak tak mampu, dan untuk anak-anak yang secara geografis mengalami kesulitan untuk menjangkau akses pendidikan. Seperti anak-anak rimba, anak-anak di desa terpencil, anak- anak di pulau, yang semuanya itu jauh dari akses pendidikan formal.

Misalnya, di Tawao, Malaysia. Sekarang ada sekitar 36.000 anak-anak para TKI di sana,  yang tidak tersentuh pendidikan formal. Itu adalah bentuk pembinaannya yang juga akan dikembangkan melalui homeschooling melalui ASAH PENA. Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif.

Program homeschooling adalah hasil program kerja sama kami dengan Depdiknas dalam upaya pemenuhan hak anak untuk belajar. Kalau dilampirkan, program ini sesuai dengan pasal 26 dan 27 UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Di Indonesia memang ada banyak upaya lembaga-lembaga yang mencoba merangkul anak-anak jalanan ini. Contoh, salah satunya adalah program sekolah berjalan atau yang lebih dikenal dengan nama kelas berjalan. Ini adalah juga program home schooling. Dalam kurun seminggu sekali, mobil kelas berjalan ini keliling ke tempat yang berbeda di seluruh wilayah Jakarta. Tim kerjanya, ada tutor yang menguasai materi pelajaran, utk jalankan kegiatan home shooling untuk anak jalanan.

Program ini adalah bentuk pendidikan informal. Sebetulnya juga termasuk dalam bentuk nonformal. Jadi, anak-anak itu setelah beberapa lama mengikuti pelajaran di kelas berjalan ini, mereka akan diikutkan ujian kesetaraan Sekolah Dasar, SMP, SMA. Termin ujian kesetaraan ini setahun 2 kali. Tujuannya agar mereka juga bisa dapatkan ijazah resmi dari Depdiknas.

Mereka dapat akses pendidikan yang resmi dari pemerintah juga. Sejajar dan disetarakan dengan pendidikan formal yang lain, sesuai dengan yang ada di pasal 27, UU No. 20 tentang Sisdiknas.
Dan hal ini menjadi bagian dari kegiatan pro aktif kami. Tapi yang paling penting itu adalah bagaimana pemerintah memberdayakan kekuatan ekonomi masyarakat, hingga mereka tak perlu membantu mencari uang dan mengorbankan waktu anak-anak ini utk bermain, belajar, dan istirahat di tempat-tempat yang tidak layak.

Bagaimana peranan BSNP sendiri dalam penentuan standarisasi kurikulum home schooling ini?
Perlu diketahui bahwa negara kita sekarang tidak punya kurikulum nasional. KTSP adalah jenis kurikulum yang sekarang sedang dikembangkan oleh masing-masing sekolah. Jika sekolah saja bisa menyusun kurikulum sendiri, maka komunitas juga bisa. Yang penting, mengacu kepada 3 standar, pertama adalah standar isi kurikulum dari 5 pelajaran itu. Kedua, standar kompetensi lulusan. Ketiga, mengacu kepada standar evaluasi melalui pendidikan kesetaraan.
Kini, tinggal bagaimana masyarakat membantu anak-anak jalanan ini dengan mendukung program-program seperti kelas berjalan ini.

Berapa jumlah lulusan program kelas berjalan ini ?
Kalau tentang lulusan home schooling, salah satunya adalah anak saya sendiri. Kalau untuk program kelas berjalan bagi anak jalanan, masih tahap awal. Dan baru tahun 2007 ini mereka ikut ujian kesetaraan. Kemarin bulan Juni, dan nanti akan ada lagi yang ikut pada bulan November.

Dari rentang usia berapa murid terbanyak di kelas berjalan ini?
Terbanyak, adalah anak-anak usia sekolah dasar. Sekitar 6 tahun s/d 12 tahun.

Bagaimana penanganan yang paling tepat untuk anak-anak Indonesia?
Sejak dulu saya selalu mengumandangkan motto bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai anak-anak. Dulu, Bung Karno pernah bilang bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawan-pahlawannya. Jangan lupakan sejarah masa lalu. Pahlawan adalah sejarah masa lalu. Tapi kita juga jangan lupakan masa depan. Karena pemimpin kita di masa depan adalah anak-anak yang ada sekarang. Mereka harus lebih dihargai.

Kita harusnya juga mencintai mereka. Mencintai di sini, dalam arti luas. Yaitu, memberikan pendidikan, memberikan perlindungan, memberikan makanan yang cukup bergizi, dan berbagai hal terbaik yang bisa membentuk mereka menjadi pribadi-pribadi unggul. Jika tidak begitu, maka kita tidak akan mempunyai pemimpin yang unggul.

Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah khusus bertema sosial, edisi khusus Hari Anak Nasional 2007, dan berkantor di Jakarta.

Writer : Ayu N. Andini
Reportase by Ayu N Andini
Photo by Ayu N. Andini

 
 

~ oleh one1thousand100education pada Juli 28, 2007.

Satu Tanggapan to “Anak Indonesia Harus Lebih Dihargai”

  1. http://www.mediakonsumen.com/Artikel1154.html
    ANAK INDONESIA SEKARANG DAN
    INDONESIA DI MASA DEPAN

    Beberapa minggu terakhir ini hidup saya disibuki oleh 2 soal besar. Yang pertama adalah melakukan pekerjaan sehari-hari saya untuk mendapatkan sesuap nasi di sebuah perusahaan swasta. Yang kedua adalah membantu 2 orang keponakan saya yang sedang menjadi korban pertikaian keduaorangtuanya. Mereka kedua-duanya perempuan berumur 14 tahun dan 9 tahun. Hal yang pertama tentu memang soal besar karena saya tidak bisa meneruskan hidup jika tidak bekerja. Namun mungkin bagi kebanyakan orang akan terasa agak aneh, karena saya telah menjadikan ‘membantu keponakan’ menjadi soal besar dalam hidup saya, bahkan hingga meninggalkan pekerjaan sekunder saya yang lain seperti menulis dan yang lain.

    Meski saya tidak memiliki anak sepanjang 15 tahun perkawinan saya dan meski saya sebelumnya tidak membaca UU Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) Th.2004, UU Perlindungan Anak Th.2002, UU Kesejahteraan Anak Th.1979 (yang semuanya baru saja saya baca beberapa hari yang lalu), tetapi sejak lama saya memiliki kesadaran, bahwa anak-anak adalah masa depan sebuah bangsa atau sebuah komunitas besar manusia, bahkan masa depan umat manusia. Kesadaran saya ini hampir sama dengan apa yang sudah tulis dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya (http://jojor.blogspot.com) mengenai Teknologi Informasi. Anak atau Teknologi Informasi begitu penting, karena akan menentukan atau mempengaruhi masa depan sebuah atau semua komunitas manusia.

    Anak-anak tidak hanya membutuhkan tempat bernaung, pakaian, sekolah, makan dan minum, atau teman-temannya ketika terjadi pertikaian keduaorangtuanya. Anak-anak ternyata membutuhkan konselor atau pendamping pada saat-saat pertikaian itu berlangsung. Itu lah yang saya coba lakukan beberapa minggu terakhir ini. Sayang sekali, usaha saya itu tidak bisa menjadi maksimal karena saya pun akan memiliki masalah besar jika tidak melakukan pekerjaan sehari-hari saya, yaitu mencari sesuap nasi itu.

    Saya adalah orang yang berada di lingkaran dekat kedua keponakan saya itu. Ada beberapa orang lain selain saya, misalnya kakek dan nenek mereka yang tidak memiliki pekerjaan lain selain menikmati hari-tua. Namun hanya saya sendiri yang menyediakan diri untuk menjadi pendamping dua keponakan saya itu. Tentu alasan orang-orang lain tidak bisa menjadi pendamping adalah karena sibuk atau alasan lain. Apa yang saya lakukan pun hanya pada waktu yang tersisa dari waktu bekerja saya. Bukan sepanjang hari. Lalu pertanyaan saya adalah, bagaimana peran pemerintah untuk menjadi konselor atau pendamping anak-anak yang menjadi korban pertikaian keduaorangtuanya ini (sebagaimana yang disebutkan dalam UU yang sudah saya sebut di atas)? Pertanyaan ini muncul, karena saya yakin banyak kasus pertikaian orang tua terjadi di sekitar kita.

    Setelah beberapa minggu saya menjadi pendamping dua keponakan saya itu, mulai muncul masalah, yaitu perbedaan pandangan saya dengan orangtuanya dalam menangani dua keponakan saya itu. Bagi saya, dua keponakanan saya ini harus terus terlindungi atau dihindari dari suasana konflik yang sedang terjadi. Sehingga mereka memerlukan sebuah tempat lain yang bisa memberikan suasana yang tepat untuk meneruskan hidup dan menyembuhkan luka-luka jiwa mereka karena telah menyaksikan kekerasan keduaorangtuanya dan telah mengalami kekerasan yang yang dilakukan oleh ayah atau ibu pada mereka.

    Karena perbedaan pandangan itu, akhirnya saya menyerah, saya berhenti menjadi pendamping dua keponakan saya, karena saya tidak atau belum memiliki hak asuh terhadap kedua keponakan saya itu. Belakangan saya membaca di UU Perlindungan Anak dan UU KDRT, bahwa penelantaran atau menempatkan anak dalam situasi yang tidak baik bisa membuat keduaorangtuanya kehilangan hak asuh pada anak-anaknya. Namun demikian, meski saya sudah membaca aturan-aturan itu, ini tetap soal yang sulit bagi saya untuk menyikapinya.

    Tulisan ini saya buat hanya sekali ketik sebagai hasil perenungan selama beberapa hari ketika membantu dua keponakan saya itu. Semoga lebih banyak pihak yang tergugah untuk lebih menyadari pentingnya kesadaran tentang perlindungan bagi anak-anak dan pentingnya memberi situasi yang tepat bagi anak-anak agar berkembang menjadi pribadi yang sehat dan kompetitif di masa depan untuk memimpin Indonesia.

    Ada soal-soal yang amat memprihatinkan ketika orang tua bertikai. Anak-anak dipertontonkan soal-soal yang membingungkan mereka. Ada soal-soal yang tidak konsisten yang bisa membuat anak tidak mampu belajar untuk tahu mana yang benar dan mana yang salah. Mereka juga diajarkan untuk menjadi biasa pada prilaku-prilaku buruk seperti berteriak-teriak, berkata-kata kotor atau kasar, mengancam, bahkan memukul.

    Dalam situasi pertikaian ini, saya pikir amat ideal jika ada konselor atau pendamping anak-anak yang datang, sebagaimana yang saya lakukan (meski gagal). Jangan berharap anak-anak atau keluarga yang bertikai itu yang datang ke konselor atau ke pusat konseling, karena saya yakin itu tidak akan mungkin dilakukan dalam suasana pertikaian. Berdasarkan laporan dari siapa saja, baik keluarga di lingkaran dekat, tetangga, atau teman dari keluarga yang bertikai itu, sebaiknya konselor (baik dari Pemerintah, Komnas Perlindungan Anak, atau Lembaga Swadaya Masyarakat) yang mendatangi anak-anak yang menjadi korban itu.

    Hari-hari terakhir ini saya mencoba mengingat-ingat apa yang sudah dilakukan pemerintah untuk soal-soal anak ini. Entah saya yang tidak tahu atau tidak peduli sebelumnya, saya tidak ingat banyak tentang apa yang sudah pemerintah lakukan untuk perlindungan anak ini. Saya hanya ingat ada Kak Seto yang Ketua Komnas Perlindungan Anak. Itu pun karena Kak Seto banyak muncul di TV dalam kasus pertikaian para artis TV, film, atau artis musik yang mengorbankan anak-anak mereka. Jika tidak ada kemunculan Kak Seto di TV mungkin saya tidak tahu adanya UU Perlindungan Anak, UU KDRT, atau Komnas Perlindungan Anak. Sehingga saya pikir, mungkin Kak Seto sebaiknya tidak hanya muncul saat membantu anak-anak artis itu, tetapi juga membuat kampanye yang lebih kuat dan giat untuk memberi kesadaran pada banyak orang tentang pentingnya melindungi anak-anak Indonesia.

    Sebagaimana sudah disebut di dalam pembukaan UU Perlindungan Anak, bahwa anak adalah”anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Bahwa anak adalah tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan”. Bahkan saya ingin mengulangi lagi, bahwa masa depan Indonesia terletak pada anak-anak yang sekarang ini dibentuk oleh 4 soal, yaitu orangtuanya, sekolah, teman-teman yang dikenalnya (di sekolah, famili atau di sekitar rumah) dan acara-acara TV. Untuk soal yang terakhir, saya kira acara-acara TV adalah soal yang paling penting untuk diperhatikan, karena ini harus melibatkan banyak ahli dari berbagai disiplin ilmu. Acara TV tidak boleh (sebagaimana yang terjadi sekarang) menjadi ancaman bagi perkembangan kepribadian anak-anak di masa depan.

    Orang tua tentu idealnya bisa menjadi pondasi yang kokoh dalam perkembangan pribadi anak. Soal-soal lain tentu akan menjadi mudah untuk diatasi jika anak-anak sudah memiliki orang tua yang ideal. Sayangnya pemerintah (setahu saya) tidak memiliki program untuk memberikan semacam bimbingan praktis tentang bagaimana menjadi orangtua yang ideal bagi perkembangan pribadi anak-anak. Begitu juga Komnas Perlindugan Anak (http://www.komnaspa.or.id) atau Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat belum saya dengar atau lihat ada yang memiliki program seperti ini.

    Idealnya ada sebuah pusat ’bimbingan untuk para orangtua’ yang menyediakan program bimbingan singkat 2 minggu atau beberapa minggu untuk tiap-tiap sebuah periode umur anak. Misalnya program untuk balita (0-5 tahun), program untuk menghadapi masa penuh gejolak 10-18 tahun, dan lain-lain. Bahkan kalau bisa program bimbingan ini diwajibkan untuk diikuti para orangtua untuk menjamin Indonesia memiliki orang-orang dengan kepribadian yang sehat dan kompetitif di masa depan.

    Bagaimana, Kak Seto?

    Jojo Rahardjo
    jojor@hotmail.com
    http://jojor.blogspot.com
    http://www.mediakonsumen.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: