Balas Budi pada Dunia Anak

Sosoknya telah dikenal dekat dengan dunia anak. Setelah Pak Soerjono (Pak Kasur), ia menjadi generasi penerus ‘tongkat estafet’ perjuangan untuk memihak pada dunia anak. Pengalaman hidupnya juga tak semulus bayangan orang ketika melihat kesuksesannya sekarang. 

Dr. Seto Mulyadi, lebih akrab dengan panggilan Kak Seto. Nama panggilan ini sebenarnya sudah ia pakai sejak ia mulai aktif menjadi penulis di sebuah rubrik untuk anak-anak, terbitan Surabaya (sekitar tahun 1966). Pada masa itu, Kak Seto menjalani masa SMA nya di St. Louis Surabaya. Di Surabaya, ia harus tinggal di rumah bibinya karena kendala ekonomi keluarga sepeninggal ayahnya.

 

Dalam masa ia melanjutkan sekolah di Surabaya inilah, Kak Seto yang di keluarganya akrab dipanggil Tong, tetap tak ingin menjadi beban ekonomi bibinya. Selain menjadi penulis rubrik anak-anak untuk memenuhi biaya sekolah, Tong juga bekerja menjadi pedagang asongan di jalan-jalan selepas sekolah.

 Walau begitu, Tong tetap bisa aktif di OSIS bersama kembarannya, Kresno. Bahkan rapor Tong selalu bernilai bagus. Ia punya obsesi untuk masuk ke fakultas kedokteran. Namun, cita-citanya harus kandas. Tong tak diterima di fakultas kedokteran, baik di Universitas Airlangga maupun Universitas Indonesia.  Sebaliknya, bagi Kresno, kembaran Tong. Kresno diterima di fakultas kedokteran dan kakak mereka, Ma’ruf, juga masuk Akabri. Ada rasa kecewa yang dipendam diam-diam oleh Tong.

“Hidup seperti itu membuat saya tertekan hingga akhirnya saya memutuskan meninggalkan rumah dan pergi ke Jakarta,” tuturnya. Subuh, 27 Maret 1970, ia pun berangkat dari Surabaya tanpa pamit dan hanya meninggalkan surat kepada ibunya. 

 Kak Seto Datang, Jakarta!

Hidup di Jakarta, begitu berat bagi Kak Seto. Pergulatannya dengan peruntungan di Jakarta, dimulai benar-benar dari ”bawah”.  Ia pernah menjadi pembantu rumah tangga, jadi tukang batu, bahkan menjadi tukang semir sepatu di Blok M.  “Berat sekali keadaan waktu itu, dibentak-bentak dan dimarahi oleh tuan saya,” tuturnya. Hingga suatu ketika, di rumah tempatnya menumpang, ia tertarik pada acara yang diasuh Bu Kasur di TVRI.  Sebuah acara yang banyak mengekspos potensi anak-anak Indonesia.  Nekad, ia pergi mencari rumah Bu Kasur. Niatnya memang ingin berguru. ”Saya bilang waktu itu, tak dibayar pun tidak apa-apa, asalkan boleh membantu Bu Kasur,” kenangnya. Sejak ia direkrut jadi asisten Soerjono (yang kemudian lebih akrab dengan panggilan Pak Kasur) tanggal 4 April 1970 lampau, dunia anak jadi makin “dekat” padanya.

Pada masa itu, Pak Kasur adalah penggagas untuk mendirikan Taman Kanak-kanak di Indonesia yang dikenal dengan sebutan TK Indria. Pak Kasur memang terkenal sebagai pelopor yang mengekspos potensi anak, lewat sebuah mata acara di TVRI. Kak Seto mulai banyak belajar, hingga akhirnya Pak Kasur menganggapnya gemilang dan pantas menjadi penerus ‘tongkat estafet’  dari cita-cita pribadinya di dunia anak-anak. 

Penghasilan Kak Seto agak lumayan. Selama ia bekerja menjadi asisten Pak Kasur dan menjadi pembantu serta pengasuh anak di rumah Direktur Bank Indonesia saat itu, (Soeksmono Martokoesoemo) uangnya digunakan untuk meneruskan pendidikan ke fakultas psikologi Universitas Indonesia.     

Sambil aktif kuliah, ia juga mengasuh acara Aneka Ria Taman Kanak-Kanak di TVRI, bersama Henny Purwonegoro. Ia mendongeng, mengajar anak-anak sambil bernyanyi, dan bermain sulap bersama anak-anak. Dengan bonekanya Si Komo berikut lagunya, ia pun makin lekat dengan anak-anak. Hingga keadaan ekonominya pun mulai membaik. Setelah berhasil menggondol gelar sarjana psikologi tahun 1981, Kak Seto mengundurkan diri dari keluarga Soeksmono.  

Balas Budi Sepanjang Hayat

Usianya kini 56 tahun, tapi lelaki yang selalu tampil dengan senyum ramah ini tak pernah jauh dari dunia anak-anak. “Masa kecil saya, sangat bahagia,” kenangnya. Ia menceritakan masa kecilnya yang banyak ia habiskan di kompleks perumahan sebuah perusahaan tembakau di Klaten, Jawa Tengah. 

Walau telah lebih dari 37 tahun ia berkiprah di dunia anak-anak, lulusan program doktor jurusan psikologi di Universitas Indonesia ini seperti tak pernah puas. Ketika ditanya mengapa selalu ingin bermain dengan anak-anak, dan bergembira bersama mereka, Kak Seto menjawab arif, “Saya ingin membalas budi pada mereka. Kepada semua anak-anak. Karena masa anak-anak yang pernah saya lewati, itu benar-benar menjadi masa bahagia saya. Maka, saya selalu ingin membuat mereka juga selalu bahagia, selalu bergembira. Karena mereka adalah anak-anak.”

 

Kak Seto berpendapat, “Bermain merupakan salah satu unsur penting dalam tumbuh kembang fisik, intelektual, dan mental anak. Belajar sambil bermain, itu menarik.”

 

Dari sisi kebutuhan anak dalam belajar, Kak Seto yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak, memberi pandangan bahwa kegiatan belajar jangan sampai menjadi bentuk tekanan terhadap anak. “Yang penting kan, anak-anak ini mau belajar. Bukan yang penting, anak-anak ini mau sekolah. Wong banyak anak sekolah yang enggak mau belajar, ” ucapnya.

 Tulisan ini telah dimuat di majalah pendidikan khusus untuk guru, dan diterbitkan di Jakarta pada bulan Agustus 2007. 

 

Writer : Ayu N. Andini

~ oleh one1thousand100education pada September 12, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: