HIPKI dan FeMac Jalin Kerjasama

Di tengah fenomena ‘gentingnya’ hubungan antara Malaysia dan Indonesia, FeMac (Persekutuan Pusat Bertauliah Jabatan Pembangunan Kemahiran Malaysia) dan Hipki (Himpunan Pengelola Kursus Indonesia) malah melawan arus. Mereka meniti kepercayaan dan menjalin kerjasama. Benarkah kondisi kritis hubungan dua negara ini akan berpengaruh pada minat mereka untuk meneruskan kerjasama jangka panjang ini? Berikut Majalah MISI Pendidikan Nonformal mengupas sekelumit rencana kerjasama yang cukup kontroversial ini.  

Belum lama ini, Direktorat Pendidik dan Tenaga Pendidik Pendidikan Nonformal (PTK PNF) telah kedatangan tamu dari negeri jiran. Tak tanggung-tanggung, Vice President FeMac (Federation of Jabatan Pembangunan Kemahiran Accreditated Centers, Malaysia), Captain Dr. Ramlan Bin Ramli, tak sekedar berkunjung ke acara Forum Ilmiah PTK PNF. Ia juga menjadi pembicara di salah satu materi acara yang dihadiri sekitar 400 orang tim akademisi dari berbagai daerah seIndonesia.  

 

FeMac sendiri adalah sebuah lembaga pelatihan/kursus di negeri jiran. Usianya memang masih muda. FeMac didirikan di Kuala Lumpur, lima tahun yang lalu. Strukturnya berada langsung di bawah Kementrian Sumber Manusia, Malaysia. Dalam perkembangannya hingga kini, FeMac telah membentuk sebanyak 700 program kerja. “Antaranya ada program tata rias,  perhotelan, engineering offshore, marine,” tutur Captain Dr. Ramlan Bin Ramli, Vice President FeMac yang sedikit berpromosi.

 

FeMac juga berfungsi sebagai lembaga konsulat yang turut membina program National Occupation Skill Standard (NOSS). Artinya, FeMac juga turut menjadi lembaga yang menetapkan standarisasi kompetensi para tenaga kerja di Malaysia. Mengingat FeMac menyelenggarakan cukup banyak program kursus/pelatihan, para lulusan yang akan dihasilkan dari FeMac merupakan jumlah out put yang dirancang sesuai dengan kebutuhan industri di negeri Semenanjung Malaya ini.

 Kontribusi FeMac terhadap negaranya juga cukup signifikan. Sistem penilaian dan daftar nilai hasil uji kompetensi di FeMac, akan menjadi bahan yang diajukan kepada pihak Kerajaan Malaysia. “Setelah itu, berkasnya akan menjadi rujukan pembakuan standar kompetensi,” ucap Ramli menjelaskan proses kerja dan kontribusi FeMac terhadap kebutuhan tenaga kerja di negaranya. Mengenal Sistem Portofolio dari Negeri JiranSedikit banyak, misi Hipki yang selalu ingin mengejar ketertinggalan daya saing Indonesia di kancah pasar tenaga kerja internasional, telah menggiring Hipki untuk meraih berbagai pihak sebagai partner kerjasamanya. Kali ini, Malaysia menjadi negara yang dilirik Hipki. Negeri Jiran yang satu ini telah lama menjadi negara penerima pasokan tenaga kerja Indonesia yang cukup potensial.

Menurut penuturan Ramli, di Malaysia memang lebih banyak tenaga kerja asing. Termasuk dari Indonesia yang terbanyak. Tahun lalu, FeMac sudah melakukan sertifikasi bagi seluruh tenaga kerja asing di Malaysia sejumlah 150.000 orang dan 70% nya dari Indonesia. Sistem sertifikasi melalui standar kompetensi kerja ala Malaysia ini, dapat digunakan para pemiliknya untuk melamar kerja dimana saja, di seluruh dunia.

 

“Saya sudah melihat. Bentuknya memang portofolio. Sangat tebal jika dibandingkan dengan standar lamaran kerja di Indonesia yang hanya terdiri dari beberapa lembar kertas saja,” aku Dasril Rangkuti. Menurutnya, portofolio yang setebal itu punya nilai lebih. Mampu memberikan daya tawar yang cukup tinggi bagi para tenaga kerja Indonesia. Isi yang terkandung dalam portofolio ini, memiliki porsi 80% informasi keahlian tenaga kerja yang telah diuji kompetensinya.

 

Lain lagi urusannya jika bicara mengenai sistem penilaian. Para pelatih dan penguji peserta kursus di berbagai embaga-lembaga kursus di Indonesia, kebanyakan ditangani oleh satu personal. Padahal  menurut Dasril, idealnya penguji dan pelatih ditangani oleh orang yang berbeda, dengan isi materi uji yang sesuai dengan materi ajar yang telah diberikan. “Saya melihat, di negara kita masih mempraktekkan cara seperti itu. Materi uji, bisa sangat berbeda dengan materi ajar. Jadi peserta pun tidak maksimal dalam memperoleh hasil uji yang terbaik. Berbeda dengan di Malaysia. Lembaga kursus disana punya MUK (Materi Uji Kompetensi) yang sistem penilaiannya lebih profesional dan lebih ke arah praktik kerja,” ujarnya menjelaskan. 

 Mengingat di Indonesia memang belum dibuat standarisasi nasional bagi lembaga kursus, pendidik, dan tenaga kependidikannya. Bahkan sertifikasi kompetensi bagi para lulusan kursus di Indonesia yang gaungnya mampu diakui dunia internasional pun belum dibenahi. Sistem sertifikasi peserta kursus dan pelatihan yang cukup valuable di dalam negeri sendiri, memang bisa dibilang belum tersedia.  

“Belum ada lembaga resmi yang mengurus soal lembaga-lembaga kursus di Indonesia. Sampai sekarang belum ada lembaga penguji kompetensi untuk tenaga kependidikan dan pendidik nonformal. Ini perlu kita pikirkan,” tutur Dasril panjang lebar.

 

Sebagai salah satu tim ad hoc dalam Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), ia menyatakan, sudah waktunya Indonesia membuka mata terhadap kemajuan di negara Asia lainnya. Tahiland, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Jepang telah menggunakan sistem sertifikasi portofolio untuk para tenaga kerjanya.

 Hipki memandang, kursus dan pelatihan bukan hanya dinilai secara akademis, tetapi lebih pada penilaian secara praktik. “Penilaian yang sesungguhnya lebih mengarah pada kompetensi profesional. Saya malah mengusulkan agar pemerintah segera menyusun standarisasi baku yang lebih fokus,” tegasnya. Karena menurutnya, perusahaan dan industri yang akan menerima para lulusan kursus ini juga tidak akan kebingungan melihat lebih banyak nilai akademis daripada nilai keterampilan praktik kerja para calon tenaga kerja mereka. 

Hipki mengambil inisiatif untuk menggali lebih banyak informasi mengenai standar-standar penilaian kompetensi tenaga kerja di negara tetangga. “Kalau memang mereka lebih dulu punya sistem yang cukup baik, tak ada salahnya kita mencari tahu hal itu lebih banyak untuk kemajuan di negeri sendiri,” ujar Dasril optimis.

 

Niatan Hipki menjalin kerjasama dengan FeMac, adalah dalam rangka studi banding pengembangan mutu pendidikan nonformal. Berdasarkan MOU (member of understanding) yang direncanakan, akan ada beberapa program yang dijalankan dalam kerjasama Fe Mac dan Hipki, yaitu program beasiswa pertukaran peserta kursus, pertukaran instruktur, studi banding, penyaluran tenaga kerja, dan pemasaran bersama.

 Prosesnya hingga kini masih dalam masa observasi atau penjajakan. Masing-masing negara masih akan mengadakan program kunjungan awal dan melihat berbagai kemungkinan. “Akan sangat mungkin, rencana program tadi menjadi berkembang dan bertambah jumlahnya,” aku Dasril. Tahap perkenalan ini sungguh dibutuhkan mengingat masing-masing negara memiliki keunggulan di sisi yang tak sama. Agar perbedaan ini tak menghambat proses kerjasama, observasi pun direncanakan sebagai ‘pintu pembuka’ nya. Hipki merencanakan jadwal observasinya ke negeri jiran dalam beberapa bulan kedepan paska Hari Raya Idul Fitri 1428 H yang telah lalu.  Secara rinci, Dasril memaparkan teknis program pertukaran instruktur kursus. Indonesia akan mengirimkan beberapa instruktur untuk mempelajari bagaimana sistem belajar dan mengajar di sana. Termasuk sistem kurikulum dan penilaian yang berlaku di lembaga kursus yang dinilai cukup unggul di Malaysia. “Sedangkan dari Malaysia pun sama halnya. Mereka akan pelajari kurikulum dan sistem penilaian di sini untuk beberapa lembaga kursus yang mereka butuhkan. Misalnya, tata rias, menjahit, akupunktur, juga tata boga. Atau tergantung dari permintaan negara jiran,” ucapnya.  Berdasarkan kabar dari Hipki, telah ada beberapa tempat di Jakarta yang direncanakan akan dikunjungi oleh lembaga-lembaga kursus Malaysia dibawah FeMac. Beberapa diantaranya adalah kursus menjahit Haji Aminah di Jl. Mardani, kursus merias pengantin, Media Rias, di Jl. Cempaka Putih Baru, kursus akupunktur di LP3I, kursus tata boga di YPKP Slipi dan Eka Boga di Kelapa Gading, serta usaha kerajinan tangan di Sarinah, Thamrin.  

Kerjasama yang dibangun di tengah kondisi krisisnya hubungan dua negara ini, semoga menjadi jalan terbaik sebagai ’pendingin’ dari ’panasnya’ kabar yang beredar. Karena bagaimanapun, kerjasama ini dipandang penting bagi pengembangan mutu pendidikan dan peningkatan perekonomian di masing-masing negara. Serumpun serampai, semoga terhimpun kerjasama yang damai.

Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah pendidikan nonformal yang berkantor di Jakarta.

Writer: Ayu N. Andini

 

~ oleh one1thousand100education pada Desember 12, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: