Kiprah Tim Akademisi PTK PNF

Fenomena kompetensi dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal masih menjadi bahan pembicaraan. Hal ini menuntut keterlibatan dari berbagai lini. Kini, tim akademisi pun diterjunkan untuk lakukan interaksi optimal dengan para pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal serta penyelenggaraan pendidikan nonformal di daerahnya.  Kehadiran tim akademisi di tengah praktek pendidikan nonformal di Indonesia telah menjalankan peranan yang dipandang belum cukup optimal. Tim akademisi pusat yang beranggotakan 10 orang ini, sedianya menjalankan banyak tugas pendampingan dan penelitian bagi berjalannya pendidikan nonformal di Indonesia. Namun ada banyak keterbatasan yang membuat mereka tak akan bisa menjangkau seluruh daerah.  Terhitung, ada 8 wilayah regional BPPLSP (Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda),  24 BPKB (Balai Pengembangan Kegiatan Belajar) dan sekitar 230 SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) yang tersebar di 20 provinsi. Untuk kebutuhan ini, Direktorat PTK PNF (Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Nonformal) menggandeng dan melibatkan lebih banyak anggota tim akademisi yang nota bene para pakar pendidikan nonformal dan para dosen dari berbagai universitas di Indonesia.  Belum lama ini, tanggal 11 s/d  14 Agustus 2007 yang lalu, telah digelar acara Forum Ilmiah PTK-PNF (Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Nonformal), di Hotel Grand Cempaka, Jakarta. Acara ini dihadiri sekitar 300 orang tim akademisi yang datang dari berbagai daerah se-Indonesia. Turut pula hadir sebagai pembicara, Dirjen PMPTK (Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan: Dr. Fasli Jalal, Ph. D, Dirjen  Dikti (Pendidikan Tinggi): Prof. Dr. Ir. Satryo Soemantri Brojonegoro, serta para praktisi diantaranya Dr. Martha Tilaar dari Puspita Martha dan Kapt. Dr. Ramlan Bin Ramli dari FeMAC, sebuah Asosiasi Lembaga Training di Malaysia. Prioritaskan Peningkatan Mutu PTK-PNF

Pendidikan nonformal yang terhampar luas di Indonesia. Mengutip tanggapan Prof. Dr. Dewa Komang Tantra, Dip. App. Ling, M. Sc, salah satu anggota tim akademisi pusat, menyatakan pendidikan nonformal masih  tampil sebagai belantara. Karakternya masih belum diidentifikasikan lebih jelas dan rinci. Rencana tentang kegiatan pemetaan karakter pendidikan nonformal sedianya memang akan dilakukan oleh pada peneliti yang duduk dalam tim akademisi PTK-PNF.

 Direktorat PTK PNF secara resmi membentuk tim akademisi PTK PNF sejak awal Maret 2007. Namun masih banyak hal didalamnya yang perlu untuk dibenahi dan ditinjau kembali. Terutama untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan nonformal serta penyelenggaraan pendididikan nonformal di berbagai daerah. Pembicaraan dan diskusi ini, juga melibatkan para pejabat dari Sekretariat Ditjen PMPTK, Direktorat Bina Diklat Ditjen PMPTK, Direktorat Pendidikan Masyarakat Ditjen PNFI (Pendidikan Nonformal dan Informal), Direktorat Ketenagaan Ditjen Pendidikan Tinggi, Direktorat PTK-PNF, Direktorat PAUD, Direktorat Kesetaraan, Direktorat Kursus dan Kelembagaan, serta Forum PTK PNF.   Direktur Jenderal PMPTK (Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Dr. Fasli Jalal, PhD, menyatakan terus terang memang masih banyak yang harus dibenahi, terutama pola kerja tim akademisi dan persiapan untuk tingkatkan mutu PTK PNF di lapangan. “Jalan keluarnya memang harus memaksimalkan interaksi tim akademisi dengan penyelenggaraan pendidikan nonformal secara langsung di lapangan,“ ujarnya. 

Diharapkan nantinya, melalui interaksi ini akan ada efek timbal balik yang saling menunjang. Dari pengawasan model penyelenggaraan pendidikan nonformal di daerahnya masing-masing, tim akademisi akan memberikan banyak usulan dan saran untuk peningkatan mutu penyelenggaraan. Di sisi lain beberapa fakta yang ada di lapangan menjadi bahan penting bagi tim akademisi. Bahan-bahan dari lapangan akan menjadi data kebutuhan pihak perguruan tinggi tempat para tim akademisi ini bekerja. Data ini nantinya digunakan untuk penyusunan metode pendidikan bagi para pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal. Efek timbal balik ini tentunya membutuhkan keterlibatan Dirjen Pendidikan Tinggi  untuk turut mendukung metode-metode pengajaran dengan pola-pola dan program yang juga diperbaharui.

 

Ketika dikonfirmasikan mengenai kemungkinan perubahan kurikulum di tingkat perguruan tinggi demi kebutuhan peningkatan mutu PTK PNF, Dr. Fasli Jalal, PhD menjawabnya dengan bijak, “Kini belum sampai pada tahap revisi pola yang sudah berjalan selama ini di pendidikan tinggi dan LPTK. Sekarang, tim akademisi ini masih harus mengidentifikasikan pola mana yang efektif dan mana yang tidak efektif, baru kemudian nanti akan dibenahi.”  Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa hasil dari pertemuan forum ilmiah ini akan diajukan ke pihak Dirjen Pendidikan Tinggi sebagai bahan rekomendasi untuk membuka kemungkinan perubahan kurikulum sesuai dengan kebutuhan PTK PNF di lapangan.

 

Selama ini, penugasan tim akademisi dalam kiprahnya di jalur pendidikan nonformal memang terkesan masih tersendat. Erman Syamsudin, S.H, M. Pd, Direktur PTK PNF juga mengakui, “Mohon maaf, karena selama ini penugasan tim akademisi memang masih terasa meraba-raba. Belum terang betul fungsinya, apakah sebagai peneliti, atau sebagai peninjau saja.”

 

Namun kini, menurut Erman, sudah saatnya peranan tim akademisi menjadi lebih dihargai di mata para PTK PNF dan di dunia pendidikan nonformal. Sebagai peneliti, tim akademisi sudah harus memulai penelitiannya di lapangan mengenai penyelenggaraan pendidikan nonformal di daerahnya. Ia juga menginginkan agar tim akademisi mampu mengkritisi setiap kebijakan yang berlaku di daerahnya masing-masing serta mampu menciptakan model-model pengembangan mutu PTK PNF sekaligus.

 

Pada paparannya kala itu, Erman membuat beberapa perkiraan target kerja tim akademisi. “Misalnya, jika di tingkat pusat ada 5 atau 3 orang anggota tim akademisi, berarti ada 37 model pengembangan mutu pendidikan nonformal yang bisa dirancang. Kemudian untuk tingkat kabupaten dan kota, ada 440 orang tim akademisi maka akan lahir sekitar 320 rancangan model pengembangan mutu. Jika dihitung dari 3 buah Sanggar Kegiatan Belajar, minimal tercipta masing-masing 1 model, maka sudah ada sekitar 140 analisa dan model yang dirancang,” tuturnya panjang lebar.

 Balada Tim Akademisi

Menurut pengakuan Tatang Ganjar, M. Pd, sebagai tim akademisi dari Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Cirebon, penugasan yang dijalaninya di daerahnya memang belum berjalan maksimal. “Tim akademisi di daerah kami baru dibentuk bulan Juli 2007 ini. Belum lama, jadi masih butuh banyak informasi dan kejelasan tugas pokok dan fungsi dari pusat,” ucapnya.

 Tatang adalah salah satu tim akademisi yang direkrut dari SKBnya sendiri dan sesuai dengan yang dibutuhkan SKB. Menurutnya memang ada penegasan dari Dirjen PMPTK , bahwa yang berhak jadi tim akademisi dan mendampingi SKB di Kabupaten adalah kalangan para dosen dan pakar pendidikan nonformal. “Saya termasuk seseorang yang diangkat dari kalangan yang berpengalaman di bidang pendidikan nonformal. Dulunya saya adalah Kepala SKB Kabupaten Kuningan, Jawa Barat,“ tegasnya.  

Beralih ke Pulau Sumatera. Drs. Didi Tahyudin, M. Pd, adalah salah satu dosen di jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Kependidikan, Universitas Sriwijaya, Palembang. Ia juga menjabat sebagai ketua tim akademisi BPKB Sumatera Selatan.

 Tugasnya melingkupi wilayah kerja sebanyak 14 kabupaten dan kota. Dari 14 kabupaten dan kota ini, hanya ada 8 kabupaten dan kota yang telah mendirikan SKB . “Karena sisanya merupakan pemekaran dari kabupaten yang lama dan sekarang sedang proses pembentukan SKB,“ jelasnya. Selama 2 tahun ini ia menjalankan tugas sebagai peneliti pendidikan nonformal sekaligus sebagai tim akademisi di daerahnya, ia mengakui tugas pokok dan fungsi yang ia jalani, belum optimal. Menurut pengakuannya, tim akademisi di daerahnya kerap menemui kesulitan di lapangan. Pasalnya, masih terdapat perbedaan misi dan visi dari tim akademisi yang nota bene adalah para civitas akademika, dengan para penyelenggara di BPKB Sumatera Selatan. “Perbedaan latar belakang pendidikan juga menjadi kendala,“ ujarnya. Bahkan, ada respon negatif dari BPKB yang ia dampingi. “Ada respon ketakutan dari pihak BPKB terhadap tim akademisi yang bekerja di sana. Mereka menganggap kami ini pengawas yang pantas ditakuti. Pihak BPKB masih merasa khawatir bahwa peranan tim akademisi akan mengganggu stabilitas mereka,“ tuturnya prihatin.   

Jika tim akademisinya menemukan kasus di BPKB Sumsel dan memberikan usulan untuk perbaikan, maka tindakan ini masih mendapat respon yang cukup baik. “Selama ini yang berjalan adalah pendampingan yang sangat kompromis dan dialogis. Padahal ada beberapa kasus yang butuh tindakan. Tapi kami tak mampu memberikan tindakan tegas apapun karena tak diberi hak untuk itu,” tegas Didi.

 

Perbaikan memang perlu segera dilakukan. Kiprah tim akademisi harus diberikan ruang kreatifitas yang lebih luas. Pihak Direktorat PTK PNF hendaknya siap menerima semua hasil penelitian dan usulan tim akademisi ini. Para PTK PNF pun akan menerima dengan sukacita, realisasi Dirjen PMPTK dan Dirjen Dikti untuk memenuhi kebutuhan kompetensi PTK PNF dalam menjalani tugasnya melayani kebutuhan pendidikan nonformal bagi masyarakat. 

Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah pendidikan nonformal yang berkantor di Jakarta.

Writer: Ayu N. Andini

 

~ oleh one1thousand100education pada Desember 12, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: