Pelita di Pelosok Pandeglang

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat yang berdiri di tanah tradisi Banten ini berharap agar pendidikan menjadi pelita bagi masa depan masyarakat di Kecamatan Saketi. Geliatnya yang tersebar di 6 desa ini, menyediakan akses pendidikan bagi sekitar 20.000 orang warga yang membutuhkannya.  

Provinsi Banten sebagai provinsi yang ke-30 di Indonesia, dibentuk dengan Undang-undang No. 23 Tahun 2000 Tanggal 17 Oktober 2000 tentang Pembentukan Provinsi Banten dengan wilayah meliputi Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Cilegon dan Serang jadi ibukota provinsinya. Berdasarkan UU RI Nomor 23 tahun 2000 luas wilayah Banten adalah 8.651,20 Km2 . Secara wilayah pemerintahan Provinsi Banten terdiri dari 2 Kota, 4 Kabupaten, 140 Kecamatan, 262 Kelurahan, dan 1.242 Desa. Mayoritas penduduknya memiliki semangat religius ke-Islaman yang kuat dengan tingkat toleransi yang tinggi.  

 

Prioritas pemerintah Provinsi Banten terpancang pada dua hal, yakni pemberantasan buta huruf dan penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 tahun. Berdasarkan data Dinas Pendidikan Provinsi Banten tahun 2006, masih ada sekitar 203.000 orang penduduknya yang buta aksara. Sedikit banyak, hal ini memberi pengaruh yang cukup signifikan. “Dana APBD memang banyak tersedot ke program penuntasan Wajar Dikdas 9 tahun dan pemberantasan buta aksara,” ucap Widodo Hadi, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten.

 

Mendorong percepatan penuntasan targetnya di bidang pendidikan, Pemda Banten juga didukung oleh beberapa lembaga penyelenggara pendidikan di daerahnya. Salah satunya, melalui peran serta Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Pelita di Kabupaten Pandeglang. Sejak berdiri dan aktif menyelenggarakan pendidikan nonformal di daerahnya tahun 2003 lalu, program-program PKBM Pelita berjalan sesuai dengan alur kebijakan pemerintah daerahnya. Yakni, menuntaskan buta aksara dan mendukung penuh program Wajib Belajar Pendidikan Dasar (Wajar Dikdas) 9 Tahun. 

 Kemudahan untuk Para WarganyaPKBM Pelita merupakan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat yang berdiri berdasarkan kondisi lingkungan masyarakat di Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang, Banten. Program-program yang terselenggara di PKBM Pelita adalah program yang dirancang sesuai dengan kebutuhan warga masyarakat di Kecamatan Saketi. Kondisi tingkat pendidikan masyarakatnya cukup memprihatinkan. Sekitar 60% dari jumlah warganya, hanya tamatan Sekolah Dasar.  Penduduknya banyak yang bekerja sebagai buruh tani. Upahnya cuma Rp 10.000,- per hari. Sebagian yang lain, menjadi buruh kerja di industri rumah tangga tempat pembuatan emping. Itu pun upahnya hanya Rp2.500,- per kg. ”Saya prihatin dengan keadaan ini. Masih banyak dari penduduk di sini tergolong dalam ekonomi lemah dan tingkat pendidikannya juga ikut rendah,” ucap Ahmad Suhaeri, S. Pd, Ketua dan pengelola PKBM Pelita yang juga berprofesi sebagai pamong belajar di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Serang, Banten.  Secara umum PKBM Pelita telah dapat melaksanakan pelayanan program kepada masyarakat melalui berbagai kelompok belajar. Para pengelola dan tutornya pun terdiri dari warga masyarakat setempat. Program yang menjadi prioritas di PKBM Pelita adalah Keaksaraan Fungsional dan Pendidikan Kesetaraan Paket A setara Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah serta Paket B setara SMP/Madrasah Tsanawiyah. Warga yang belajar di PKBM Pelita meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2005 lalu, tercatat ada 30 orang warga belajar yang ikut dalam program Keaksaraan Fungsional. Tahun 2007 kini, telah ada 14 kelompok Keaksaraan Fungsional yang seluruh warga belajarnya berjumlah 140 orang.  Sedangkan untuk pendidikan kesetaraan, tahun 2005 lalu PKBM Pelita, alumni progam Paket A setara Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah sebanyak 20 orang. Tahun 2007 kini, selain Paket A setara SD/MI yang warga belajarnya sebanyak 40 orang, ada pula Paket B setara SMP/MTs yang kini berwarga belajar sejumlah 80 orang. Usia warga belajar ini sangat variatif, mulai dari usia 9 s/d 20 tahun. Penyelenggaraan Keaksaraan Fungsional  dan pendidikan kesetaraaan ini didukung oleh 14 tutor Keaksaraan Fungsional dan 12 tutor pendidikan kesetaraan. PKBM Pelita yang bergerak dari sumber dana pribadi dan bantuan pemerintah ini, menampakkan kemajuannya yang cukup signifikan.   

Program-programnya diselenggarakan di 6 desa, yaitu Kadudampit, Saketi, Ciandur, Wanagiri, Parigi, dan Girijaya. Program lainnya yang kini masih dijalankan, diantaranya adalah  program kecakapan hidup (Life Skills) pembuatan bakso yang kini telah melahirkan usaha kecil sebanyak 8 gerobak bakso. Ada pula program Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Pelita dengan koleksi bukunya kini mencapai 150 judul. Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Tunas Pelita, melalui Kelompok Bermainnya yang kini bermurid 20 anak usia dini, dengan 3 tenaga pendidik dan 1 pengelola. ”Program bimbingan membaca Al-Qur’an juga cukup banyak pesertanya. Sekarang ada 85 anak usia 7 s/d 19 tahun yang ikut belajar di sana,” papar Ahmad Suhaeri.

Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah pendidikan nonformal yang berkantor di Jakarta.

Writer: Ayu N. Andini 

~ oleh one1thousand100education pada Desember 12, 2007.

Satu Tanggapan to “Pelita di Pelosok Pandeglang”

  1. Salut untuk perjuangan Pak Ahmad Suhaery. Semoga bisa ditiru oleh banyak kalayak lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: