Road Show PTK PNF ke Daerah Tapal Kuda dan Bali

Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan – Pendidikan Nonformal (PTK-PNF) meninjau ke beberapa daerah Tapal Kuda plus Kabupaten Jembarana di Bali. Kunjungan ke sebelah timur pulau Jawa ini, memang dalam rangka tinjauan kerja. Melihat langsung seberapa jauh daerah-daerah ini berupaya meningkatkan mutu pendidikan nonformalnya. 

Roadshow yang kali ini digagas Direktorat Pendidik dan Tenaga Pendidik Pendidikan Nonformal (PTK-PNF), melibatkan Direktur PTK-PNF: Erman Syamsuddin, S. H, M. Pd, Ketua Forum IT PNF: Kosasih Abubakar, Ketua Forum Keaksaraan: Subur Saryuki, dan Ketua BPPLSP Regional IV Jawa Timur: Harun Al Rasyid beserta dua anggotanya, Dra. Prihaningsih, M. Si, dan Husein Ismail, S. E (tim dokumentasi).    

Kegiatan yang dijalani selama dua hari, sejak tanggal 30 Juli 2007 ini punya daftar kunjungan yang lumayan padat. Ada 5 kabupaten yang terjadwal menjadi target kunjungan kerja. Beberapa daerah, disebut termasuk dalam daerah Tapal Kuda. Ini istilah untuk beberapa lokasi di timur provinsi Jawa Timur yang letaknya tampak mirip bentuk tapal kuda jika dilihat di dalam peta. Lokasi itu adalah Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.  Dari lokasi tersebut, yang disinggahi adalah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Situbondo, dan Kabupaten Banyuwangi. Kemudian rombongan juga melakukan kunjungan kerjanya ke seberang pulau Jawa. Kabupaten Jembrana di Bali, jadi daftar tempat yang terakhir di kunjungi waktu itu.  

 Aneka Sambutan dari Daerah

Kabupaten Pasuruan, jadi titik pertama lokasi roadshow ini. Setiba di kota Pasuruan, rombongan dari Direktorat PTK-PNF langsung menuju ke gedung Badan Pengembangan Sumber Daya Daerah. Hari itu, Senin, 30 Juli 2007 digelar acara Pembukaan Workshop Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Nonformal (PTK-PNF) dan Sosialisasi Forum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kabupaten Pasuruan. Acara ini dihadiri oleh sekitar 160 orang peserta. Di tengah para peserta, turut hadir pula Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan Drs. Bambang Pudjiono, M. Si, ; Kepala Seksi Pendidikan Luar Sekolah (PLS), Drs. Sutarjo M. Pd, dan beberapa ketua Forum PTK-PNF Kabupaten Pasuruan. Dalam pidato pembukaan acara ini, Bambang Pudjiono memaparkan sekelumit profil Kabupaten Pasuruan. Dari sekitar 365 desa, tercatat ada 7.895 penduduknya yang masih buta aksara. Untuk hal ini, Bambang menyatakan bahwa Pemda Kabupaten Pasuruan menargetkan pada akhir tahun 2007, di daerahnya tak ada lagi yang buta aksara.

Pertumbuhan pendidikan nonformal di Kabupaten Pasuruan yang terdiri dari 24 kecamatan ini, juga dikatakan cukup pesat oleh Bambang. “Dari berbagai kegiatan belajar di keaksaraan fungsional, program kesetaraan, dan program PAUD, skrg sudah mulai bergulir cepat sekali. Bahkan dari ketiga forum ini, kami berharap agar peningkatannya bisa lebih berkembang di masyarakat,” ucapnya dihadapan para peserta yang kebanyakan adalah para tenaga pendidik dan kependidikan di Keaksaraan, Kesetaraan, dan PAUD. Struktur pendidikan nonformal di sana sedikit berbeda dengan di tempat lain yang memiliki Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Berdasarkan kebijakan dari otonomi daerah di sana, SKB yang dulunya ada di kabupaten ini kini sudah dihapus.

Dari paparan Erman Syamsuddin, ia menyatakan bahwa pelaksanaan pendidikan nonformal hendaknya bisa bersinergi dengan kebijakan-kebijakan daerah. “Untuk  memperlancar jalur pelaksanaan pendidikan nonformalnya, masyarakat akan membutuhkan SKB. Bila perlu, kami akan mengadakan tanda tangan bersama antara pihak Direktorat PTK PNF dengan pihak Pemda Kabupaten Pasuruan,” tambahnya.  Usai dari pasuruan, kami menuju Kabupaten Probolinggo. Sore itu, di SKB Kraksaan, Kabupaten Probolinggo memang masih digelar acara pembukaan Pelatihan Tutor Keaksaraan Fungsional, Tutor Kejar Paket B, dan Tenaga Pendidik PAUD se- Kabupaten Probolinggo.

Pelatihan ini sesungguhnya telah dimulai sejak tanggal 25 Juli 2007 dan dijadwalkan berakhir tanggal 8 Agustus 2007 lalu. Peserta yang hadir dalam acara ini, tak lebih dari 40 orang. Kegiatan peningkatan mutu PTK-PNF di sana, masih dipandang sewajarnya. “Di Kabupaten Probolinggo, secara umum memang belum ada gebrakan yang menonjol,” demikian menurut pendapat Erman. Di sana, ia juga memaparkan beberapa hal yang tak jauh beda dengan paparannya di Kabupaten Pasuruan.  

Hingga senja turun, rombongan roadshow PTK-PNF masih melanjutkan perjalanannya menuju Situbondo. Acara Pembinaan Forum PTK-PNF Kabupaten Situbondo Tahun 2007, di Aula SKB Situbondo, Kabupaten Situbondo dibuka meriah oleh gelar pentas seni, dari para warga belajar SKB Situbondo. Dalam acara ini, hadir para pengurus dan anggota Forum PTK-PNF se-kabupaten Situbondo. Tak kurang dari 150 orang, memenuhi ruang Aula SKB Situbondo malam itu. Ada beberapa prestasi yang tercatat, antara lain adalah salah satu PAUD di Kabupaten Probolinggo menjadi wakil dari Provinsi Jawa Timur untuk program PAUD percontohan tahun 2007 ini. Prestasi lainnya, adalah kerja keras forum keaksaraan dalam mengentaskan buta aksara di Kabupaten Situbondo. Untuk sekitar 7.000 penduduk buta aksara, Kabupaten Situbondo punya 1.300 orang tutor keaksaraan untuk menjalankan program-programnya.   

Atas beberapa kegiatan, prestasi, dan program yang menonjol inilah, akhirnya mengantarkan Kabupaten Sitobondo memperoleh penghargaan dari pihak Direktorat PTK-PNF, berupa voucher senilai Rp20 juta. Dana ini kelak dialokasikan untuk pengembangan Forum Keaksaraan, Forum Kesetaraan, dan Taman Bacaan Masyarakat. Selain itu, dana ini juga digunakan untuk penyusunan model peningkatan mutu tenaga pendidik PAUD di Kabupaten Situbondo.    

Beralih ke Banyuwangi, acara kunjungan diawali dengan pertemuan Direktur PTK-PNF beserta rombongan roadshow PTK-PNF ke rumah Bupati Kabupaten Banyuwangi. Di sana, dipaparkan beberapa hal yang akan diupayakan untuk pengembangan tenaga pendidik dan kependidikan nonformal di Kabupaten Banyuwangi.

Ratna Ani Lestari, Bupati Kabupaten Banyuwangi menyatakan, “Prioritas program Kabupaten Banyuwangi memang masih pada pendidikan formal yaitu Wajib Belajar 9 tahun. Secara konkrit di Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, belum bisa mengangkat wacana dan program untuk merangsang peningkatan mutu para tutor dan tenaga pendidik nonformal. Memang belum ada ‘greget’nya.” 

Hari itu, Selasa, 31 Juli 2007 digelar Seminar Sehari Himpaudi dan Sosialisasi Forum Keaksaraan dan Kesetaraan se-Kabupaten Banyuwangi Tahun 2007. Acara ini dihadiri sekitar 200 orang peserta. Paparan dari Direktorat PTK-PNF mengarah pada rangsangan peningkatan mutu tenaga pendidik PAUD, para tutor, serta pamong belajar. 

Tepat jadwal makan siang, rombongan roadshow PTK-PNF melaju ke pelabuhan kapal ferry di Banyuwangi, untuk menyeberang ke Pulau Bali. Setibanya di kompleks kantor Bupati Jembrana, telah berkumpul di sana sekitar 150 orang para tutor keaksaraan, tutor kesetaraan, TLD, para penilik, dan tenaga pendidik PAUD se-Kabupaten Jembrana.

“Dari data terakhir tahun 2007 ini, tak sampai pada angka 1% persen jumlah pengangguran di sini,” ucap Drs. A. A. Putrayasa, M. Pd, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jembrana. Di samping itu, angka buta aksara di Jembarana pun tercatat  977 orang. Jumlah ini paling sedikit bila dibandingkan dengan 3 daerah lainnya di Jawa Timur, antara lain Pasuruan (7. 895 orang), Probolinggo (24.000 orang), Situbondo (7.000 orang). “Rendahnya angka pengangguran dan angka buta aksara di Kabupaten Jembrana, mengindikasikan penduduknya telah mengenyam pendidikan yang selayaknya. Namun strategi pendidikan nonformal tetap butuh untuk diwacanakan,” ungkap Erman di sela percakapannya dengan Putrayasa, sebelum masuk ke ruangan pertemuan.

Dari pertemuan ini dicatat pula, sebuah perkembangan terakhir dari kebijakan Pemda Kabupaten Jembrana yang pada tahun 2005 telah menonaktifkan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) di sana. “Untuk kelancaran peningkatan mutu tenaga pendidik dan kependidikan pendidikan nonformal di Kabupaten Jembrana, kami telah mengusulkan untuk diaktifkannya kembali SKB. Sebab SKB adalah jalur resmi dan kepanjangan tangan dari struktur Direktorat PTK-PNF. Usulan ini tinggal menjalani tahap revisi saja. Sudah masuk pada pertimbangan Bupati Jembrana,” papar Putrayasa.

Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah pendidikan nonformal yang berkantor di Jakarta.

Writer: Ayu N. Andini

~ oleh one1thousand100education pada Desember 12, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: