TBM Menggempur Buta Aksara

 “Ini pak, silahkan menikmati bacaan yang saya bawa ini. Tak perlu beli. Baca buku-buku saya ini, gratis kok,” ucap Kiswanti sebelum ia meramu jamu pesanan sambil menyodorkan beberapa buku kepada pembeli jamunya. Profesinya sebagai penjual jamu, tak menghalangi semangatnya. Ia adalah salah satu pengelola taman bacaan masyarakat tak ragu terjun tanpa pamrih menggempur buta aksara dan membangun minat baca di daerahnya.

Taman Bacaan Masyarakat (TBM) adalah salah satu program riil dari Direktorat Pembinaan Budaya Baca, Direktorat Jenderal Pendidikan Luas Sekolah (PLS), Depdiknas.  Taman Bacaan Masyarakat juga menjadi sarana pendukung yang cukup efektif dalam pemberantasan buta aksara. Ini dilakukan dengan memberikan layanan pendidikan nonformal bagi masyarakat.

 

Sejak tahun 1990-an, Taman Bacaan Masyarakat telah banyak didirikan. “Sampai kini, ada sekitar 5000 Taman Bacaan Masyarakat yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia”, tutur Ir. H. Zulkarnaen, Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat.

 Peningkatan Mutu Taman Bacaan Masyarakat

Melihat  jumlah sebanyak ini, perlu adanya pembinaan dan pengelolaan yang memadai. Kini mulai dibentuk kerjasama antar Direktorat Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Nonformal (PTK PNF) dan Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Depdiknas RI untuk tingkatkan mutu pengelolaan dan mutu pelayanan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Kegiatan Training Of Trainer (TOT) DIKLAT Teknis Taman Bacaan Masyarakat  yang dilaksanakan sejak tanggal 27 s/d 31 Mei 2007 lalu di Serang-Banten, mengundang  40 orang peserta diklat.

 

Mereka adalah para pengelola TBM terpilih yang datang dari seluruh Indonesia. Disebut sebagai peserta terpilih, karena Direktorat Jenderal PLS bersama dengan Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) telah menetapkan beberapa kriteria peserta (TOT) Diklat TBM. Yaitu berstatus sebagai pengelola TBM, berusia maksimal 45 tahun, serta punya pengalaman melatih atau membimbing pengelolaan TBM lain. Profesi mereka pun aneka ragam. Dari mulai penjual jamu, guru SD, pengelola Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), sampai pada profesi wartawan.

“Kuota 40 orang ini, memang datang dari 33 provinsi. Namun untuk beberapa daerah yang angka buta aksaranya cukup tinggi, kami buka kesempatan untuk dua orang peserta terpilih,” ungkap Sumanto M.Pd, Kepala subdit Tenaga Pendidik, Direktorat PTK-PNF selaku ketua panitia acara diklat.

Training of Trainer (TOT) Diklat Teknis TBM yang pertama kalinya diselenggarakan Direktorat  PTK-PNF ini,  diisi dengan materi-materi hasil rembug bersama antara Ditjen PLS dan Direktorat PTK-PNF. Diantaranya tentang beberapa kebijakan dari bidang Pengembangan Budaya Baca, hakekat TBM dan Keaksaraan, serta manajemen TBM termasuk di dalamnya tentang pengelolaan, monitoring, evaluasi dan pengembangan jasa layanan TBM.   

Para pematerinya datang dari berbagai kalangan.  Mulai dari Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Nonformal, Direktur Pendidikan Masyarakat, Kasubdit Budaya Baca, Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM), pihak pengelola Perpustakaan Diknas, dan beberapa pengelola TBM yang telah mendapatkan  penghargaan tingkat provinsi dan dinilai terbaik oleh FTBM. 

 

Setelah para peserta mengikuti Diklat Teknis Taman Bacaan Masyarakat ini, diharapkan nantinya meraka dapat menjadi trainer/pelatih untuk kebutuhan peningkatan  mutu pengelola dan pengelolaan TBM di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota. “Karena tidak mungkin kalau kami sendiri yang menjangkau semua daerah. Maka, dengan mencetak para trainer ini, kami harapkan TBM di daerah-daerah dapat ditingkatkan mutunya. Dan dengan sendirinya, program pemberantasan buta aksara bisa berjalan lebih lancar,” ucap Sumanto M.Pd.

 Taman Bacaan Masyarakat Berantas Buta Aksara

Membangun minat baca di negara ini masih perlu kerja keras. Pasalnya, Indonesia masih punya catatan target buta aksara yang musti dilunasi. Tahun 2000 lalu, angka buta aksara masih 15,4 juta orang. Lalu kini, masih ada 12,7 juta warga usia 15 tahun ke atas yang belum melek huruf. Pemerintah menargetkan pada tahun 2009 nanti angka buta huruf ini akan berkurang hingga sekitar 7,7 juta orang. Jumlah target ini tidak sedikit. Tak cuma dari pihak pemerintah yang giat menggempurnya. Tetapi juga dari lini yang paling bawah, yakni masyarakat. Keterlibatan mereka secara langsung adalah membangun minat baca masyarakat melalui kegiatan riil.

 

Seperti yang dilakukan Kiswanti, di Kampung Saja Lebakwangi, Kecamatan Pemagarsari, Parung-Bogor, Jawa Barat. Profesinya sebagai tukang jamu, tak pernah mengalahkan kekuatan hatinya untuk menularkan minat baca yang dimiliki dirinya kepada orang-orang lain yang ada di sekitarnya. “Tak sedikit tetangga-tetangga yang belum melek aksara bisa banyak terbantu oleh Taman Bacaan dari kami,” ungkap Kiswanti.

 

Istimewanya, Kiswanti yang lulusan sekolah dasar ini telah punya Taman Bacaan sejak tahun 1994. Taman Bacaannya dikenal dengan nama WARABAL (Warung Baca Lebakwangi). Kini koleksi bukunya telah lebih dari 2.000 eksemplar dan melampaui 700 judul buku. Ia adalah salah satu profil yang juga ikut terlibat sebagai pembicara dalam acara Training Of Trainer (TOT) DIKLAT  Teknis Taman Bacaan Masyarakat yang digelar di Hotel Mahadria, Serang-Banten, pada penghujung Mei 2007 lalu. 

           

Selain Kiswanti, ada Agus Munawar. Ia adalah pengelola Taman Bacaan Arjasari yang lebih terkenal dengan sebutan Dapur Buku di Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Inisiatif pribadi untuk menularkan minat baca telah mendorongnya untuk membuka taman bacaan di ruang dapur rumahnya yang berukuran 2×3 meter. Beruntung baginya, Dapur Buku yang ia kelola mendapat banyak perhatian dari masyarakat dan pemerintah daerah setempat. Lahan dan ruang bacanya menjadi makin luas sekarang. Koleksi bukunya lebih dari 3000 eksemplar. Dapur Buku juga telah menyabet penghargaan tingkat provinsi Jawa Barat, sebagai Taman Bacaan Masyarakat Berprestasi 2006.

           

Dapur Buku pun tak pernah sepi dari pengunjung yang kebanyakan adalah anak-anak usia sekolah. Hal ini juga ditunjang dengan kenyamanan ruang baca dan luasnya arena bermain di sana. “Aktifitas di Dapur Buku memang tak hanya baca buku. Di sini juga bias nonton video-video kartun yang mendidik. Selain itu, anak-anak dan siapa saja, bisa beraktifitas di halaman luarnya. Ada juga lapangan olahraga buku tangkis di sini,” ujar Agus Munawar yang berprofesi sebagai wartawan Tabloid Mitra Bisnis sejak 8 tahun lalu.             

           

Uniknya, ia punya program yang namanya Jemput Pembaca. Minimal seminggu sekali, ia dan beberapa koleksi bukunya menumpangi delman/andong berkeliling kampung. “Ke pasar, ke terminal, dan kemana saja, saya mengelilingkan buku-buku ini dan meminjamkannya kepada mereka yang ingin membaca dan belajar membaca,” ungkap Agus. Kini, ia juga sedang membina 2 buah TBM yang baru di buka di daerahnya.

           

Pertumbuhan TBM memang lebih banyak berasal dari inisiatif masyarakat. “Kami selalu salut pada usaha keras dan kemauan keras para pengelola TBM ini. Mereka seperti pejuang aksara bagi Indonesia,” ucap Zulkarnaen sambil berdecak kagum terhadap pengabdian tanpa pamrih dari para pengelola TBM ini.

           

Sesungguhnya TBM juga tak hanya tumbuh dari inisiatif masyarakat. TBM juga tumbuh dari kebutuhan masyarakat yang ada di sekitarnya. Seperti halnya di Kecamatan Menes, Provinsi Banten. Menurut penuturan H. Sofyan sebagai pengelolanya, “TBM Berkah ini berdiri bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang baru melek huruf. TBM ini juga didirikan seiring dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Berkah, tahun 2002.”

           

PKBM di Kecamatan Menes, menyelenggarakan program Kesetaraan (paket A, B, dan C), program Keaksaraan Fungsional, dan program Life Skill berupa kursus komputer dan kursus menjahit. Program-program ini juga menjaring sasaran mulai dari para penduduk yang buta huruf, sampai ke anak-anak dan pemuda pemudi yang putus sekolah. Dalam kurun waktu 4 tahun ini PKBM Berkah dan TBM Berkah sudah 3 kali berpindah tempat operasional. Kini mereka menempati wilayah  belakang Kewadanan. “Ruang-ruangnya sempit. Bahkan untuk TBM Berkah, kami hanya punya ruang sebesar 3×3 meter yang sekarang digunakan sebagai ruang baca sekaligus tempat menyimpan koleksi buku yang mencapai 1000 eksemplar,” ungkap H. Sofyan prihatin. Namun hal ini tidak jadi penghalang.  Aktifitas di sana masih terus berjalan, walaupun pengunjungnya tak sebanyak seperti waktu mereka menempati lokasi di gedung Kewadanan dahulu.

           

TBM Berkah, tumbuh untuk menunjang kebutuhan program Keaksaraan Fungsional di sana. Tahun ini, ada 42 kelompok yang jadi peserta Keaksaraan Fungsionalnya. “Memang agak banyak. Menurut data tahun 2006 lalu, dari sekitar 84.000 penduduk di Kecamatan Menes, masih ada 1700 orang yang masih belum melek huruf. Paling banyak ada di Desa Kananga, tepatnya dari Dusun Kadupayung,” tutur H. Sofyan yang menjalani hari-harinya sebagai guru di SD Purwaraja II.

           

Dukungan TBM Berkah dalam memberantas buta aksara, adalah melalui pemeliharaan para aksarawan. Buku-buku koleksinya pun lebih banyak tentang keterampilan hidup dan buku-buku bacaan yang mudah dimengerti oleh para aksarawan baru.

           

TBM yang tumbuh di setiap tempat, hendaknya memiliki koleksi buku yang sesuai dengan karakter desa/wilayah tempat TBM itu berdiri. Mengingat TBM tumbuh dari kebutuhan dan inisiatif masyarakat, maka diharapkan TBM dapat diterima dan dimanfaatkan semaksimal mungkin. 

           

“Memang, TBM hendaknya banyak didirikan di wilayah desa, wilayah-wilayah miskin perkotaan, dan di wilayah yang sulit untuk mengakses perpustakaan daerahnya. Target pemerintah hingga tahun 2015, di setiap desa akan punya TBM,” ujar Ridwan Arsyad, Kasubdit Budaya Baca, dari Dirjen Pendidikan Luar Sekolah.

 

Tulisan ini telah dimuat di sebuah majalah pendidikan nonformal yang berkantor di Jakarta.

 

Writer : Ayu N. Andini

 

~ oleh one1thousand100education pada Desember 12, 2007.

2 Tanggapan to “TBM Menggempur Buta Aksara”

  1. Damang teh?… tulisan ttg TBM/TBA memang menarik, masih banyak orang2 baik yang peduli dengan kondisi masyarakat sekitar. Kalau punya info tentang lembaga yang biasa ngasih bantuan sumnangan buku2 untuk taman bacaan boleh dong dibagi-bagi.

    nuhun sateuacana.

    BTW. theme blog chaoticsoul, hideung cape bacana :))

  2. Salam hangat,
    Wah ,seneng banget, bisa bantu mencerdaskan bangsa melalui TBM yang langsung bisa kita kelola sendiri…..sopasti….harus menarik …
    Bisa bantu gak, untuk info Ad-ART FTBM biar vlebih mantap kita mau ada rencana pembentukan….,Tq

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: