Trik Tiga Tahun Tuntaskan Buta Aksara

Niatan Depdiknas untuk berantas buta aksara di Indonesia tahun 2007 ini dijatuhkan dengan target 2,2 juta penduduk melek huruf dari sejumlah 12,2 jutaan orang yang masih buta aksara. Lewat setengah tahunnya, beberapa catatan penting mulai ditinjau.  Kendala dan hambatan yang dialami tak sedikit.

Para buta aksara ini tersebar di berbagai daerah se-Indonesia yang kondisi geografisnya tak mudah untuk ditembus. Disamping itu, dari sisi tenaga pendidiknya pun masih perlu banyak pengayaan kompetensi dan peningkatan kualifikasi. Tutor keaksaraan yang kini mencapai 120.000 orang, masih didominasi lulusan SMA.  Dukungan pemerintah daerah juga punya peranan strategis.

Anggaran bagi pemberantasan buta aksara melalui kesepakatan dan kerja sama Mendiknas Bambang Sudibyo dengan pemerintah daerah, jatuh 50:50 bagi Depdiknas dan bagi pemda yang bersangkutan. Pihak Direktorat Pendidikan Masyarakat pun melakukan beberapa trik demi mencapai target.

Seberapa jauh perkembangan pemberantasan buta aksara dalam 3 tahun terakhir ini, berikut kutipan wawancara langsung wartawati Pena Pendidikan, Ayu N. Andini dengan Direktur dari Direktorat Pendidikan Masyarakat, Dr.  Sujarwo S, M. Sc.  

Bagaimana perkembangan terakhir kondisi buta aksara di Indonesia?

Kondisinya sangat bagus, menurut proyeksi data dari Badan Pusat Statistik (BPS) sementara.  Kalau kita refleksi dari awal 2005, jumlah buta aksara mencapai 14,8 juta. Tahun  2006 itu 12,8 juta, dan proyeksi sementara BPS sampai pertengahan 2007 adalah 12, 2juta. Jumlah ini adalah hitungan sementara tahun ini. 

Tingkat keberhasilan apa yang diprioritaskan untuk program Pemberantasan Buta Aksara (PBA) dalam 3 tahun belakangan ini?

Untuk dua tahun sejak awal 2005,  kami menekankan pada pemberantasan buta aksara. Jadi, dalam kurun 2005-2006, prioritaskan untuk menurunkan jumlah buta aksara. Mulai 2007 ini kami mulai menggarap yang lanjutan.  

Kalau kilas balik ke tahun 1970, maka program apa yang hingga kini masih bagus untuk diterapkan dalam program PBA?

Yang masih bagus untuk diterapkan sekarang, yaitu Paket Belajar 1 s/d 100. Itu sebenarnya bisa diperbaiki, supaya lebih sesuai dengan kondisi sekarang. 

Artinya, hingga sekarang belum banyak dilakukan pengembangan model belajar?

Kalau model belajar, cukup banyak.  Utamanya adalah untuk tahap dasar belajar bagi para buta aksara. Jenis modul belajarnya disebut Modul 1, Modul 2, sampai dengan Modul 100. Ada sebutan lain untuk modul ini, yakni Paket A.  Sekarang bentuknya bukan Paket A lagi. Kini programnya disebut Pemberantasan Buta Aksara (PBA). Paket standar, namanya SKK. Standar Kompetensi Keaksaraan. Misalnya, SKK untuk Tingkat Dasar. Ukurannya adalah para warga Belajar bisa membaca dan menulis kalimat sederhana minimum 7 kata, dan mampu berhitung penjumlahan dan pengurangan sampai 100.  Tingkat Lanjutan, warga belajar harus sudah mampu membaca dan menulis dengan lancar dan kalimat sederhana minimum 10 kata dan bisa  berhitung penjumlahan, pengurangan, pembagian, dan perkalian sampai 1000. terakhir, adalah Tingkat Mandiri atau pelestarian. Pada tahap ini, para warga belajar sudah bisa meringkas, dan menulis sendiri cerita pendek yang terdiri dari 2 halaman.  

Bagaimana dengan tingkat kualifikasi para tutor keaksaran?

Tutor adalah seseorang yang dididik secara khusus. Kompetensinya pun memenuhi kompetensi tutor. Kualifikasinya memang masih didominasi tamatan SMA.  Tutor dan guru, berbeda. Guru muridnya anak-anak usia sekolah. Sedangkan tutor, muridnya mulai dari usia sekolah sampai dengan orang-orang dewasa.  Tutor kami cukup banyak. Ada 120.000 tenaga tutor yang kami biayai, untuk memberantas 1,2 juta buta huruf.  Sekarang bahkan kami sedang membidik  Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Kami akan mendirikan PKBM dan memberikan bimbingan teknis di sana. Minimum untuk 1 desa, targetnya 1 PKBM.   

Apakah para tutor juga dibekali pengetahuan tentang antropologi budaya daerah tempat dia bertugas?

Para tutor ini, memang direkrut dari warga daerah setempat. Kalau pun tidak diberikan pelajaran antropologi, sosiologi, andragogi, mungkin mereka sudah mengenal penduduk dan tradisi mereka.                                                                                                         

Apakah sampai sekarang masih ada kendala yang mengganggu proses pencapaian target pemberantasan buta aksara tahun 2009?

Kendala, masih ada.  Namun jalan keluar  dan dukungan berbagai pihak juga sudah kami raih. Termasuk dengan adanya MOU atau Member of Understanding. Kesepakatan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Kami optimis, angka target buta aksara tahun 2009 bisa dicapai. MOU itu mengatakan bahwa pembiayaan untuk PBA , terdiri dari 30% dari anggaran provinsi, 20% dari anggaran kabupaten. Tentu sekarang sudah cukup banyak daerah yang memberikan anggaran PBA.

Terbesar adalah Jawa Tengah, yaitu Rp 49 miliar untuk PBA 2007 ini. Jawa Tengah memang nomor 2 terbesar untuk angka buta aksaranya.   Sedangkan di Jawa Timur, APBD untuk PBA di Jatim, dananya mencapai Rp58 miliar, APBD 1 Rp5,8miliar, APBD 2 Rp9,9miliar, hingga total jumlah APBD untuk PBA Jatim hampir  Rp80 miliar. Pamekasan itu punya APBD Rp2,6miliar, lalu daerah Jember memberikan APBD sebesar Rp2,2 miliar untuk PBA. Bondowoso, tidak memberikan sebesar itu karena angka buta aksaranya sudah sangat sedikit. Program PBA nya sudah nyaris selesai di sana.  

Apa saja kendala sarana dan prasarana belajarnya?

Kendala ini memang ada di lapangan.  Tapi kami menjalankan sistem belajar fungsional. Fungsional, itu misalnya tutor mengajarkan benda yang sudah cukup dikenal oleh warga belajarnya yang kebanyakan berprofesi sebagai petani. Yakni, cangkul, sabit, beras, padi, dan lain-lain. Jadi jika tidak ada bahan pelajaran itu bukan masalah.

Karena sebenarnya pihak Direktorat Pendidikan Masyarakat sudah membagi bahan pelajaran, diutamakan untuk  10 provinsi dengan angka buta aksaran yang cukup tinggi. Antara lain, Jawa Timur, Jawa tengah, Papua, Sulawesi Selatan. Secara umum, 2007 ini semua provinsi sudah dibagikan bahan belajar. Ada buku-buku teks untuk belajar membaca, menulis dan berhitung.  

Apakah untuk pengadaan bahan belajarnya, pihak Depdiknas bekerjasama dengan penerbit?

Bukan bekerjasama. Sebenarnya, kami membebaskan penerbit unttk menerbitkan buku-buku keaksaraan. Tetapi kami juga tidak menjamin buku-buku itu nanti akan dibeli. Semuanya tergantung dengan kebutuhan tiap provinsi. Tentang standar buku paket belajar, dinilai oleh tim dari provinsi masing-masing. Misalnya, Sulawesi Selatan mau beli buku paket balajar yang mana pun, tergantung tim penilai yang ada di sana. Jadi, tidak ada acuan tetap.  

Apakah ketidaksamaan bahan belajar itu menjadi kendala?

Saya sudah baca beberapa buku. Penerbit-penerbit sudah menerbitkan buku yang isinya sesuai dengan SKK. Kualitas dan tingkat kesulitan tiap bahan belajar itu sama. Cuma diterbitkan oleh penerbit yang berbeda, itu saja. Kami sudah membagi habis bahan belajar itu. Tahun ini Depdiknas menganggarkan Rp29 miliar untuk pengadaan bahan ajar keaksaraan. Semestinya untuk bahan belajar itu tidak ada masalah lagi. Kami tandatangani jumlah anggaran untuk masing-masing propvinsi, lalu propinsi itu yang nanti akan membeli sendiri ke penerbit. Kami sudah sesuaikan antara jumlah buta aksara dengan jumlah anggaran. Makin besar angka buta aksara ya makin besar anggaran.  

Apakah ada kendala untuk kerja para tutornya? Misalnya, kendala transportasi?

 Semestinya tidak ada lagi kendala itu. Warga belajar juga hidup di lingkungan yang sama, tidak pergi kemana-mana, tidak berpindah-pindah. Tutornya pun mayoritas direkrut dari daerah itu. Jadi, sampai sekarang tidak ada keluhan masalah transportasi. 

 Apa kendala terberatnya?

Kendala terbesar adalah kondisi warga belajar. Kaitannya dengan usia. Karena mayoritas dari mereka berusia di atas 44 tahun. Faktor kemiskinan juga memberi pengaruh yang sangat besar. Masyarakat yang buta aksara ini lebih sibuk mencari nafkah, daripada memprioritaskan waktu belajarnya. Terakhir, penyebaran para buta aksara ini. Mereka yang buta aksara ini banyak yang tidak hidup mengelompok. Hingga untuk dikelompokkan jadi kelompok-kelompok kecil,  itu agak susah.   

Kesulitan geografis juga bukan menjadi kendala besar?

Masalah geografis itu artinya, di suatu pulau didapati kesulitan penduduk untuk peroleh layanan pendidikan. Akibatnya, angka buta aksara di daerah itu jadi tinggi. Tapi sekarang, kami punya kebijakan. Ini kebijakan tentang menjangkau yg tak terlayani. Ada 7 kategori yang diprioritaskan. Yaitu, pertama: daerah kepulauan, kedua: daerah transmigrasi, ketiga: daerah perbatasan, keempat: daerah-daerah yang terisolasi, kelima: masy nelayan-pesisir, keenam: masyarakat muslim tradisional dan adat terpencil, ketujuh: masyarakat nelayan.  

Apakah Depdiknas juga menjalin kerjasama lintas departemen untuk program PBA?

 Iya, kami dari Direktorat Pendidikan Masyarakat bekerja sama dengan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans), serta 86 perguruan tinggi negeri dan swasta se-Indonesia. Kalau di Jakarta, perguruan tinggi yang kerjasama dengan kami antara lain adalah Universitas Negeri Jakarta, Universitas Atmajaya, dan Universitas Mercu Buana. Dari berbagai perguruan tinggi ini, program PBA diluncurkan melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) masing-masing perguruan tinggi.  

Apakah kerjasama ini cukup efektif?

Kerjasama ini memang banyak sekali keuntungannya. Diantaranya, penurunan angka buta aksara bisa jadi lebih cepat prosesnya, ada juga kontibusi modal yang memperlancar kegiatan belajar Keaksaraan Fungsionalnya. Kekurangannya, hanya terkesan masih kurang serius pelaksanaannya. Misalnya, tutor-tutor yang direkrut dari DKP, kebanyakan masih agak kesulitan untuk bisa memotivasi warga belajar. Tapi, pada akhirnya, manfaatnya memang terasa lebih banyak. 

Apa yg membuat phak Direktorat Pendidikan Masyarakat optimis bisa berantas buta aksara dengan target 2,2 juta?

Yang utama, yaitu semangatnya. Saya banyak memotivasi para bupati, untuk menggerakkan semua komponen masyarakat membantu kelancaran program PBA. Banyak bupati yang sangat responsif. Indikatornya bisa tampak dari besar anggaran daerah untuk program PBA.  Tim kami bersama duta buta aksara, baru saja pulang dari Sumenep, Sampang dan Batu. Laporan kegiatannya bagus sekali. Artinya, komitmen pemda di sana juga sangat mendukung program PBA ini. Mereka menargetkan, tahun depan akan berantas habis buta aksara di daerahnya masing-masing.  

Di Jawa Barat, ada 216 desa di Kabupaten Kuningan yang sekarang sudah tuntas buta aksara. Di Jawa Timur, ada Kabupaten Bondowoso yang diharapkan tuntas buta aksaranya tahun 2007 ini. Begitu pula Kabupaten Jember. Bupati Jember punya komitmen tinggi. Sekarang, di Jember masih tersisa 69.000 buta aksaranya, turun jauh dari angka 130.000an.  Tercatat, beberapa daerah yang dianggap sukses tuntaskan buta aksara itu diantaranya, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Jember, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Subang, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Gowa, dan beberapa kabupaten di Nusa Tenggara Timur.  

Apa saja penghargaan yang sudah diberikan pihak Direktorat Pendidikan Masyarakat terhadap jasa para tutor atas kesuksesan ini?

Kami selalu adakan lomba tutor teladan setiap tahun. Ada hadiah berupa uang untuk mereka. Tahun 2007 ini,sudah  ada kenaikan honor bulanan untuk para tutor.  Yang dulunya hanya Rp140.000,- perbulan, sekarang menjadi Rp300.000,-. Mudah-mudahan mereka termotivasi.  

Bagaimana keberpihakan dari Mendiknas Bambang Sudibyo terhadap pemberantasan buta aksara di Indonesia?

Pada pidato beliau tanggal 17 Agustus 2007 lalu, disampaikan 4 program prioritas. Satu diantaranya adalah buta aksara. Sepanjang 3 tahun berjalan ini, komitmen Pak Bambang Sudibyo terhadap masalah buta aksara, cukup tinggi. MOU dengan pemda juga diprioritaskan. Jumlah total anggaran untuk pemberantasan buta aksara tahun 2007 ini juga makin naik.  Dari jumlah Rp80miliar (2005), kini bertambah menjadi Rp400miliar lebih.   

Writer: Ayu N. Andini

~ oleh one1thousand100education pada Desember 12, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: