Bicara Lewat Kemampuan dan Keterampilan

Panti sosial “Melati” memang tak mampu banyak bicara lewat kata-kata. Para anak asuhnya lebih eksis lewat kemampuan, keterampilan, dan karya-karyanya. Kini ada 85 anak yang dilayani dan dibimbing agar menjadi berpotensi dan mampu hidup mandiri.

Ketika pertama kali memasuki pekarangannya, ada banyak remaja yang lalu lalang di depan area panti “Melati”. Wajah-wajah ceria ini sibuk saling bercerita. Tapi tak ada suara yang terdengar dalam percakapan itu. Hanya bahasa isyarat yang mereka pakai. Mereka yang sedang bercakap-cakap ini adalah sebagian anak asuh yang ditampung dan dilayani di Panti Sosial Bina Rungu Wicara (PSBRW) Melati.

Gedung panti Melati terletak daerah berudara bersih di timur Jakarta. Persisnya, di Jl. Gebangsari No. 38, Kelurahan Bambu Apus, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Ada beberapa lokal gedung yang terpisah di kiri dan kanannya. Termasuk diantaranya, gedung asrama putra dan putri, ruang-ruang belajar, ruang divisi produksi, dan gedung kantor operasional panti.

Jum’at pagi itu, anak-anak penghuni panti, nampak masih berpakaian olahraga. Ada juga masih sibuk main basket di lapangan olahraga di bagian belakang gedung. “Pagi ini, memang ada kegiatan senam. Setelah itu mereka juga bisa olahraga apa saja,“ ucap Ignatias Riwuwuh yang lebih akrab dipanggil Bu Igna. Ia adalah satu diantara tim kerja PSBRW Melati yang kini menjabat sebagai Kepala Bagian Tata Usaha PSBRW Melati.

Dari penuturannya, sejak panti ini diresmikan sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Departemen Sosial pada tahun 2001 hingga sekarang, panti selalu berupaya untuk terus menerus memberikan layanan maksimal bagi para penyandang cacat tuna rungu wicara yang ditampung di sana.

PSBRW Melati adalah lembaga pemerintah yang memberikan pelayanan rehabilitasi sosial bagi penyandang cacat rungu wicara (bisu tuli). Panti ini mempunyai tugas pokok memberikan pelayanan dan bimbingan rehabilitasi sosial yang meliputi pembinaan fisik, bimbingan mental, sosial, pelatihan ketrampilan, dan pembinaan lanjut bagi penyandang cacat rungu wicara agar mereka dapat memiliki keterampilan kerja sebagai modal usaha dan hidup mandiri setelah lepas dari panti.

Jangkauan Panti Melati

Tahun 2007 ini, Panti Melati menampung sekitar 85 anak penyandang cacat rungu wicara usia 14 tahun sampai dengan 29 tahun. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu. Anak-anak kurang mampu ini datang dari berbagai daerah.

“Wilayah jangkauan kami disebut regional. Regional kami meliputi daerah-daerah di wilayah Indonesia bagian barat,” papar Bu Igna. Daerah yang dimaksud adalah pulau Jawa, Sumatera, dan Pulau Bali. Namun sekarang, jangkauannya mulai meluas sampai ke Pulau Kalimantan, Provinsi Jambi, bahkan sampai ke Sumatera Utara.

 

Mengenai luasnya jangkauan kerja ini, tentu didukung usaha sosialisasi program yang juga gencar. Menurut penuturan Bu Igna, pihak Panti Melati menyebarluaskan informasi ke daerah-daerah walaupun hanya lewat secarik surat. “Cara lainnya yang kami lakukan yaitu dengan penyebarluasan leaflet ke berbagai kantor Dinas Sosial dan ke Sekolah Luar Biasa di daerah-daerah,“ ujar Bu Igna. Tanpa menyebutkan jumlahnya, ia mengakuinya, hanya sedikit dana yang dialokasikan untuk kunjungan langsung dan sosialisasi ke daerah-daerah.

Para pengurus dari Panti Melati hanya mendatangi langsung dengan memilah daerah yang tergolong sebagai kantong-kantong layanan. Maksudnya adalah daerah yang jumlah Sekolah Luar Biasanya cukup banyak. Agustus 2007 lalu, mereka berangkat dan menjalankan kegiatan sosialisasi program ke Bandung karena daerah Jawa Barat termasuk daerah kantong layanan. “Tanggapannya cukup bagus.Yang hadir waktu itu cukup banyak. Mereka adalah para kepala sekolah, guru, dan orang tua murid, dari 10 Sekolah Luar Biasa di wilayah Bandung dan sekitarnya,” papar Bu Igna.

 

Sedangkan untuk daerah Jambi, Drs Hartono, S. AP, Kepala Bagian Rehabilitasi Sosial PSBRW Melati, memaparkan bahwa mereka bekerja sama dengan pihak pemerintah daerah dan dinas sosial di Jambi. “Melalui bantuan dana dekonsentrasi dari pusat, Provinsi Jambi mampu mengelolanya menjadi beberapa kegiatan pendataan anak-anak tuna rungu wicara, menyeleksi para calon penerima layanan panti kami, dan mengirim mereka yang lolos seleksi itu, langsung ke Jakarta,“ papar Hartono. Hingga kini, telah ada 25 anak asal Jambi yang masih menjadi penerima layanan di Panti Melati.

Menurut Hartono, yang masih menjadi hambatan pelayanan terhadap penyandang cacat hingga kini adalah masalah pola pikir dari keluarga yang anggota keluarga menyandang cacat. “Di lapangan, masih kami temukan kasus keluarga yang masih menganggap penyandang cacat menjadi aib bagi keluarganya. Hingga mereka masih menyembunyikan anggota keluar yang cacat ini. Malah sampai-sampai mereka juga tak boleh sekolah. Ini harus diubah,“ ucap Hartono prihatin.

 

Berdasarkan kapasitas daya tampung, Panti Melati mampu menampung sekitar 100 orang. “Tahun 2007 ini, kami juga melayani 15 orang lanjut usia yang berdomisili di wilayah sekitar panti ini. Sisanya adalah anak-anak tuna rungu wicara. Tahun 2008 kami targetkan, jumlah anak penyandang cacat tuna rungu wicara yang kami layani disini menjadi 100 orang,“ ungkap Bu Igna.

Bagaikan Pendidikan Nonformal

Seluruh penyandang tuna rungu wicara di Panti Melati, disebut sebagai klien. Dalam perkembangannya, sekarang menurut Departemen Sosial, istilah itu telah berubah menjadi penerima manfaat. “Tapi sebutan penerima manfaat, sangat jarang kami gunakan. Kami lebih sering menyebut mereka, klien,“ ungkap Hartono.

Klien di Panti Melati terbagi dalam 3 kelompok besar. Kelas A, adalah mereka yang pernah mengenyam pendidikan di SLB C (pendidikan lanjutan pertama untuk penyandang cacat). Kelas B, untuk mereka yang pernah mengenyam pendidikan di SLB B (pendidikan tingkat dasar). Sedangkan Kelas C, diberikan untuk mereka yang sama sekali belum pernah mengenyam pendidikan.

“Kondisi mereka kami sebut sebagai kondisi yang minim bahasa. Kondisi ini akan sangat tampak pada anak-anak yang masuk ke Kelas C. Mereka bisa melihat benda-benda, namun pemahaman mereka sangat minim,“ tutur Hartono.

Panti Melati, menyediakan layanan up grading atau peningkatan kemampuan berbahasa bagi mereka yang masuk ke Kelas C. “Kami berikan layanan khusus selama 6 bulan, agar mereka bisa berkomunikasi dan mengerti tentang apa pun yang disampaikan dan diberikan dari panti ini untuk mereka. Agar ilmu yang diberikan disini bisa terserap dengan baik,“ ujar Bu Igna.

Ada beberapa program bimbingan yang diselenggarakan di Panti Melati, yaitu bimbingan fisik dan mental, bimbingan sosial, dan bimbingan keterampilan. Tiap-tiap program bimbingan, terbagi dalam beberapa program turunannya. Untuk bimbingan fisik dan mental, program yang melingkupinya antara lain, bimbingan agama, bimbingan budi pekerti, bimbingan Pancasila, bimbingan olahraga, bimbingan bina wicara (speech therapy), dan bimbingan bahasa isyarat.

Untuk bimbingan sosial, dimasukkan kedalamnya adalah program kegiatan pramuka, dinamika kelompok, kesenian, kegiatan rekreasi, kegiatan kerja bhakti, dan kegiatan koperasi. Sedangkan, untuk bimbingan keterampilan, ada 8 jenis pendidikan keterampilan yang diselenggarakan di Panti Melati, yaitu keterampilan menjahit bagi putra, keterampilan menjahit putri, salon/tata rias kecantikan, kerajinan tangan, komputer, tata boga, las listrik, dan pertukangan kayu.

“Sesungguhnya, program bimbingan keterampilan disini, menjadi program pendidikan yang ditekankan. Maksudnya, kami lebih mengutamakan memberikan pendidikan keterampilan kepada para klien kami di sini,“ ujar Hartono.

Ia juga menyatakan bahwa program pendidikan dan bimbingan yang diselenggarakan di PSBRW Melati, mirip dengan yang ada di pendidikan nonformal. Kemiripan yang dimiliki ini, lebih kepada tujuan utama pemberian materi bimbingan keterampilan. “Idealnya, kami berharap agar nantinya mereka memiliki pengetahuan keterampilan, mampu berkarya, dan mampu menghidupi dirinya sendiri secara mandiri,“ tutur Hartono.

Mengenai pola pendidikan yang terselenggara di sana, semuanya juga diatur berdasarkan standar-standar khusus. Standar kurikulum dan standar pelayanan yang diberikan di sana, menggunakan standar yang dibuat oleh Departemen Sosial RI. “Kami hanya menjalankan sebaik-baiknya, semua standar yang termaktub dalam buku pendoman standar kurikulum dan pelayanan ini,“ ucapnya sambil memperlihatkan beberapa buku pedoman kepada tim liputan dari Info Societa.

Semua program bimbingan sosial dan keterampilan, mayoritas dilaksanakan setiap hari. “Kami berikan bimbingan sosial sejak pukul delapan pagi sampai pukul 12 siang. Setelahnya, diteruskan dengan pendidikan keterampilan sampai dengan pukul 3 sore,” ucap Semuel DHT, salah satu pembimbing di sana.

Untuk mereka yang telah usai mengenyam program pendidikan di PSBRW Melati selama 3 tahun, disediakan pula program Instalasi Produksi (IP). Program ini di bawah tanggung jawab Divisi Produksi. Dalam program ini, para klien yang sedang dalam masa menunggu panggilan magang kerja, diikutsertakan semacam program pemantapan materi. Dalam instalasi produksi, mereka dibebaskan untuk berkarya dan memproduksi barang-barang dari jenis pendidikan keterampilan yang telah mereka kuasai. Selama mereka mengikuti program IP, nama-nama mereka masih terdaftar sebagai para penerima layanan dari PSBRW Melati.

“Program IP adalah gerbang menuju tegak dan mandiri. Maksud saya, itu semboyan program agar mereka jangan merasa minder atau tidak percaya diri ketika sudah sampai saatnya mereka terjun dan hidup di tengah masyarakat,“ ungkap Hartono.

Ia menuturkan bahwa program keterampilan las listrik termasuk program unggulan di sana. “Produk-produk buatan mereka ini, jarang sekali ada stock nya. Kebanyakan dibuat berdasarkan pesanan,“ ujarnya. Ternyata hasil karya anak-anak asuhnya di Panti Melati, cukup laku keras.

Selain produknya laku keras, PSBRW Melati juga mampu menyalurkan para lulusannya ke berbagai perusahaan. Selain menyalurkan mereka sebagai tenaga kerja, pada anak asuhnya juga diikutkan dalam program magang kerja di luar panti. Terdata, setiap tahunnya ada sekitar 10 orang lulusannya disalurkan ke perusahaan-perusaan sebagai tenaga kerja. Sedangkan untuk kesempatan magang kerja, ada 6 perusahaan yang terlibat sebagai penerima tenaga magang dari Panti Melati.

Selain itu, di panti ini juga disalurkan program bantuan modal untuk Kelompok Usaha Bersama (KUB). Tahun ini, Panti melati memberikan bantuan modal kepada 10 kliennya. Masing-masing dari mereka berhak menerima bantuan modal sebesar Rp 5 juta,- “Kami memberikan dalam bentuk perlengkapan penunjang kegiatan produksi mereka,“ ujar Bu Igna.

Dukungan kelancaran penyelenggaraan program bimbingan keterampilan di sana, juga mendapat dukungan dari lembaga internasional. “Dari riwayatnya, panti ini telah menerima bantuan dari JICA. Japan International Cooperation Agency. Mereka memberi bantuan dengan mengirimkan instruktur-instrukturnya ke sini,“ kenang Bu Igna.

Menurut data dari PSBRW Melati, mereka telah kedatangan instruktur dari negeri sakura itu pada tahun 2003 s/d 2005. Ada dua orang instruktur yang datang ke sana, atas bantuan dari JICA. Sebuah organisasi internasional yang berdiri independent dan banyak bergerak di bidang ekonomi dan layanan sosial untuk negara-negara berkembang.

Mereka mengajarkan keterampilan menjahit dan pertukangan kayu. “Mereka langsung memberikan bimbingan keterampilan di dalam kelas. Sekaligus berhadapan setiap hari dengan para klien kami di sini,“ ujar Hartono. Karena waktunya hanya 3 tahun saja, maka para pembimbing di panti diharapkan harus lebih banyak menyerap ilmu dari para instruktur dari Jepang.

Selain bantuan tenaga instruktur, PSBRW Melati juga menerima bantuan dari masyarakat Jepang. “Karena pada tahun 2004 lalu kami banyak menerima kunjungan dari para guru dan mahasiswa dari Jepang, kami menerima banyak informasi. Salah satunya, pengajuan bantuan kepada masyarakat Jepang,“ ungkap Bu Igna. Bantuan itu berupa berbagai peralatan dan perkakas sebagai sarana belajar untuk bimbingan keterampilan yang ada di sana. “Ada 5 unit komputer dan printer nya, mesin jahit, alat keterampilan las listrik, dan peralatan pertukangan kayu,“ paparnya.

Berjalannya segala macam program dan operasional PSBWR Melati juga tak pernah lepas dari dukungan aliran dana APBN setiap tahunnya. “Tahun 2007 ini, panti ini menerima anggaran sebesar Rp 3,8 miliar. Ini sudah termasuk untuk dana gaji pegawai di sini,“ ungkap Bu Igna mewakili jabatan bendahara yang saat itu sedang bertugas di luar panti.

Kemajuan yang ada di PSBRW Melati, juga berkat dukungan 54 orang pegawai operasional termasuk didalamnya 30 tenaga kerja honorer siap berjibaku melayani seluruh klien di sana. “Menangani mereka yang berkebutuhan khusus sangat membutuhkan kerja sosial yang siap 24 jam dengan hati yang tulus,” ujar Hartono yang telah bertugas di PSBRW Melati sejak tahun 1995 hingga sekarang.

Ketulusan hati para pembimbing dan staf operasional yang telah ditebarkan kepada para klien di sana, tak percuma. Beberapa prestasi terukir atas nama PSBRW Melati. Hartono menuturkan, bahwa ada 4 anak asuh dari PSBRW Melati yang mewakili kontingen DKI Jakarta dalam ajang PORCANAS 2005. “November 2007 belum lama ini, juga ada sekitar 8 orang dari sini ikut jadi peserta Jambore Luar Biasa Tingkat Nasional,“ ucapnya turut bangga.

Para anak tuna rungu wicara PSBRW Melati ini juga mampu mempersembahkan Nyanyian Isyarat kepada semua kalangan. Pentas Nyanyian Isyarat ini telah disaksikan beberapa pejabat negara. Dari mulai pejabat pemda, menteri negara, sampai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Terakhir, mereka pentas di acara peringatan Hari Penyandang Cacat Internasional tanggal 3 Desember lalu. Mereka menyanyi dengan iringan musik dan panduan aba-aba isyarat. Memang tak banyak suara yang terdengar dari mereka, tapi sesungguhnya hati mereka telah menyanyikan banyak lagu di depan semua orang.

Tulisan ini telah dimuat dalam sebuah majalah terbitan Departemen Sosial RI.

Writer: Ayu N. Andini

~ oleh one1thousand100education pada Januari 25, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: